Stigma Untuk Para Ambtenar
Sebagai agen Belanda untuk melakukan penjajahan, melalui jaringan birokrasi pemerintahan, maka para priyayi yang bergelar ambtenar yang telah merasa menjadi belanda itu melakukan berbagai pelecehan terhadap kelompok pribumi yang lain, baik bangsawan, petani dan terutama santri, yang dianggap kolot, tradisional, irasional, takhayul dan sebagainya. Padahal tidak sedikit mereka yang masih beragama Islam, hanya saja mereka telah menjadi agen yang disekolahkan dan dibayar Belanda.
Melihat kenyataan itu para ulama banyak yang melarang anaknya masuk sekolah umum, sebab khawatir para pemuda menjadi Blandis (kebelanda-belandaan). Dikatakan bahwa masuk sekolah Belanda berarti menjadi sikuning Allah (bertolak belakang dengan ajaran Allah). Memang dalam kenyataannnya kaum intelek hasil sekolah Belanda banyak menentang norma agama, baru ketika mereka melahirkan anak, sunat atau kematian mereka memerlukan agama. Kiai hanya diperankan sebagai juru doa, kalau itu diperlukan mereka.
Senin, 22 Oktober 2007 | 08:14 WIB