Warta

Bangkitnya Kelas Menengah Muslim Redam Ekstremisme

Rabu, 11 November 2009 | 23:23 WIB

Washington, NU Online
Runtuhnya menara WTC pada 11 September 2002 menjadi momen yang sangat merugikan citra Islam. Setelah kejadian itu, dunia Barat lebih senang melihat Islam sebagai gerakan ekstrem yang menyuburkan radikalisme. Kewirausahaan Muslim, bisnis Islam, keikutsertaan dunia Islam dalam perekonomian dunia, tak pernah dipandang serius.

Menurut Guru Besar Politik Internasional di Universitas Tufts, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), Nasr Ahmed menilai bahwa peran serta Muslim dalam perekonomian dunia masih dianggap sebagai teka-teki.<>

"Padahal, kebangkitan kelas menengah Muslim terjadi di banyak negara," ujar Nasr dalam siaran televisi Aljazeera.

Kelas menengah Muslim ini, menjanjikan kesejahteraan bagi dunia Islam dan diyakininya bisa meredam pandangan yang mengaitkan Islam dengan ekstremisme. Dalam definisi dia, kelas menengah adalah lapisan masyarakat yang memiliki peran dalam menggerakkan roda perekonomian, perubahan sosial, juga memberi kontribusi besar dalam kehidupan bernegara.

Nasr juga mengungkapkan, saat ini mulai bangkit para entrepreneur Muslim di berbagai negara seperti Malaysia, Indonesia, Turki, juga Dubai.

"Mereka bukanlah pengusaha yang kaya karena minyak. Para kelas menengah ini, tumbuh dengan menjalankan bisnis di berbagai sektor," papar Nasr..

Turki, dinilainya, sebagai salah satu model yang kebangkitan kelas menengah Muslimnya terlihat signifikan. Kelas menengah Muslim di Turki, kata penulis buku 'Forces of Fortune -the Rise of the New Muslim Middle Class and What It Will Mean for Our World' itu sangat dekat dengan pasar dan berhubungan baik dengan bisnis dunia. (min)


Terkait