Cerita Sastrawan Ahmad Tohari Berbagi Nasi Kotak Setiap Jumat
NU Online · Rabu, 10 Juni 2026 | 18:00 WIB
Sastrawan budayawan Ahmad Tohari saat perbincangan dengan NU Online di kediamannya Desa Tinggarjaya, Jatilawang Banyumas Jawa Tengah, Jumat (5/6/2026). (Foto: NU Online/Kendi Setiwan)
Kendi Setiawan
Penulis
Banyumas, NU Online
Di balik kesederhanaan hidup yang selama ini dijalani dan digaungkan, Sastrawan Ahmad Tohari ternyata menjalankan tradisi berbagi yang konsisten bersama keluarganya.
Setiap malam Jumat, penulis Ronggeng Dukuh Paruk itu membagikan 50 nasi kotak kepada warga sekitar. Sebagian dibagikan di mushala, sementara sisanya diantarkan kepada warga yang tidak sempat datang.
"Itu setiap minggu. Setiap hari Jumat saya membagi 50 nasi kotak. Yang di mushala kira-kira 20, yang 30 di luar mushala karena mereka tidak datang ke mushala," tuturnya saat perbincangan dengan NU Online di kediamannya Desa Tinggarjaya Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Semangat berbagi itu juga terlihat saat Idul Adha. Ahmad Tohari bercerita bahwa anak-anaknya membeli sapi kurban berukuran besar yang daginya dibagikan kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya dan wilayah sekitar.
Menurutnya, keluarga mereka memiliki prinsip sederhana dalam menjalani kehidupan, lebih memilih memberi daripada menerima. "Kami sekeluarga lebih memilih memberi daripada menerima," ujarnya.
Prinsip tersebut, menurut Ahmad Tohari, bukanlah upaya mencari perhatian atau pencitraan. Semua dilakukan secara alami sebagai bagian dari nilai hidup yang selama ini diyakininya.
Ia merasa berbagai kebaikan yang dilakukan keluarganya telah dibalas oleh Tuhan dengan cara yang tidak terduga. Seluruh anaknya berhasil menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor dan kini bekerja di bidang masing-masing. Lebih dari itu, mereka juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepedulian sosial.
"Semua anak saya studinya lancar. Mereka doktor semua, bekerja semua, dan sangat berjiwa sosial. Saya kira itu merupakan balasan dari Tuhan atas kebaikan kami kepada masyarakat," katanya.
Pengakuan itu disampaikan tanpa nada kebanggaan berlebihan. Ahmad Tohari justru menegaskan bahwa kegiatan berbagi yang dilakukannya tidak pernah dimaksudkan untuk menarik perhatian publik.
"Saya tidak sedang menarik perhatian dengan itu semua. Itu saya lakukan dengan sendirinya," ujarnya.
Bagi Ahmad Tohari, kebahagiaan tidak lahir dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari kemampuan berbagi dan memberi manfaat bagi sesama. Nilai itulah yang terus ia pegang, sejalan dengan prinsip hidup sederhana yang selama puluhan tahun menjadi tema besar kehidupannya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Logo Munas dan Konbes NU 2026, Unduh di Sini
3
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
4
Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat
5
Gempa M7,7 di Mindanao Filipina, BMKG: Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng
6
Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Bangunan Rusak
Terkini
Lihat Semua