M Ali Albalya
Penulis
Sawah tampak luas dipandang. Hamparan hijau padi muda menyegarkan mata yang melihat. Burung-burung terbang menambah indah pemandangan. Sementara itu, apabila dilihat dari kejauhan, para petani naik turun di pematang sawah. Mereka berjalan menyebar menuju petak masing-masing. Warna topi, caping, dan baju yang mereka pakai bak pelangi setelah hujan. Benar-benar pagi yang menyenangkan.
Di antara hiruk-pikuk itu, dua orang buruh tani berjalan dengan ceria. Mereka sesekali bercerita tentang anak-anaknya atau kebaikan para pemilik sawah yang memakai tenaga mereka. Tiba-tiba, Wagiman mengungkapkan sesuatu yang mengganjal hatinya.
“Kasdu, kamu terganggu tidak dengan suara sepeda motor Ripin?” ungkapnya.
“Ketika pagi hari itu, Man?” jawab Kasdu.
Baca Juga
Cerita Pendek: Perjanjian Kedua Iblis
“Lha, iya, tentu,” seru Wagiman.
“Memanaskan sepeda motor masak sampai telingaku sakit mendengarnya,” tambah Kasdu, menyetujui topik pembicaraan.
“Aku sampai kaget mendengarnya,” seru Wagiman.
Ripin adalah tetangga mereka. Dia juga buruh tani. Rumahnya terletak di antara rumah Wagiman dan Kasdu. Wajar apabila kedua orang buruh tani itu mengeluhkan suara sepeda motor yang dipanaskan. Akibat ulah Ripin, dua orang itu menghukumnya dengan cara tidak mau mengajaknya apabila ada pemilik sawah membutuhkan tenaga. Bagi mereka, menghubungi Ripin merupakan kesia-siaan. Sulit bagi mereka menerima orang yang mengusik ketenangannya setiap pagi. Ripin bak batu, sulit dipecahkan. Ketika pagi hari, emosi atas kekesalannya diungkapkan pada gas sehingga menyebabkan kebisingan.
Baca Juga
Cerita Pendek: Gambar Buatan
“Sepeda motor tua, ya, begitu. Terus bagaimana, Man?”
“Setidaknya, gas sepeda dinaikkan pelan-pelan. Aku juga sama, sepeda motor tua. Tapi, pernahkah aku memutar gas sampai bersuara keras?”
“Situasi ekonomi memang tidak seperti kemarin. Sepi. Tenaga kita sering menganggur. Ya, tapi hati tetap tenang dan pikiran harus jernih.”
“Kabar dari beberapa tetangga, sepedanya itu dibeli dari hasil jual kambing dan belum lunas.”
Baca Juga
Cerita Pendek: Alhamdulillah
“Apa itu penyebabnya?”
“Barangkali, Du.”
Langkah mereka terhenti. Seekor belalang hinggap di punggung Kasdu. Wagiman yang berjalan di belakang mencoba mengusirnya.
“Sebaiknya, kamu ngomong ke Ripin,” saran Kasdu.
Baca Juga
Cerita Pendek: Nyeser
“Ketika terkejut, terbesit keinginanku untuk langsung menghampirinya. Tapi, aku batalkan. Dari balik jendela, aku rasanya enggan melihat raut wajahnya. Dia terlihat emosi. Takut, nanti malah terjadi adu mulut. Tidak elok didengar,” tegas Wagiman.
“Iya, betul. Lalu sampai kapan kita merasakan ketidaknyamanan ini?” keluh Kasdu.
“Kita hampir sampai di sawah garapan,” seru Wagiman mengakhiri percakapan.
Di depan mereka, terbentang sepetak sawah. Di sudutnya, ada sebuah gubuk bambu. Sebuah parit kecil berada di samping gubuk itu. Itu ciri-ciri sawah garapannya. Sebagai pembeda dengan sawah yang lain, di atas gubuk kecil itu terpancang sebuah bendera kecil dari salah satu partai politik. Mereka berdua harus segera menyiangi rerumputan di antara tanaman padi.
Baca Juga
Cerpen: Wong Nyupang
Setelah bersabar menunggu, kini musim panen tiba. Bulir-bulir padi yang dulu hijau kini telah menguning. Burung-burung pipit merajalela. Mereka menikmati butiran padi yang padat berisi.
Tampak juga beberapa petani tiruan melambai-lambai tertiup angin. Mereka tidak mampu mengusir burung-burung yang sedang berpesta penuh kemenangan. Bagi hewan itu, mereka hanyalah patung tanpa nyawa. Seolah-olah, kehadirannya hanya hiasan belaka.
Para petani gelisah. Mereka harus segera memanen. Jika tidak, padi yang ditunggu-tunggu habis dimakan oleh burung pipit. Termasuk pemilik sawah yang dulu meminta Wagiman dan Kasdu menyiangi rumput.
Seperti sebuah kesepakatan, kedua orang tersebut dipanggil untuk memanen. Suatu berkah untuk buruh yang rumahnya bertetanggaan itu.
Baca Juga
Cerpen: Perempuan Kedua
Seperti pada panen-panen sebelumnya, di sela-sela mengarit padi, Wagiman membiarkan sayur kangkung yang kebetulan ditemui. Demikian juga Kasdu. Tumbuhan itu dipotong dan dikumpulkan oleh pemilik sawah. Menjelang pulang, pemilik sawah memanggil keduanya.
"Wah, kita mendapatkan tambahan rezeki. Kangkung ini kalian bawa pulang,” ungkapnya.
“Iya, Pak. Senang sekali kami mendapatkannya,” jawab Wagiman.
Di bawah matahari yang terik, Kasdu tersenyum sumringah mendengar kebaikan itu.
Baca Juga
Cerpen: Asal Muasal Kebiadaban
“Iya, Pak. Lumayan untuk pelengkap nasi. Pasti enak kalau dibuatkan parutan kelapa,” ungkapnya sambil menyeka keringat di wajahnya.
Wagiman dan Kasdu bersepakat kangkung itu akan dibagikan kepada tetangganya. Kasdu meminta bagian secukupnya, sedangkan Wagiman mendapatkan bagian lebih banyak.
“Man, kamu berikan ini ke Pak Thohir. Katanya dia suka kangkung,” usul Kasdu.
“Iya. Pasti dia senang sekali menerimanya,” jawab Wagiman.
Baca Juga
Cerpen: Tirakat yang Gagal
“Lagi pula, kesibukan dia sebagai satpam tidak memungkinkan dia mencari kangkung, hihihi,” tambah Kasdu berkelakar.
Sore hari, sepulang dari sawah, Wagiman melangkah ke barat. Dia tidak perlu berjalan lama. Rumah Pak Thohir berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Sebelum dia mengetuk pintu rumah satpam bank itu, sebuah sepeda motor menghampiri. Suara itu membekas dalam ingatannya. Itu milik Pak Thohir.
“Kang Wagiman…,” kata lelaki paruh baya itu. Dia segera mematikan mesin motor.
“Cuma memberikan kangkung ini, Pak,” kata Wagiman.
Seikat kangkung berpindah tangan. Pak Thohir tersenyum di antara kelelahannya.
“Terima kasih. Masuk dulu, Kang. Kebetulan, ada hal yang ingin saya sampaikan,” kata Pak Thohir.
Dia mengatur napas dan wajahnya tampak serius.
“Iya, Pak. Monggo,” jawab Wagiman.
“Tetangga kita ini bagaimana ya, Kang, kok tidak punya perasaan. Setiap pagi saya pulang dari jaga malam, dia selalu membunyikan sepeda motor dengan keras. Saya tertidur sampai kaget,” kata satpam itu.
Terlihat, dia menahan amarah. Mukanya memerah. Dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
“Ripin, Pak, nggih,” jawab Wagiman spontan. Dia tidak perlu menerka-nerka siapa orang yang dimaksud.
“Betul, Kang,” jawab Pak Thohir.
“Saya takut menegur, Pak. Takut terjadi perang mulut,” jawab Wagiman. Dia membayangkan wajah Ripin yang emosi ketika memutar gas sepeda motor di pagi hari itu.
“Nanti, di waktu longgar, saya akan melapor ke Pak RT. Kebisingan ini mengganggu ketertiban lingkungan,” ungkap Pak Thohir.
“Saya setuju, Pak. Saya dan Kasdu juga terganggu. Sebaiknya jangan melaporkan ke Pak RT. Saya takut terjadi apa-apa. Ini perkara sederhana,” usul buruh tani itu.
“Tidak bisa, Kang. Kalau Pak RT yang mengingatkan, pasti berhasil!” tegas juru keamanan itu.
Wagiman sedang berpikir. Dadanya berdetak lebih kencang. Kegelisahan muncul. Dia takut diketahui sebagai pelapornya. Pasti Kasdu dan dia sebagai orang di samping kiri-kanan rumah Ripin.
“Bagaimana kalau diingatkan oleh Mbah Alimin saja?” usul tetangga Ripin itu.
“Apakah nanti berhasil, Kang?” tanya Pak Thohir.
Satpam itu mengambil gelas. Seteguk air putih di depannya habis diminum. Emosinya mulai reda.
“Biasanya, Ripin salat Magrib di musala di lingkungan kita ini. Dengan kebijaksanaan Mbah Alimin, pasti dia sungkan,” usul Wagiman.
“Wah, ide cerdas, Kang. Ya, suasananya juga pas,” kata Pak Thohir menyetujui usul itu.
“Nanti, saya dan Kasdu akan menghadap beliau,” tambah Wagiman.
Dua orang itu tampak lega. Wajah mereka sumringah. Pak Thohir yakin pemilik musala yang disegani itu pasti dapat meluluhkan kebekuan hati tetangganya. Dengan senyum tersungging di bibir, Wagiman pun berpamitan.
Beberapa hari setelah dua orang itu menghadap tokoh agama tersebut, perubahan terjadi. Mereka tidak lagi mendengar suara knalpot yang memekakkan telinga. Pagi hari terasa damai. Tidak ada keterkejutan di antara rumah yang saling berdekatan itu.
Di tempat terpisah, Kasdu tenang mengawali hari. Sebaliknya, Wagiman merasa puas. Usulnya berhasil. Dia membayangkan Pak Thohir tidur nyenyak di pagi hari setelah lelah berjaga semalaman.
Jember, 6 Februari 2026
M. Ali Albalya lahir di Jember, 17 April 1981. Lulus dari Sastra Inggris Universitas Jember tahun 2007 dan menjadi guru di Pelita Hati, sebuah sekolah internasional di Jember, pada 2008–2010.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Mencari Rezeki dengan Jujur, Meraih Berkah dalam Hidup
2
Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Dibuka
3
Khutbah Jumat: Menjaga Lisan dan Jari dari Fitnah di Media Sosial
4
Refly Harun Sebut Ijazah Jokowi yang Ditunjukkan di Sidang Berbeda dengan Dokumen di Polda
5
PBNU Matangkan Materi Kaderisasi, Targetkan Pengkaderan Lebih Singkat dan Efektif
6
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Kepedulian Kepada Sesama di Tengah Kesulitan
Terkini
Lihat Semua