Haniah Nurlaili
Penulis
Baca Juga
Danarto Pentashih Cerpen Pertama Gus Mus
Setelah lebih dari tiga bulan kosong, rumah kontrakan sepetak di depan rumah Samad kini terisi. Tepatnya pagi tadi saat membuang sampah, Samad melihat seorang bocah laki-laki sekira umur enam tahunan bermain mobil-mobilan sendirian. Di teras, ibunya nampak sedang menyapu dan memindah jemuran.
Mungkin kemarin siang atau sore mereka baru datang. Entahlah, seharian Samad sibuk di kantor hingga jam sembilan malam baru pulang. Setiba di rumah, bukannya disambut senyuman, istrinya malah langsung pasang muka masam. Katanya capek seharian. Esoknya saat Samad baru membuka mata, istrinya langsung menyodorkan seplastik sampah untuk dibuang.
Samad sengaja tak gegas masuk rumah. Disulutnya sebatang rokok sambil masih berdiri di dekat bak sampah. Ia mengamati bocah itu yang masih asyik bermain walau sendirian.
“Hei, siapa namamu?” Samad membuka pembicaraan tepat saat ibu bocah itu masuk ke dalam.
“Riko,” sahut bocah itu sembari menengok-nengok ke dalam rumah. Mungkin ia agak takut melihat Samad yang berperawakan tinggi dan berkulit hitam.
Samad terpikir sesuatu. Untuk sekejap dia sudah berada di dapur.
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
“Cari apa, Mas?” tanya istrinya saat melihat Samad yang seperti sedang kebingungan.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Samad kembali meluncur keluar. Di tangannya tertenteng sebatang wafer coklat milik anaknya yang berusia tiga tahun.
“Ini dari Om.” Samad menyodorkan makanan ringan itu pada Riko. Riko terdiam cukup lama hingga akhirnya ia menggelengkan kepalanya.
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
“Lho, kenapa nggak mau?”
“Nggak enak,” jawab Riko singkat kemudian melesat ke dalam rumahnya dalam sekejap.\
***
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
Di kantor, Samad terlihat sangat tidak bersemangat. Agaknya kejadian singkat tadi pagi berhasil membuatnya terdiam seharian. Apalagi supervisor-nya kembali menyerahkan setumpuk revisian.
Samad merenung lama di depan layar komputernya. Katanya, sedekah membuat rezeki mengalir deras, pekerjaan lancar, dan bermacam kebaikan-kebaikan lainnya. Tapi ia rasa sekarang sedang mengalami semua kebalikannya.
Samad kerap memberi uang pada pengamen, pengemis dan peminta-minta. Namun balasannya hanya muka tak puas dari mereka, seakan-akan uang receh yang Samad beri tak ada artinya. Bahkan sepekan lalu saat kantornya mengadakan Jumat Berkah, para tukang becak, Pak Ogah, pengemis, manusia silver, dan orang-orang lainnya yang menerima seperti biasa saja saat menyambut sekotak makanan yang ia dan kawan-kawannya berikan.
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
Baiklah, katanya sedekah yang paling baik adalah kepada keluarga. Samad masih ingat dua minggu lalu saat ia memberikan gajinya kepada istrinya.
“Udah aku transfer. Ada lebihan tiga ratus ribu buat kebutuhanmu.”
Mungkin Samad berpikir istrinya akan melonjak kegirangan lantas mendaratkan kecupan manis di pipinya. Nyatanya, sang istri tetap bermuka masam. Hanya ucapan terima kasih yang lirih lantas ia berlalu begitu saja.
Samad hanya tak paham. Mengapa orang begitu sulit menerima kebaikan? Apa ia berubah jadi penjahat saja? Bahkan seorang anak kecil seperti Riko saja sudah menolak ketulusannya.
Azan pertama shalat Jumat telah berkumandang. Samad beranjak malas ke masjid seberang. Saat khatib menyampaikan khutbah, kotak amal masjid berjalan dari arah depan. Samad merogoh kantongnya. Ada selembar dua puluh ribu dan selembar dua ribuan. Tanpa pikir panjang, ia memasukkan dua ribuannya. Sepertinya, Samad sudah malas berinfak maupun bersedekah.
***
Baca Juga
Cerpen: Kau Sama di Hadapan-Nya
Hari-hari berjalan begitu membosankan. Di kantor, Samad selalu dimarahi atasan. Di rumah, istrinya tak henti-hentinya bermuka masam. Tak pernah ia lihat sesungging senyuman. Kadang Samad tak berharap rumah rapi atau masakan lezat. Hanya sekadar bertanya keadaan atau pijitan barang sebentar yang ia inginkan.
“Ah, sudahlah. Mengeluh pun tak ada gunanya,” gumam Samad pasrah.
Di Minggu pagi itu, Samad menyambar segelas kopi dan rokoknya lantas nongkrong di samping rumahnya, tepatnya di sebuah kursi bambu di bawah pohon kersen di sepetak kebun kosong milik tetangga. Rasa-rasanya hanya tempat itulah yang bisa membuat pikirannya tenang barang sebentar. Tak ada suara musik, tak ada ponsel. Hanya ia dan pikirannya saja yang bertarung disaksikan gemerisik dedaunan.
Di saat senyap itulah tetiba saja ibu Riko menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat pasi bak orang yang tak makan tiga hari.
“Pak, tolong, Pak!”
“Iya, ada apa, Bu?” sejenak Samad kebingungan karena tak tahu siapa tepatnya nama ibu Riko itu. Samad tak pernah sekalipun bertegur sapa dengannya walau dari sudut ini ia kerap melihat ibu Riko beraktivitas.
Baca Juga
Cerpen: Peci Miring
“Riko, Pak. Kakinya patah terpeleset di samping masjid. Tolong, Pak, suami saya belum bisa dihubungi.”
Melihat wajah cemas ibu Riko, Samad gegas pergi ke masjid. Di sana sudah banyak warga berkerumun. Karena Samad mempunyai kendaraan roda empat yang layak, tanpa pikir panjang ia gegas ke rumah untuk mengambilnya. Sudah tak ada waktu lagi untuk memanggil ambulans.
***
Tujuh hari kemudian, saat membuang sampah di depan rumah, Samad sudah melihat Riko duduk di teras dengan kruk yang tersandar di sampingnya. Untung saja kaki Riko tak terluka begitu parah. Hanya butuh operasi kecil saja.
“Alhamdulillah ya, Mas, untung waktu itu kamu gercep nolongin Riko.”
Samad masih terngiang-ngiang perkataan istrinya barusan. Tumben sekali istrinya menyuruh membuang sampah dengan senyum cerah.
“Semua orang di desa muji kamu, lho. Katanya, untung Pak Samad punya mobil yang boleh dipinjam. Nggak seperti Pak Yoto si juragan beras itu, punya mobil mewah tapi diumpetin terus di dalam rumah!”
Samad menggoyang-goyangkan bungkus rokoknya. Ternyata hanya tersisa satu batang saja. Ia sulut rokok itu sambil memandangi Riko yang kini juga tersenyum padanya, tidak takut lagi seperti awal jumpa.
“Udah sembuh?” Samad melontarkan tanya yang dijawab anggukan kecil dari Riko di ujung teras rumahnya.
Samad melayangkan pikirnya. Padahal, ia baru berencana tak ingin lagi bersedekah. Samad baru tersadar, sedekah memang membuka pintu rezeki, tetapi rezeki juga bisa berbentuk apa saja. Terbukti, senyuman kecil dari Riko dan wajah cerah istrinya sudah mampu membuat hati kecilnya berbunga-bunga.
Sedekah juga tak melulu soal berapa nominal yang dikeluarkan. Sedekah bisa berbentuk pertolongan, atau bahkan seulas senyuman. Samad memang tak ingin lagi bersedekah, jika tanpa rasa ikhlas. Yang ia harapkan kini hanya rida dari Sang Pencipta, bukan balasan dari manusia.
“Terimakasih, Pak Samad.”
Samad buru-buru mematikan rokoknya saat ibu Riko menghampirinya.
“Pertolongan Bapak kemarin sangat berarti buat Riko,” katanya sambil menjulurkan sekotak makanan hangat.
“Oh, iya, Bu....” lagi-lagi, bibir Samad tercekat. Ia ingin memanggilnya, tapi sampai sekarang belum tahu gerangan namanya.
“Saya Asti, Pak. Maaf saya belum sempat ke rumah Bapak untuk kenalan, eh malah kemarin udah ngrepotin,” kata Bu Asti sambil tertunduk malu.
“Tidak apa-apa, Bu Asti. Sebagai tetangga sudah sebaiknya kita saling menolong. Terima kasih untuk makanannya.”
Waktu sudah menunjuk pukul enam lebih lima belas. Samad gegas masuk rumah untuk siap-siap pergi bekerja. Ah, Samad begitu senang karena hari ini bertepatan dengan tanggal dua lima.
Haniah Nurlaili. Bertempat tinggal di Sragen, Jawa Tengah. Hobi menulis dan penyuka dekorasi rumah. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak maupun daring. Kini aktif tergabung di Komunitas Penulis Gemolongan (KPG).
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Judi Online, Racun Keharmonisan Keluarga dan Kesehatan Mental
4
Presiden Prabowo Setujui Bantuan Asing untuk Penanganan Karhutla
5
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
6
TGH Turmudzi Badaruddin: NU dan PBNU Saklawase
Terkini
Lihat Semua