Arab Saudi Bangun Ka’bah Metaverse, Bisakah untuk Berhaji?
NU Online · Selasa, 8 Februari 2022 | 16:30 WIB
Ka’bah metaverse sudah bisa dikunjungi dan Imam Besar Masjidil Haram Sheikh Abdul Rahman Al Sudais adalah orang pertama yang telah mengunjungi Ka'bah metaverse ini dengan virtual reality (VR). (Ilustrasi: awoum.com)
Muhammad Faizin
Penulis
Jakarta, NU Online
Seiring dengan perkembangan teknologi khususnya internet, saat ini muncul teknologi Metaverse yang memungkinkan seseorang melakukan aktivitas di dunia maya sama seperti di dunia nyata. Teknologi metaverse adalah rekayasa untuk memindahkan dunia dan aktivitas di dalamnya ke alam virtual melalui wujud avatar atau karakter manusia.
Bukan hanya aktivitas sehari-hari yang bisa dilakukan di metaverse. Permasalahan ibadah pun saat ini sedang menjadi perdebatan seiring dengan dihadirkannya ka’bah di Masjidil Haram di metaverse ini. Langkah pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang secara resmi membuat ka’bah di metaverse memunculkan wacana ibadah haji di metaverse.
Dilansir Middle East Eye, proyek Kerajaan Arab Saudi yang dimulai pada penghujung Desember 2021 ini bernama Virtual Black Stone Initiative. Ka’bah metaverse sudah bisa dikunjungi dan Imam Besar Masjidil Haram Sheikh Abdul Rahman Al Sudais adalah orang pertama yang telah mengunjungi Ka'bah metaverse ini dengan virtual reality (VR).
Tujuan awal proyek yang ditangani oleh Badan Urusan Pameran dan Museum bekerja sama dengan Universitas Ummul Qura ini adalah untuk memberi kesempatan umat Islam di berbagai penjuru dunia untuk dapat menyentuh Hajar Aswad secara virtual.
Namun saat ini sedang hangat dibincangkan di Timur Tengah tentang wacana jika ibadah Haji juga dilakukan di metaverse. Wacana ini ditentang oleh Lembaga Presidensi Urusan Keagamaan Turki (Diyanet) yang menegaskan bahwa kunjungan virtual ke ka’bah metaverse tidak bisa disebut sebagai haji sesungguhnya.
"Ini (ibadah haji di metaverse) tidak mungkin terjadi," ujar Direktur Departemen Haji dan Umrah Diyanet, Remzi Bircan, Selasa (1/2/2022) dikutip dari Hurriyet Daily News.
Bircan menambahkan bahwa ibadah haji harus dilaksanakan di dunia nyata dengan tubuh fisik berada di tanah. "Kaki mereka harus menyentuh tanah (ka'bah)," imbuhnya.
Hal senada disampaikan oleh Katib PBNU, KH Asrorun Niam Sholeh yang menjelaskan bahwa ibadah haji harus dilakukan secara fisik atau tidak bisa dilakukan secara virtual.
Ibadah haji harus dilakukan sesuai dengan tata cara yang sudah diberikan oleh Nabi dan memiliki keterkaitan dengan tempat dan waktu seperti tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran.
“Tidak bisa dalam angan-angan atau mengelilingi gambar ka'bah, atau replika ka'bah," katanya melalui keterangan dalam sebuah video yang diterima NU Online.
Ka'bah metaverse ini bisa dimanfaatkan untuk membantu mengenalkan ka'bah kepada jamaah yang akan melaksanakan ibadah seperti umrah dan haji yang biasanya disebut sebagai manasik haji.
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Fathoni Ahmad
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
Prabowo Sebut Ada Kelompok yang Ingin Indonesia Terpecah
Terkini
Lihat Semua