Konferwil XV NU Aceh, Gus Yahya: Jamiyah Ini Menunggu yang Mukhlis dalam Berkhidmat
NU Online · Selasa, 17 Februari 2026 | 12:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama adalah jam’iyah yang menunggu orang-orang mukhlis dalam berkhidmat. Penegasan itu disampaikan saat membuka Konferwil XV Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh di Aula MPU Aceh, Banda Aceh, Ahad (15/2/2026).
Di hadapan para kiai, teungku, pengurus cabang, dan badan otonom, Gus Yahya mengingatkan bahwa berbagai ujian kehidupan—baik berupa fitnah, musibah, maupun kesempitan ekonomi—merupakan bagian dari cara Allah SWT menguji kualitas iman seseorang.
“Allah menguji siapa yang benar dalam pengakuan imannya,” ujar Gus Yahya.
Ia menegaskan bahwa iman memang dijadikan berat, berbeda dengan mengikuti hawa nafsu yang terasa mudah. Justru di situlah letak nilai ujian. Dalam situasi sulit, seseorang akan terlihat apakah ia tetap berpegang pada prinsip keimanan atau tergelincir oleh kepentingan sesaat.
Mengutip pesan Hadratusyekh Hasyim Asy'ari, Gus Yahya menyampaikan bahwa musibah dan fitnah adalah alat ukur keimanan. Dalam salah satu nasihatnya, Hadratusyekh menegaskan bahwa ujian hadir agar tampak siapa yang benar dan siapa yang dusta dalam pengakuan iman.
“Ini agar siapa yang binasa, ia binasa karena pilihannya. Dan siapa yang berjaya, ia berjaya karena imannya,” tegasnya.
Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi kekinian, termasuk dinamika yang terjadi dalam organisasi maupun dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Ia mengakui, dalam empat tahun terakhir perjalanan NU di tingkat nasional dan daerah diwarnai berbagai dinamika. Namun, hal itu adalah sesuatu yang lumrah dalam organisasi besar.
Dalam konteks Aceh, Gus Yahya menyebut masyarakatnya memiliki ketangguhan yang tidak diragukan. Sejarah panjang konflik, perjuangan, dan bencana telah membentuk daya tahan sosial dan spiritual yang kuat.
“Aceh sudah lama ditempa oleh sejarah. Saya kira masyarakat Aceh tidak mudah terkejut oleh berbagai peristiwa besar,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga husnuzan—prasangka baik—baik kepada Allah Swt maupun kepada NU sebagai jam’iyah. Ia menyadari ada sebagian pihak yang mungkin memiliki prasangka dalam perjalanan berorganisasi, tetapi hal itu tidak boleh menghilangkan keyakinan terhadap keberkahan jam’iyah.
“Bagaimanapun kondisi kepada NU, kita harus tetap husnuzan. Jam’iyah ini berkah,” tegasnya.
Lebih jauh, Gus Yahya mengaitkan khidmah di NU dengan wasiat monumental Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari tentang kedudukan para pengurus NU sebagai santri beliau. Dalam wasiatnya, Hadratusy Syaikh menyatakan, siapa pun yang mau mengurusi NU akan dianggap sebagai santrinya, dan akan didoakan husnul khatimah beserta anak-cucunya.
Wasiat tersebut, menurut Gus Yahya, bukan sekadar ungkapan simbolik, melainkan penegasan spiritual tentang nilai pengabdian di NU. Berkhidmah di NU bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan kelanjutan tradisi santri dalam mengabdi kepada kiai dan menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Namun ia juga mengingatkan, khidmah harus dilandasi keikhlasan. Jika pengabdian dijadikan sarana mencari kepentingan pribadi, maka keberkahan yang dijanjikan tidak akan diraih.
“NU menunggu yang mukhlis. Jam’iyah ini menunggu orang-orang yang sungguh-sungguh dan tulus dalam berkhidmat,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pengurus PWNU Aceh, PCNU se-Aceh, serta seluruh kader untuk menjadikan momentum Konferwil XV ini sebagai penguatan niat. Menurutnya, keberkahan NU hanya dapat dijemput oleh mereka yang ikhlas dan istiqamah.
Gus Yahya juga menyampaikan apresiasi atas khidmat NU Aceh selama ini, termasuk kepemimpinan Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali serta Rais Syuriah yang selama ini membimbing jam’iyah di Tanah Rencong.
“Marilah kita bersungguh-sungguh dalam khidmah agar mendapatkan keberkahan yang dijanjikan Hadratusy Syaikh,” pungkasnya.
Konferwil XV PWNU Aceh diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperteguh komitmen spiritual para pengurus. Sebab menurut Gus Yahya, NU bukan sekadar struktur organisasi, melainkan ladang pengabdian yang menunggu orang-orang mukhlis untuk menjemput keberkahan.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
6
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
Terkini
Lihat Semua