Daerah BANJIR SUMATRA

Jelang Malam Pergantian Tahun, Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Masih Bertahan di Dayah

NU Online  ·  Rabu, 31 Desember 2025 | 18:30 WIB

Jelang Malam Pergantian Tahun, Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Masih Bertahan di Dayah

Kondisi Aceh Tamiang. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Aceh Tamiang, NU Online

Memasuki lebih dari satu bulan pascabanjir bandang, yang oleh warga setempat disebut sebagai tsunami bandang, yang menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025, kondisi pengungsi di wilayah terparah mulai berangsur stabil. Menjelang akhir tahun, perhatian masyarakat kini beralih pada pembersihan rumah dan pemulihan awal kehidupan pascabencana.


Rais Syuriah PCNU Aceh Tamiang, Tgk. Musthofa, kepada NU Online, Rabu (31/12/2025), menyampaikan bahwa warga yang sebelumnya terpaksa mengungsi mulai memusatkan aktivitas pada pembersihan rumah masing-masing, menyelamatkan sisa harta benda, serta menata kembali kehidupan yang porak-poranda akibat terjangan air bercampur kayu gelondongan dari hulu sungai.


Pantauan di lapangan menunjukkan, sebagian besar pengungsi kini tidak lagi terkonsentrasi di tenda-tenda besar. Banyak di antara mereka bertahan di dayah-dayah yang sejak awal tidak terhempas banjir. Sejak malam pertama bencana, dayah menjadi tempat perlindungan utama masyarakat, terutama bagi warga yang rumahnya rusak berat atau belum layak dihuni.


“Sebagian besar pengungsi berada di dayah yang tidak terhempas banjir. Dari awal kejadian mereka mengungsi ke dayah, dan sampai sekarang masih banyak yang bertahan di sana,” ujar Tgk. Musthofa.


Ia menambahkan, untuk kebutuhan hunian sementara, pemerintah bersama pihak terkait telah menyediakan tenda pengungsian yang difungsikan sebagai tempat bermalam maupun pusat aktivitas sementara. Selain itu, pembangunan hunian sementara (huntara) saat ini juga tengah berlangsung sebagai bagian dari tahapan pemulihan awal.


“Pembangunan huntara sedang proses. Ini penting agar warga terdampak memiliki tempat tinggal yang lebih layak sambil menunggu pemulihan permanen,” jelasnya.


Seiring surutnya air, pantauan NU Online di sejumlah wilayah Aceh Tamiang memperlihatkan banyak warga memilih kembali ke rumah masing-masing pada siang hari untuk membersihkan lumpur dan sisa material kayu. Pada malam hari, mereka kembali ke tempat pengungsian atau dayah. Aktivitas ini menjadi rutinitas harian masyarakat pascabencana.


Dari sisi kesehatan, Tgk. Musthofa menyebut kondisi pengungsi relatif terkendali. Hal ini tidak terlepas dari peran relawan kesehatan dari berbagai pihak yang terus melakukan pendampingan, pemeriksaan rutin, serta pelayanan medis di lokasi pengungsian dan dayah.


“Kehadiran tenaga kesehatan sangat membantu mencegah munculnya penyakit pascabanjir, terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan,” katanya.


Tgk. Musthofa juga menuturkan bahwa di dayah yang berada dalam pengelolaannya, termasuk dayah milik adiknya, jumlah pengungsi hingga kini masih cukup signifikan. Menurutnya, dayah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang aman dan pusat solidaritas sosial ketika bencana datang secara tiba-tiba.


Terkait logistik, ia menjelaskan bahwa secara umum ketersediaan makanan cukup. Bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga sosial, maupun masyarakat, terus berdatangan. Namun, di lapangan masih ditemukan persoalan distribusi yang belum sepenuhnya merata.


“Masalah makanan sebenarnya cukup. Tapi memang ada sebagian pengungsi yang belum mendapatkan bantuan,” ungkap Pimpinan Dayah Perbatasan Manarul Islam itu.


Ia menilai persoalan tersebut bukan disebabkan kekurangan logistik, melainkan lemahnya koordinasi di tingkat pengelola pengungsian sehingga distribusi belum berjalan adil.


“Ini efek dari koordinator pengungsian yang tidak membagi secara merata,” tegasnya.


Menyikapi hal itu, Tgk. Musthofa mengaku telah mengambil langkah langsung di lingkungan dayah yang berada dalam tanggung jawabnya. Ia memerintahkan pengurus dayah agar memastikan bantuan dibagikan secara adil kepada seluruh pengungsi.


“Saya sudah perintahkan agar bantuan dibagi rata. Jangan sampai ada yang terlewat atau merasa diabaikan,” ujarnya.


Di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung, masyarakat Aceh Tamiang menunjukkan semangat bangkit yang kuat. Gotong royong tampak dalam keseharian warga: saling membantu membersihkan rumah, santri ikut mengangkat kayu dan lumpur di sekitar dayah, sementara relawan dari berbagai unsur terus hadir mendampingi masyarakat dengan layanan dasar, termasuk kesehatan dan logistik.


Meski demikian, warga berharap perhatian tidak berhenti pada fase darurat semata. Mereka menantikan keberlanjutan program pemulihan, mulai dari penyelesaian huntara, perbaikan infrastruktur dasar, hingga pemulihan ekonomi masyarakat.


“Dayah yang sejak awal menjadi tempat berlindung kini diharapkan kembali menjadi pusat penguatan sosial dan spiritual bagi warga yang sedang berusaha bangkit,” pungkas Tgk. Musthofa.


Aceh Tamiang masih menyimpan luka akibat tsunami bandang yang datang menjelang akhir tahun. Namun, di balik sisa lumpur, tenda pengungsian, dan bangunan dayah yang menjadi tempat bernaung, denyut harapan terus hidup, menandai tekad masyarakat untuk bangkit dan menata kembali kehidupan dengan kebersamaan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang