Daerah

45 Rumah Rusak dan 1.160 Warga Mengungsi Akibat Gempa M7,7 di Sulawesi Utara

NU Online  ·  Selasa, 9 Juni 2026 | 06:00 WIB

45 Rumah Rusak dan 1.160 Warga Mengungsi Akibat Gempa M7,7 di Sulawesi Utara

Kerusakan rumah warga akibat terdampak gempabumi Magnitudo 7.7 pada Senin (8/6/2026). (Dok BNPB) 

Jakarta, NU Online

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara mencatat 45 rumah warga mengalami rusak ringan dengan rincian 11 rumah di Kabupaten Kepulauan Talaud dan 34 rumah di Kabupaten Kepulauan Sangihe.


Selian itu, di Kabupaten Kepulauan Sangihe terdapat satu masjid, dua gereja, satu sekolah, dan satu rumah dinas yang juga mengalami kerusakan. Wilayah yang terdampak meliputi Kampung Kawio, Matutuang, Marore, Bira, Batu Wingkung, Tambung, Santiago, Kolongan Beha, hingga Kecamatan Kendahe.


"Selain itu satu unit rumah sakit di Desa Mala, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud dan satu gudang Pelabuhan Perintis di Kecamatan Essang, Kabupaten Kepulauan Talaud juga mengalami kerusakan," ujar Kepala BPBD Sulawesi Utara, Adolf Tamengkel, Senin (8/6/2026).


Selain kerusakan, BPBD Sulawesi Utara mencatat 1.160 orang terpaksa mengungsi. Rinciannya, 480 jiwa dari Kampung Kawio dan 680 jiwa dari Kampung Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe.


Adolf mengatakan bahwa rata-rata pengungsi mengungsi ke rumah saudara. Namun, ada juga yang ke kantor pemerintahan, seperti Kantor Bupati Sangihe. Hingga saat ini masih belum ada laporan korban jiwa.


"Namun kami masih terus mendata dan akan memperbaharui data tersebut dengan berkoordinasi dengan BPBD kabupate/kota terdampak," ucapnya.

 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa guncangan gempa kuat berdurasi tiga hingga empat detik sempat memicu kepanikan warga di Kabupaten Kepulauan Sangihe, khususnya di Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat.

 

Sementara itu, di Kecamatan Rainis dan Salibabu, Kecamatan Talaud; Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, dan Kota Manado, guncangan gempa dirasakan dengan intensitas lemah hingga sedang selama dua hingga empat detik.


Abdul menegaskan seluruh data dampak pemutakhiran ini masih bersifat sementara. Tim reaksi cepat BPBD di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota masih bersiaga di lapangan untuk melanjutkan proses asesmen secara menyeluruh.


“Seluruh data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring proses asesmen di lapangan,” katanya.


Meskipun peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berakhir dan masyarakat pesisir dipastikan aman dari ancaman gelombang laut, BNPB tetap mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya struktural bangunan akibat gempa susulan.


"Warga yang rumahnya terdampak kerusakan diharapkan tetap berhati-hati dan melaporkan kondisi bangunan yang berpotensi membahayakan kepada aparat setempat," ujar Abdul.


Ia juga meminta masyarakat tetap tenang, mengabaikan informasi spekulatif yang belum terverifikasi kebenarannya, serta selalu merujuk pada pemutakhiran data berkala dari saluran komunikasi resmi milik BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah setempat.

“Warga yang rumahnya terdampak kerusakan diharapkan tetap berhati-hati dan melaporkan kondisi bangunan yang berpotensi membahayakan kepada aparat setempat,” ucapnya. 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang