Halaqah RMI PCNU Kota Pekalongan Ulas Peran Ulama Hadapi Krisis Lingkungan
NU Online · Ahad, 19 Juli 2026 | 08:00 WIB
Halaqah Nilai-Nilai Keulamaan Pesantren bertema Membaca Etnografi Ulama Pesantren sebagai Episentrum Keilmuan dan Peradaban di Nusantara di Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan pada Sabtu (18/7/2026). (Foto: istimewa)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan bersama Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Islam Negeri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menggelar Halaqah Nilai-nilai Keulamaan Pesantren bertema Membaca Etnografi Ulama Pesantren sebagai Episentrum Keilmuan dan Peradaban di Nusantara. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan pada Sabtu (18/7/2026).
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) menegaskan bahwa tanggung jawab kiai dalam menjalankan ri'ayah (pengayoman) terhadap umat tidak hanya terbatas pada persoalan ibadah ritual.
Ia mengatakan bahwa kepedulian ulama juga harus diwujudkan melalui keberpihakan terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
“Contoh di Pekalongan, NU harus berani berbicara soal sampah, pencemaran sungai, polusi udara dan bahaya limbah terhadap kesehatan. Hal ini sebagai bentuk sikap kasih sayang terhadap permasalahan umat. Jika ulama diam saja, maka hilanglah keteladanan dan ri’ayah-nya terhadap umat,” ujarnya.
Persoalan pencemaran lingkungan, menurutnya, merupakan bagian dari tanggung jawab moral yang perlu mendapat perhatian serius dari kalangan ulama dan organisasi keagamaan.
Gus Hilmy juga mengatakan bahwa kiai harus hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai problematika yang dihadapi umat. Peran menjaga umat, kata dia, merupakan inti nilai keulamaan yang harus terus relevan dengan perkembangan zaman.
“Jika kiai prihatin dan perhatian kepada santri, maka NU juga harus perhatian pada urusan-urusan masyarakat. Jangan abai,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa kiai memiliki peran sebagai cultural broker atau makelar budaya. Menurutnya, ulama masa kini perlu mampu mengakomodasi gagasan-gagasan modern ke dalam bahasa tradisi, sekaligus menerjemahkan khazanah turats dalam bahasa modern dengan semangat al-muhafadzah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.
Baca Juga
Akhlak kepada Lingkungan
Sementara itu, Rais Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen menekankan bahwa seorang ulama harus memiliki tiga dimensi utama, yakni keilmuan, spiritual, dan nilai lebih.
Ia mengingatkan pesan Imam Al-Ghazali dalam kitab At-Tibru al-Masbuk yang mengibaratkan ulama sebagai dokter bagi umat. “Jika dokternya sakit, bagaimana mungkin bisa menyembuhkan umatnya,” tegas Gus Ghofur, panggilan akrabnya.
Senada, Anggota RMI PBNU KH Muhammad Ghozalie Hatim Gazali mengingatkan tantangan dakwah di era digital. Berdasarkan data survei, terdapat kecenderungan menurunnya keterikatan generasi muda atau Gen Z terhadap institusi keagamaan.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi alarm bagi para kiai untuk menyusun strategi dakwah yang lebih adaptif agar nilai-nilai keulamaan tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan generasi mendatang.
Terpopuler
1
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
2
11 Kecamatan Banyumas Rawan Kekeringan, Ansor Minta Penanganan Tak Hanya Distribusi Air Bersih
3
Fachry Ali: Gus Dur Membuka Jalan Saya Melihat NU sebagai Objek Kajian Akademik
4
Halaqah Pra-Muktamar di Ciganjur Himpun Rekomendasi untuk Muktamar Ke-35 NU
5
Halaqah Pra-Muktamar di Ciganjur Hasilkan Delapan Rekomendasi untuk Muktamar Ke-35 NU
6
Film Foufo Angkat Kasih Sayang Keluarga dalam Balutan Budaya Madura
Terkini
Lihat Semua