Bubur Asyura Kolaborasi Nilai Keagamaan dan Kebangsaan
NU Online · Ahad, 15 Agustus 2021 | 12:00 WIB
Syifa Arrahmah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Bulan Muharram memiliki beragam keutamaan, di antaranya pelipatgandaan pahala bagi orang-orang berpuasa dan bersedekah. Di hari kesepulu bulan Muharram, umat Islam merayakan Hari Asyura yang ditandai dengan puasa sunnah dengan sajian lengkap bubur Asyura.
Bubur Asyura yang diasosiasikan di 10 Muharram itu biasanya akan dimasak bersama, dan nantinya akan dibagi-bagi ke masjid maupun warga sekitar. Karena tidak hanya di satu wilayah, varian rasa dan tampilannya pun di tiap daerah berbeda, mengingat bahan yang dipakai juga beragam.
Di Cirebon, Jawa Barat, misalnya, KH Mukti Ali Qusyairi menceritakan, bubur Asyura menggunakan bahan beras, santan kelapa, dan gula aren sebagai pewarna alami. Ini membuatnya identik dengan warna merah dan putih, yang sarat akan nilai keagamaan dan kebangsaan. Melambangkan ketekadan dan budi luhur umat Islam sejak dulu.
"Pertemuan antara nilai keislaman dan kebangsaan," kata Kiai kelahiran Cirebon itu menceritakan kepada NU Online lewat sambungan telepon, Sabtu (14/8/2021).
Menurutnya, bubur Asyura juga menjadi simbol dari persatuan yang terkandung dalam Pancasila. Bahan yang digunakan di tiap daerah boleh saja berbeda, namun sikap gotong royong saat prosesi pembuatannya menjadikan semua itu sama, yaitu sebagai sarana mempererat silaturrahim antar-warga. Tak heran jika tradisi itu hingga kini tetap lestari.
"Dari sini nilai kearifan lokal dan keislaman bertemu dalam kearifan budaya luhur Nusantara," tutur Kiai Mukti Ali menerangkan dengan antusias.
Ada beberapa versi asal usul dan sejarah bubur Asyura. Kiai yang menempuh pendidikan sarjana di Al-Azhar Kairo, Mesir itu mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat ber-tafaul (mengambil berkah) dari kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW saat Perang Badar. Versi lain mengambil dari kisah Nabi Nuh AS saat turun dari kapal setelah banjir bandang.
Menurutnya, terlepas dari versi manapun bubur Asyura tetap mempunyai nilai agung, yaitu berbagi kasih antar setiap makhluk.
"Nah, itu juga ada dalam Pancasila poin kelima yang maksud sebenarnya adalah berbagi," ungkap Kiai Mukti.
Kontributor: Syifa Arrahmah
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua