Sejumlah Faktor Sebabkan Hubungan Wayang dan Pesantren Menjauh
NU Online · Sabtu, 20 Juli 2013 | 04:34 WIB
Yogyakarta, NU Online
Pesantren zaman dahulu turut melestarikan budaya wayang. Namun pada era sekarang, pesantren seolah-olah jauh dari budaya melestarikan wayang.
<>
Hal ini menurut budayawan, Jadul Maula ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Diantaranya adalah faktor kolonial. pada zaman dahulu antara kraton, pesantren itu satu kesatuan yang mengandung nilai-nilai keislaman.
“Kraton didirikan untuk menyebarkan agama yang berbasis budaya. Namun, ketika kolonial masuk, antara kraton dan pesantren mulai menjauh. Kraton dikendalikan oleh kolonial. Kraton tidak bisa eksplisit dalam menghadapi kolonial,” ungkap M Jadul Maula ketika ditemui di Pesantren Kaliopak, Rabu (17/07).
“Kemudian keduanya tidak menjadi satu kesatuan lagi, dan terciptalah dualisme, contohnya berdirinya NU, ijma’nya ke Arab. Sedangkan pada zaman Ronggo Warsito, ijma’nya ke Walisongo,” imbuhnya.
Faktor kedua yang disampaikan oleh Jadul Maula adalah faktor demoralisasi. Banyak dalang terputus gara-gara spiritual dalang mulai memudar. Dalang menempatkan dirinya sebagai penghibur. “Faktor ketiga adalah politik, nasionalisme dan Islam mengalami perubahan politik,” ungkapnya. “Kalau ini tidak dijembatani akan putus antara budaya Jawa dan khazanah Islam,” tambahnya.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Sholikhin
Terpopuler
1
Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Bakal Dihadiri Lebih dari 500 Peserta dan Peninjau
2
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
3
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Bangunan Rusak
Terkini
Lihat Semua