Daerah BANJIR SUMATRA

LKK PBNU Perkuat Kapasitas Relawan Dukungan Psikososial Pascabencana di Aceh

NU Online  ·  Senin, 5 Januari 2026 | 14:00 WIB

LKK PBNU Perkuat Kapasitas Relawan Dukungan Psikososial Pascabencana di Aceh

Kegiatan peningkatan kapasitas relawan dukungan psikososial pascabencana di Aceh oleh LKK PBNU dan Kemenag. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Pidie Jaya, NU Online

Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas relawan dukungan psikososial pascabencana di Aceh.


Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, mulai 4-9 Januari 2026, dengan menyasar wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara.


Sekretaris LKK PBNU, Ai Maryati Sholihah, mengatakan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk membekali relawan yang terjun langsung ke lapangan dengan pemahaman dasar psikologi kebencanaan serta keterampilan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak.


“Relawan adalah garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan penyintas. Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman tentang kondisi psikologis korban bencana agar pendampingan yang diberikan tidak keliru, tetapi justru menguatkan,” ujar Ai Maryati kepada NU Online, Senin (5/1/2026).


Ia menjelaskan, bencana tidak hanya menyisakan kerusakan fisik dan kehilangan harta benda, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang kerap tidak terlihat. Rasa takut, trauma, kecemasan, hingga kehilangan harapan menjadi beban berat bagi penyintas, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia.


Dalam pelaksanaannya, LKK PBNU melibatkan berbagai unsur Badan Otonom (Banom) NU, di antaranya Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim NU (LPBINU), serta unsur NU lainnya. Kegiatan ini juga menggandeng penyuluh agama Kementerian Agama RI sebagai mitra strategis di lapangan.


Peserta berasal dari beragam latar belakang, mulai dari penyuluh agama Islam, aparatur Kantor Urusan Agama (KUA), guru PAUD, hingga relawan NU yang selama ini aktif mendampingi masyarakat terdampak bencana, seperti dari LAZISNU, LPBINU, dan GP Ansor.


Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik komunikasi empatik, pengenalan reaksi psikologis pascatrauma, serta cara menciptakan ruang aman bagi penyintas.


“Dukungan psikososial bukan terapi klinis, melainkan pendampingan awal agar penyintas merasa didengar, diterima, dan tidak sendirian. Relawan harus mampu menjadi pendengar yang baik dan penopang emosional,” jelasnya.


Ai Maryati menambahkan, kegiatan serupa sebelumnya telah dilaksanakan LKK PBNU di sejumlah daerah lain. Namun, khusus di Aceh, pelaksanaan difokuskan pada wilayah tertentu dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya dan kondisi lapangan.


“Dengan segala keterbatasan, kami memprioritaskan Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara karena dampak bencananya cukup besar dan membutuhkan pendampingan psikososial berkelanjutan,” ungkapnya.


Selain membekali relawan, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial penyintas melalui pendekatan yang mendorong saling menguatkan dan bangkit bersama.


“Kami ingin penyintas tidak hanya menjadi objek bantuan, tetapi juga subjek pemulihan. Ketika mereka saling menguatkan, proses pemulihan akan berjalan lebih sehat dan bermartabat,” pungkasnya.


Melalui kegiatan ini, LKK PBNU berharap kapasitas relawan NU dan mitra di Aceh semakin kuat dalam mendampingi masyarakat pascabencana, tidak hanya pada aspek material, tetapi juga pemulihan psikologis dan sosial.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang