Kekeringan Meluas di Bogor, 52.602 Warga Terdampak Krisis Air Bersih
NU Online · Kamis, 23 Juli 2026 | 15:30 WIB
BPBD Kabupaten Bogor mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. (Foto: dok BPBD Kabupaten Bogor)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terus meluas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 16.291 kepala keluarga (KK) atau 52.602 jiwa terdampak kekeringan sejak awal Juli 2026.
"Di Provinsi Jawa Barat, kekeringan di Kabupaten Bogor yang terjadi sejak Selasa (1/7/2026) hingga kini masih berdampak pada 16.291 kepala keluarga atau 52.602 jiwa," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Abdul mengatakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor terus mendistribusikan bantuan air bersih secara berkala untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
"Petugas BPBD di lapangan terus bergerak menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang mengalami krisis pasokan air akibat musim kemarau," katanya.
Menurut Abdul, armada tangki air bersih terus dikerahkan ke sejumlah kawasan yang mengalami penurunan debit air secara signifikan. Distribusi terbaru mencakup 4.000 liter air bersih untuk warga Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, 2.500 liter untuk Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, serta 5.000 liter bagi warga Desa Sukajaya, Kecamatan Sukajaya.
Ia menambahkan, perkembangan kekeringan di Jawa Barat terus dipantau oleh tim Direktorat Pengendalian Operasi BNPB.
BNPB, lanjut Abdul, akan terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bogor untuk memastikan armada distribusi dan pasokan air bersih layak konsumsi tetap tersedia bagi masyarakat terdampak.
Menurutnya, langkah antisipasi tersebut penting mengingat puncak musim kemarau masih berpotensi memperluas wilayah yang mengalami krisis air bersih apabila curah hujan tidak segera meningkat.
"Pemerintah daerah bersama BNPB akan terus mengevaluasi kondisi di lapangan dan menambah distribusi air bersih apabila jumlah warga terdampak terus bertambah," kata Abdul.
Di tengah situasi tersebut, beban ekonomi juga mulai dirasakan warga. Salah seorang warga Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, mengaku harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menyebut harga air minum mencapai Rp20.000 per galon, sedangkan air untuk mencuci mencapai Rp30.000.
"(Buat minum) Rp20.000, kalau buat nyuci itu Rp30.000," ungkapnya dalam unggahan akun Instagram yang dikutip NU Online, Kamis (23/7/2026).
Terpopuler
1
Maju sebagai Calon Ketum PBNU, KH Zulfa Mustofa: Pengurus NU Harus Faqih dan Peka terhadap Kebutuhan Umat
2
Ketum PBNU Terima Kunjungan Menkeu Purbaya, Bahas Sejumlah Investasi Bisnis dan Program Kemasyarakatan
3
Khutbah Jumat: Bulan Safar, Momentum Penguatan Iman pada Qada dan Qadar
4
Siap Tampung 3 Ribu Lebih Peserta, Berikut 6 Lokasi Penginapan Muktamar Ke-35 NU
5
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
6
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
Terkini
Lihat Semua