Metode Penentuan Kalender Hijriyah di NU Harus Diseragamkan
NU Online · Sabtu, 12 Maret 2016 | 14:05 WIB
Terjadinya gerhana matahari 9 Maret lalu menjadi sarana bagi Lembaga Falakiyah NU untuk semakin memantapkan komunikasi. Hari ini, di bawah koordinasi Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LF PWNU) Jawa Timur, sejumlah kepengurusan di kabupaten dan kota dihadirkan. Utusan dari beberapa pesantren se-Jawa Timur juga diundang demi menyeragamkan metode penghitungan kalender hijriyah berdasar evaluasi hasil pengamatan gerhana.
Menurut Ketua LF PWNU Jatim KH Shofiyulloh, pada saat terjadi gerhana matahari, sejumlah tim dari lembaga falakiyah melakukan pengamatan di berbagai tempat. Di antaranya di Pulau Bangka, Balikpapan, Surabaya, Pasuruan, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Banyuwangi.
"Sebelum gerhana, kami sudah melakukan perhitungan waktu gerhana berdasarkan banyak metode ilmu hisab," kata Gus Shofi, sapaan akrabnya, Sabtu (12/3). Dari hasil pengamatan tersebut, dilihat mana metode yang paling akurat atau setidaknya mendekati kenyataan. Selanjutnya, metode yang paling akurat dipakai sebagai acuan menentukan awal bulan hijriyah, lanjutnya.
Pada kegiatan yang diikuti 70 peserta ini, masing-masing tim melaporkan hasil pengamatannya sekaligus menyampaikan rekomendasi untuk menyeragamkan metode penentuan awal bulan hijriyah.
"Selama ini di NU sendiri masih sering terjadi perbedaan dalam penentuan awal dan akhir bulan dalam kalender hijriyah," katanya.
LFNU sebagai lembaga yang membidangi hisab dan rukyat berkomitmen melakukan upaya meyamakan hasil perhitung dengan mendorong para ahli falak dan umat Islam untuk menggunakan metode yang paling akurat dan rukyat yang cermat, lanjut Pengasuh Pesantren Miftahul Huda 4 Kepanjen, Malang ini.
Selain melakukan evaluasi hasil pengamatan gerhana matahari, pada acara bertajuk sarasehan dan koordinasi LFNU se-Jawa Timur ini juga dilakukan penyeragaman kalender tahun 2017. Masing-masing peserta membawa hasil hitungan awal bulan hijriyah yang terjadi pada kalender tahun-tahun mendatang. Setelah mengambil kesepakatan, hasil penyeragaman ini nantinya akan dikirim ke seluruh PCNU dan pesantren se-Jawa Timur agar menjadi acuan untuk menyusun kalender tahun 2017 mendatang.
Gus Shofi juga berharap seluruh warga NU khususnya lembaga pendidikan formal dan yayasan untuk menggunakan data hasil penyeragaman sebagai acuan penentuan kalender tahun 2017. "Dengan demikian dapat meminimalisasi perbedaan penentuan awal bulan hijriyah di Indonesia," terangnya.
Kegiatan sarasehan dan koordinasi ini berlangsung di aula lantai satu gedung PWNU Jawa Timur Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)
Terpopuler
1
PBNU Tetapkan Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai Lokasi Pembukaan Munas-Konbes NU 2026
2
TNI-Polri Hadang Massa Aksi BEM UI yang Hendak Menuju Bundaran HI
3
Selain TNI-Polri, Komcad Juga Disiagakan saat Aksi Indonesia Bangkrut
4
Koalisi Masyarakat Sipil Soroti Pengerahan TNI dan Komcad dalam Aksi Indonesia Bangkrut
5
BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI Hari Ini, Berikut Tuntutannya
6
Peaceful Muharam 1448 H, Kemenag Gelar Standardisasi Kosakata Isyarat hingga Akurasi Titik Kiblat
Terkini
Lihat Semua