Bikku Saddaviro: Gus Dur Lebih dari Sekadar Memahami Agamanya
NU Online · Jumat, 1 Januari 2016 | 03:00 WIB
Banjarmasin, NU Online
Peringatan Haul Ke-6 Gus Dur di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan di Jalan A Yani KM 12, Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, berlangsung khidmat dengan kehadiran para tokoh NU dan lintas agama setempat.
<>
Acara yang diselenggarakan komunitas Gusdurian dengan tema “Merawat Tradisi Merajut Hati” ini menyuguhkan testimoni para tokoh yang hadir tentang sosok Gus Dur.
“Gus Dur memang sudah wafat. Tapi beliau masih terasa hadir di tengah-tengah kita,” ujar Anthony Subiakto, wakil dari etnis Tionghoa Kalimantan Selatan, Selasa (29/12) malam itu.
Selama hidupnya, Almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memang memiliki pergaulan luas dengan berbagai kalangan dan kelompok sosial. Perhatian cucu KH Hasyim Al Asy’ari, pendiri NU, terhadap kaum tertindas juga tak diragukan.
Saat menjabat sebagai presiden ke-4, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Imlek kemudian ditetapkan sebagai hari libur fakultatif. “Masyarakat Tionghoa tidak akan pernah melupakan Gus Dur,” tutur Anthony, yang saat ini menjabat wakil ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) itu.
Kesan mendalam juga disampaikan perwakilan umat Buddha. “Gus Dur adalah sosok dengan spiritualitas yang tinggi. Beliau hidup tidak sekadar hidup. Hidupnya didedikasikan untuk memberi manfaat besar kepada bangsanya. Itulah kenapa hingga saat ini beliau masih terasa kehadirannya, meskipun ruhnya sudah terpisah dari jasad,” ujar Bikku Saddaviro.
Menurut Bikku Saddaviro, orang yang hidup sekadar hidup tanpa memberikan manfaat, saat masih hidupnya saja sudah dilupakan banyak orang. “Yang membuat Gus Dur itu istimewa, beliau tidak hanya mengerti dan memahami agamanya, tapi juga mengerti dan memahami agama yang dianut orang lain. Itulah yang mendasari sikap dan kiprah beliau,” ujarnya.
Turut hadir juga perwakilan dari umat Katolik, Protestan, Buddha, dan komunitas waria. Dari NU sendiri diwakili oleh Ketua PWNU Kalsel KH Syarbani Haira dan sejumlah pengurus, puluhan aktivis, mahasiswa dan anak muda NU se-Kalsel.
Acara diakhiri dengan peresmian Gusdur Corner oleh ketua PWNU dan para tokoh lintas agama tersebut. Dalam kesempatan itu, Dr. Ahmad Syaikhu, pengurus PWNU menyerahkan 300 eksemplar buku untuk Gusdur Corner, yang secara simbolis diterima oleh Siti Tarawiyah, koordinator Gusdurian Kalsel. (tqnnewscom/Mahbib)
Terpopuler
1
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
4
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dorong Lahirnya Gagasan Strategis untuk Bangsa
5
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
6
Mulai 1 Juli 2026, Kemenhaj Alihkan Seluruh Penerbangan Umrah dan Haji Khusus ke Terminal 2F
Terkini
Lihat Semua