Pagi itu kabut masih menggantung rendah di atas sawah ketika aku bertemu Darso di pematang.
Ia sudah tua sekali. Rambutnya putih, kulit wajahnya keriput seperti tanah sawah yang lama tidak kena hujan. Tetapi matanya masih tajam. Mata seorang lelaki yang terlalu lama membaca koran dan terlalu sedikit mempercayai judul-judulnya.
“Sampean pernah berpikir,” katanya tanpa salam, “kalau malam itu para jenderal pergi salat Subuh ke masjid, sejarah Indonesia mungkin lain?”
Aku tertawa.
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
“Pagi-pagi sudah mengganti sejarah?”
“Sejarah memang sering diganti orang yang bangun kesiangan.”
Aku tidak tahu apakah itu lelucon atau kesimpulan sejarah.
Darso menunjuk ke arah masjid di ujung kampung.
“Coba bayangkan. Jam empat pagi. Para jenderal keluar rumah, pakai sarung dan peci. Pasukan datang. Rumah kosong.”
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
“Lalu?”
“Ya bingung.”
“Mungkin dicari.”
“Dicari.”
“Ketemu di jalan?”
“Bisa.”
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
“Lalu ditembak?”
Darso menggeleng.
“Tidak mudah menembak orang yang sedang berjalan menuju masjid.”
Ia tersenyum.
“Apalagi kalau yang membawa senapan juga pernah diajari ibunya mengaji.”
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
Aku memandangnya.
“Sampean yakin?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa ngomong begitu?”
“Karena hidup juga penuh kemungkinan.”
Itulah Darso. Kalau orang lain berbicara tentang sejarah, ia bicara tentang kemungkinan. Kalau orang lain bicara tentang kebenaran, ia bertanya: kebenaran siapa? Dan kalau orang lain bicara tentang masa lalu, ia biasanya diam.
*
Dulu, nama Darso tidak pernah disebut dengan suara pelan. Ia adalah anak lurah. Bapaknya orang PNI. Nasionalis. Abangan. Memiliki sawah yang cukup luas.
Tetapi Darso muda justru menjadi kader Pemuda Rakyat. Ia rajin mengikuti kursus. Rajin membaca koran. Pandai berpidato. Di lapangan desa, suaranya bisa terdengar sampai ke warung kelontong.
“Ganyang tujuh setan desa!”
Orang-orang tahu siapa saja yang dimaksud. Tuan tanah. Lintah darat. Kapitalis birokrat. Dan berbagai golongan lain yang waktu itu mudah sekali dijadikan setan.
Ironisnya, salah satu nama yang masuk dalam daftar kebenciannya adalah bapaknya sendiri.
“Bapakmu juga setan desa?” aku pernah bertanya.
Darso tertawa.
“Waktu muda saya tidak tahu kalau bapak itu tetap bapak meskipun berbeda ideologi.”
Baca Juga
Cerpen: Kau Sama di Hadapan-Nya
“Sekarang?”
“Sekarang saya tahu.”
“Setelah tua?”
“Setelah punya tanah.”
Aku tertawa. Darso tidak. Ia menunjuk sawah di depan kami.
Baca Juga
Cerpen: Peci Miring
“Itu tanah bapak saya.”
“Yang dulu mau diganyang?”
“Ya.”
“Sekarang punya siapa?”
Ia tersenyum.
“Punya saya.”
Begitulah hidup. Kadang ia mempunyai cara yang lebih halus daripada polisi untuk mempermalukan seseorang.
*
Setelah Oktober 1965, desa kami berubah. Orang-orang yang dahulu berani mendadak tidak berani. Orang-orang yang dahulu takut mendadak menjadi berani. Beberapa pemuda ditangkap. Beberapa dibawa ke markas. Beberapa pulang. Beberapa tidak.
Darso pernah dibawa bersama seorang kawannya. Mereka pulang dalam keadaan babak belur. Kawannya tidak bertahan lama. Darso bertahan. Orang-orang kemudian berkata ia kebal.
Baca Juga
Danarto Pentashih Cerpen Pertama Gus Mus
“Darso sakti.”
“Darso tahan pukul.”
“Darso punya ilmu.”
Cerita seperti itu tumbuh lebih cepat daripada rumput liar.
Darso selalu membantah.
“Tidak ada orang kebal.”
“Lalu kenapa sampeyan masih hidup?”
“Karena belum mati.”
Jawaban yang sederhana. Tetapi justru jawaban semacam itulah yang paling sulit dibantah.
*
Bertahun-tahun kemudian, Darso menjadi santri. Orang-orang heran. Anak Pemuda Rakyat menjadi santri. Ia mengaji. Ia ikut pengajian. Ia mulai rajin ke masjid. Bahkan kadang menjadi orang yang paling awal datang ketika azan Subuh terdengar.
Aku pernah bertanya: “Kenapa pindah haluan?”
Ia menjawab: “Tidak pindah.”
“Lho?”
“Saya cuma pulang.”
Aku tidak mengerti.
“Pulang ke mana?”
Darso menunjuk masjid. “Ke tempat yang dulu tidak pernah saya pikirkan.”
*
Anehnya, setelah menjadi santri, ia tetap menjadi orang yang sangat politik. Ia mencintai Republik. Dan sekarang ia marah kepada korupsi. “Negeri ini perlu revolusi,” katanya.
“Revolusi lagi?”
“Kenapa?”
“Sampean kan sudah pernah.”
“Yang dulu belum selesai.”
“Kalau yang sekarang bagaimana?”
“Jangan pakai senjata.”
“Pakai apa?”
“Pakai malu.”
Ia tertawa.
“Masalahnya,” katanya, “banyak orang sudah tidak punya.”
*
Aku mengenalnya sebagai orang yang keras kepala. Tetapi ada satu hal yang membuatku selalu berhati-hati terhadapnya. Ia tidak pernah menyebut orang-orang yang dulu membawanya ke markas sebagai setan. Tidak pernah.
Padahal ia tahu siapa mereka. Ia tahu nama mereka. Ia tahu rumah mereka. Ia tahu siapa yang pernah memukulnya. Aku pernah bertanya:
“Sampean tidak dendam?”
Darso lama sekali diam.
“Dulu dendam.”
“Sekarang?”
“Sudah tua.”
“Karena sudah lupa?”
“Bukan.”
“Karena sudah memaafkan?”
Ia menatapku.
“Belum tentu.”
Lalu ia tersenyum.
“Cuma capek.”
*
Suatu sore aku mendengar cerita yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Cerita itu datang dari seorang lelaki tua bernama Kasan. Kasan dulu dikenal sebagai pemuda masjid.
Ayahnya seorang petani kecil. Pada masa itu ia aktif di kelompok pemuda Islam. Ia pernah bentrok dengan anak-anak Pemuda Rakyat. Namanya bahkan pernah disebut dalam daftar orang yang harus dicari.
Setelah peristiwa 1965, Kasan bersembunyi di rumah pamannya. Tetapi tentara dan pemuda-pemuda bersenjata akhirnya datang. Mereka mencari Kasan. Rumah digeledah.
Kasan tidak ada.
Mereka lalu bertanya kepada Darso. “Di mana Kasan?”
Darso diam.
“Dia orang masjid.”
Darso tetap diam.
“Dia musuh kita.”
Darso masih diam.
Seseorang menampar meja.
“Kalau tahu, bilang!”
Darso menunjuk ke arah kebun.
“Ke sana.”
Orang-orang berlari. Mereka mencari Kasan di kebun. Tidak menemukan siapa-siapa. Karena Kasan sebenarnya bersembunyi di dalam lumbung padi milik keluarga Darso. Darso sendiri yang menyembunyikannya. Malam itu Kasan berhasil melarikan diri.
*
Aku mendatangi Darso.
“Benarkah?”
Ia sedang membersihkan kacamatanya.
“Benar apa?”
“Sampean menyembunyikan Kasan?”
Tangannya berhenti.
Ia tidak bertanya dari mana aku tahu.
“Siapa yang cerita?”
“Kasan.”
Darso tersenyum tipis.
“Orang tua kalau sudah mau mati memang suka membuka gudang.”
“Kenapa sampean menyelamatkannya?”
Darso memasang kacamatanya. “Karena dia manusia.”
“Bukan karena kasihan?”
“Kasihan juga.”
“Bukan karena dulu teman?”
“Bukan.”
“Bukan karena sama-sama orang desa?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Darso menatap masjid.
“Karena waktu itu saya sudah tahu satu hal.”
“Apa?”
“Orang yang kita benci bisa saja mati besok. Tetapi rasa bersalah bisa hidup lebih lama daripada kita.”
Aku diam.
Darso melanjutkan:
“Dulu saya berteriak supaya orang lain dibenci. Saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.”
*
Kasan kini sudah sangat tua. Darso juga. Keduanya masih hidup. Yang satu menjadi santri sejak muda. Yang satu menjadi santri setelah dipukuli sejarah. Mereka masih sering bertemu. Kadang di masjid. Kadang di warung.
Kadang di pematang.
Tidak pernah membicarakan siapa yang menang. Sebab setelah puluhan tahun, mereka tahu tidak ada yang menang. Yang kalah adalah orang-orang yang mati. Yang kalah adalah keluarga yang retak.
Yang kalah adalah anak-anak yang tumbuh dengan cerita bahwa pamannya adalah komunis, bahwa tetangganya adalah pembunuh, bahwa sepupunya adalah pengkhianat.
Sedangkan yang masih hidup harus membawa semua itu sampai tua.
*
Pagi berikutnya aku kembali bertemu Darso di pematang.
Azan Subuh baru saja selesai. Ia berdiri menghadap masjid.
“Jadi,” kataku, “kalau malam itu para jenderal benar-benar ke masjid, apakah sejarah akan berubah?”
Darso tersenyum.
“Tidak tahu.”
“Sampean tadi bilang mungkin.”
“Orang tua boleh berubah pikiran.”
“Kalau begitu, apa yang paling penting dari cerita itu?”
Ia memandang jalan menuju masjid.
“Bukan apakah para jenderal pergi ke masjid.”
“Lalu?”
“Siapa yang bersedia menahan tangannya ketika bertemu orang yang dibencinya.”
Aku terdiam. Darso melangkah pelan.
Tiba-tiba ia berhenti. “Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Azan itu bukan hanya panggilan untuk datang ke masjid.”
“Lalu?”
“Panggilan supaya manusia berhenti sebentar.”
Ia tersenyum.
“Berhenti memukul.”
“Berhenti membenci.”
“Berhenti merasa paling benar.”
Ia melanjutkan langkah. Aku mengikutinya. Di belakang kami matahari mulai muncul dari balik bukit.
Sawah-sawah menguning. Burung-burung kecil berpindah dari batang padi ke batang padi. Tidak ada tentara. Tidak ada senapan. Tidak ada rapat politik.
Hanya dua orang tua berjalan menuju masjid. Satu pernah menjadi Pemuda Rakyat. Satu pernah menjadi pemuda masjid.
Dan di antara keduanya, ada sebuah rahasia yang baru kuketahui setelah puluhan tahun:
Pada suatu malam ketika semua orang sibuk menentukan siapa yang harus dibenci, seorang anak muda yang dianggap musuh justru diselamatkan oleh orang yang kelak juga menjadi korban.
Mungkin itulah sebabnya Darso sampai sekarang tidak suka membicarakan siapa yang menang. Sebab ia tahu persis: Pada zaman ketika manusia sibuk memilih pihak, Tuhan ternyata masih memilih manusia.
Ajibarang, 30 September 2026
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja, nama pena dari Trisnatun, M.Pd. Pegiat literasi ini lahir di Banyumas 1972 dan telah aktif menulis sejak SMA.Saat ini bertugas sebagai seorang guru IPA SMP di Ajibarang, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Meskipun guru IPA ia menulis cerpen, puisi dan esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia.
Terpopuler
1
Prof Ainun Na'im, Guru Besar Akuntansi yang Jadi Bendahara Umum PBNU
2
Innalillahi, Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat
3
Dilantik Jadi Wantimpres, Kiai Said Siap Berikan Pertimbangan Konstruktif untuk Presiden
4
Jejak Karier Mohammad Nuh: Dari Menteri hingga Katib Aam PBNU 2026-2031
5
Hari Santri 2026, PBNU Instruksikan Apel Serentak, Layanan Sosial, Ziarah Ulama, hingga Mujahadah Palestina
6
Prabowo Lantik 26 Wantimpres, Nyai Sinta Nuriyah Jadi Satu-satunya Perempuan
Terkini
Lihat Semua