Pengajian Rutin Abu Mudi di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Meneguhkan Jalan Makrifat
NU Online · Sabtu, 11 April 2026 | 16:00 WIB
Pengajian di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Jumat malam (10/4/2026) malam (Foto: Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Pengajian rutin yang disampaikan oleh Abu Syeikh H Hasanoel Bashry HG (Abu Mudi), Mustasyar PBNU, kembali digelar di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Jumat malam (10/4/2026) usai shalat Isya.
Ratusan jamaah dari berbagai kalangan tampak memadati area masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut. Mereka datang untuk mengikuti pengajian tasawuf yang secara konsisten diasuh oleh ulama kharismatik asal Samalanga itu.
Dalam tausiyahnya, Mudir Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga itu menekankan bahwa jalan menuju makrifat tidak bisa ditempuh secara instan, melainkan harus melalui proses panjang yang dimulai dari penguatan syariat, dilanjutkan dengan tarekat, hingga mencapai hakikat dan makrifat.
"Makrifat itu bukan sekadar dipelajari, tapi dijalani. Butuh mujahadah, zikir, dan istiqamah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Uama kharismatik Aceh pendiri Majelis Pengajian dan Zikir Tastafi (MPZT) itu juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada ajaran yang menawarkan jalan pintas menuju makrifat dengan meninggalkan syariat dan majelis taklim. Menurutnya, jalan seperti itu justru menyesatkan dan bertentangan dengan tradisi ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
"Tidak ada makrifat tanpa syariat. Tidak ada hakikat kalau meninggalkan ilmu dan taklim. Siapa yang mengaku sudah sampai, tapi meninggalkan syariat, itu keliru,” tegasnya.
Abu Mudi menambahkan bahwa tasawuf merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim, bahkan disebut sebagai fardhu ‘ain dalam konteks penyucian hati. Tanpa tasawuf, seseorang berisiko hanya kuat dalam aspek lahiriah, namun lemah secara batiniah.
Selain membahas dimensi spiritual, Abu Mudi turut menyampaikan sejumlah persoalan fikih yang kerap terjadi di tengah masyarakat, seperti hukum shalat Jumat bagi tahanan, ketentuan musafir, hingga larangan khalwat. Hal ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara pemahaman syariat dan pengamalan tasawuf.
Baca Juga
Firasat Gus Dur jelang Tsunami Aceh
Dalam kesempatan itu, Abu Mudi juga menyinggung pentingnya peran tarekat sebagai jalan pembinaan ruhani yang terarah. Ia mengisahkan bagaimana para ulama terdahulu menjaga kesinambungan tarekat, termasuk berkembangnya Tarekat Naqsyabandiyah melalui bimbingan para mursyid.
Pengajian tersebut menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk memperbaiki diri, tidak hanya dari sisi ibadah lahir, tetapi juga kebersihan hati dan kedekatan kepada Allah.
Sejumlah jamaah mengaku mendapatkan ketenangan dan pencerahan dari materi yang disampaikan. Mereka berharap pengajian rutin ini terus berlangsung sebagai wadah pembinaan spiritual masyarakat Aceh.
Dengan gaya penyampaian yang sederhana namun mendalam, Abu Mudi kembali mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah adalah perjalanan seumur hidup, yang harus diisi dengan ilmu, amal, dan kesungguhan hati.
Pengajian rutin ini menjadi salah satu denyut penting dalam menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam di Aceh, khususnya di Masjid Raya Baiturrahman yang sejak dahulu dikenal sebagai pusat peradaban dan dakwah.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia
3
Khutbah Jumat: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah
4
Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Pertama RI Asal Aceh Wafat, PWNU Aceh Tegaskan Warisan Keikhlasan
5
Amerika Serikat dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Selama Dua Pekan
6
Khutbah Jumat: Zakat, Jalan Menuju Masyarakat Adil dan Peduli
Terkini
Lihat Semua