NU Lhokseumawe Nilai Pemulihan Pesantren Bisa Dorong Percepatan Rehabilitasi Aceh Pascabanjir
NU Online · Kamis, 25 Desember 2025 | 21:00 WIB
Tgk M. Rizwan Haji Ali, Ketua PCNU Lhokseumawe saat mengunjungi korban banjir bandang dan longsor. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Lhokseumawe, NU Online
Pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, kerusakan infrastruktur pendidikan menjadi salah satu dampak serius yang membutuhkan perhatian segera. Sekolah, madrasah, serta dayah atau pesantren turut terdampak. Di tengah kondisi tersebut, percepatan pemulihan pesantren dinilai memiliki dampak langsung dan berkelanjutan terhadap proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana 2025.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Lhokseumawe, Tgk M Rizwan Haji Ali, kepada NU Online di Lhokseumawe, Aceh, Kamis (25/12/2025).
Menurutnya, hasil observasi PCNU menunjukkan sedikitnya terdapat empat alasan utama mengapa pemulihan pesantren harus menjadi prioritas dalam penanganan pascabencana.
Pertama, sejak banjir melanda Aceh, ribuan santri terpaksa dipulangkan akibat kerusakan fasilitas pesantren. Sebagian besar santri tersebut berasal dari keluarga korban banjir yang kini tinggal di pengungsian atau di rumah yang mengalami kerusakan.
“Mengembalikan santri ke pesantren akan sangat meringankan beban keluarga korban banjir yang saat ini berada dalam kondisi sulit,” ujarnya.
Kedua, kerusakan infrastruktur dayah terjadi secara merata, baik pada dayah besar maupun menengah di kabupaten dan kota terdampak. Kerusakan meliputi asrama santri, ruang belajar, dapur umum, masjid atau musala, kitab-kitab, serta fasilitas pendukung lainnya.
Berdasarkan pengamatan NU, sejumlah dayah di Aceh saat ini mulai bergerak secara swadaya dengan dukungan alumni untuk membersihkan lumpur dan melakukan perbaikan ruang belajar agar kegiatan pendidikan dapat kembali berjalan.
Ketiga, kendala utama santri untuk kembali ke pesantren adalah persoalan biaya. Hal ini terutama dirasakan santri dari keluarga korban banjir yang kehilangan rumah dan harta benda sehingga harus memulai kehidupan dari titik nol.
“Kondisi ini tentu menyulitkan santri untuk kembali melanjutkan pendidikan tanpa dukungan dari semua pihak,” jelas Rizwan.
Keempat, kembalinya santri ke pesantren, baik pendidikan formal maupun nonformal, akan mengurangi beban keluarga di pengungsian. Jumlah anggota keluarga yang harus ditampung berkurang, sementara anak-anak dan santri dapat kembali melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti hampir satu bulan.
PCNU Lhokseumawe juga berharap seluruh infrastruktur pendidikan lainnya, seperti sekolah, madrasah, TPA, dan lembaga pendidikan keagamaan, dapat segera difungsikan kembali. Langkah ini dinilai penting untuk mengembalikan hak pendidikan anak-anak sekaligus membantu pemulihan trauma psikologis masyarakat secara bertahap.
“Pemulihan pendidikan merupakan bagian penting dari pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana,” pungkas Rizwan.
============
Para dermawan bisa donasi lewat NU Online Super App dengan mengklik banner "Darurat Bencana" yang ada di halaman Beranda atau via web filantropi di tautan berikut: filantropi.nu.or.id.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua