Di Istanbul, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo Serukan Kepedulian terhadap Krisis Lingkungan dan Kemanusiaan
NU Online · Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:15 WIB
Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo H Abdullah Aniq Nawawi saat konferensi ulama internasional International Union of Muslim Scholars (IUMS) di Istanbul, Turki. (Foto: istimewa)
Hijroatul Maghfiroh
Penulis
Istanbul, NU Online
Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo H Abdullah Aniq Nawawi menghadiri konferensi ulama internasional yang diselenggarakan oleh International Union of Muslim Scholars (IUMS) atau Persatuan Ulama Muslim Internasional, bekerja sama dengan lembaga keilmuan Islam di Turki.
Konferensi yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Istanbul, Turki, tersebut mengangkat tema “Wahdatul Ummah al-Wasath: Min ats-Tsawabit ila Mitsaq al-Wahdah” (Persatuan Umat Islam Wasathiyah: Dari Prinsip-Prinsip Fundamental Menuju Piagam Persatuan).
Forum internasional ini mempertemukan para ulama dan tokoh Islam dari berbagai negara untuk membahas penguatan persatuan umat Islam serta merumuskan komitmen bersama dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Dalam orasinya, Gus Aniq, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa persatuan umat Islam tidak boleh berhenti pada slogan, deklarasi, maupun kesepakatan normatif. Persatuan harus diterjemahkan menjadi gerakan bersama untuk menghadapi berbagai persoalan konkret yang dialami masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Menurutnya, salah satu tantangan besar dunia Islam saat ini adalah kenyataan bahwa sebagian masyarakat Muslim di berbagai negara masih menghadapi ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik.
Karena itu, persatuan umat harus diarahkan pada upaya kolektif untuk membangun kemandirian, memperkuat kapasitas umat, serta mengatasi berbagai persoalan struktural yang menyebabkan kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.
Alumnus Universitas Universitas Abdul Malik Asa'di Tetouan Maroko itu juga mendorong agar IUMS tidak hanya menjadi forum yang mempertemukan para ulama dari berbagai negara, tetapi turut menjadi kekuatan moral dan intelektual yang mampu merespons persoalan-persoalan aktual di setiap negara Muslim.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi umat Islam di suatu negara selayaknya menjadi perhatian bersama umat Islam di negara lain. Dengan demikian, persatuan umat dapat melahirkan solidaritas lintas negara sekaligus memperkuat peran ulama dalam memberikan pertimbangan moral bagi kebijakan publik.
Soroti kebakaran hutan di Indonesia dan krisis lingkungan global
Salah satu persoalan penting yang disampaikan Gus Aniq dalam forum internasional tersebut adalah krisis lingkungan, khususnya kebakaran hutan di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat, mata pencaharian, serta masa depan generasi mendatang.
Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis atau ekonomi, tetapi juga sebagai persoalan moral dan keagamaan. Karena itu, perlindungan lingkungan harus ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab syariat dan kemanusiaan.
Ia mendorong agar persoalan lingkungan turut menjadi agenda bersama dalam gerakan persatuan umat Islam internasional. Dengan demikian, solidaritas umat Islam tidak hanya diwujudkan dalam menghadapi konflik politik dan persoalan keagamaan, tetapi juga melalui kerja sama dalam menjaga kelestarian alam dan melindungi kehidupan manusia.
Persatuan umat harus bela mustadh’afin
Selain persoalan lingkungan, Gus Aniq juga memberikan perhatian khusus pada nasib kelompok mustadh’afin, yakni masyarakat yang dilemahkan dan mengalami ketidakadilan dalam kehidupan sosial, politik, maupun ekonomi.
"Tidak ada artinya bagi persatuan umat jika tidak berfungsi sebagai sarana untuk menghapus penindasan, mewujudkan keadilan, dan menjunjung tinggi martabat manusia," kata anggota Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2022-2026 itu.
Dalam konteks internasional, persoalan Palestina merupakan salah satu contoh nyata yang menuntut solidaritas dan perhatian bersama umat Islam. Namun, menurutnya, pembelaan terhadap kelompok mustadh’afin tidak boleh dibatasi hanya pada satu wilayah atau satu konflik.
Jutaan masyarakat di berbagai negara Muslim juga masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, serta berbagai bentuk ketidakadilan struktural. Oleh sebab itu, perjuangan membela kaum mustadh’afin harus menjadi bagian penting dari agenda persatuan umat Islam.
Ia menekankan perlunya gerakan bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada kelompok lemah.
Menjaga perdamaian tidak berarti membiarkan kezaliman
Dalam bagian lain orasinya, Gus Aniq juga menyoroti pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di negara-negara Muslim. Menurutnya, para ulama memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penyeru perdamaian, dialog, dan rekonsiliasi serta mencegah berkembangnya kekerasan dan konflik yang mengancam kehidupan masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa upaya menjaga stabilitas tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kezaliman dan ketidakadilan.
Ia menyampaikan sebuah prinsip penting dalam bahasa Arab, “Namun, kami menegaskan bahwa menjaga perdamaian tidak berarti berdiam diri terhadap kezaliman, sebagaimana memperjuangkan hak-hak tidak harus dilakukan melalui kekerasan.”
Pandangan tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara komitmen terhadap perdamaian dan keberanian memperjuangkan keadilan.
Dalam kerangka Islam wasathiyah, perdamaian sejati tidak cukup dimaknai sebagai ketiadaan konflik, tetapi harus dibangun di atas penghormatan terhadap hak-hak manusia, keadilan, dan martabat kemanusiaan.
Sebaliknya, perjuangan menuntut hak dan melawan ketidakadilan juga harus dilakukan melalui cara-cara yang bertanggung jawab serta tidak mengabaikan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Dorong IUMS jadi kekuatan moral yang pengaruhi kebijakan publik
Pada kesempatan tersebut, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko 2018-2020 ini juga mendorong agar IUMS semakin memperkuat perannya sebagai kekuatan moral dan intelektual di tingkat internasional.
Menurutnya, persoalan-persoalan besar yang dihadapi masyarakat Muslim di berbagai negara semestinya menjadi perhatian bersama organisasi ulama internasional.
IUMS diharapkan dapat memberikan pandangan dan sikap keagamaan yang jelas terhadap persoalan-persoalan tersebut, sehingga suara para ulama dapat memberikan kontribusi nyata dalam memengaruhi arah kebijakan publik.
Peran tersebut dinilai penting mengingat umat Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari krisis kemanusiaan dan lingkungan hingga ketimpangan ekonomi, konflik politik, dan ketertinggalan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, otoritas keilmuan dan moral para ulama tidak berhenti pada penyampaian pandangan keagamaan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi strategis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Membawa semangat NU ke forum internasional
Keikutsertaan Gus Aniq dalam konferensi ini merupakan bagian dari kontribusi Nahdlatul Ulama dalam memperkuat dialog dan kerja sama antarulama di tingkat global.
Melalui forum tersebut, NU membawa gagasan persatuan yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren, pemikiran Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, serta komitmen terhadap Islam yang moderat, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa persatuan umat Islam harus bergerak dari kesamaan prinsip menuju solidaritas dan tindakan nyata.
Persatuan tidak cukup hanya dinyatakan dalam sebuah piagam, tetapi harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama mereka yang menghadapi kemiskinan, ketidakadilan, konflik, dan kerusakan lingkungan.
Dengan semangat tersebut, forum persatuan ulama internasional di Istanbul diharapkan mampu memperkuat kontribusi dunia Islam dalam mewujudkan tatanan global yang lebih damai, adil, dan berkeadaban.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
NU Online Institute Buka Seleksi Beasiswa Kuliah di Malaysia bagi Santri, Ini Syarat dan Jadwalnya
3
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
4
Lula Menangkan Pilpres Brasil, Cetak Sejarah dengan Empat Kali Masa Jabatan
5
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
6
Alvin Tedjo, Pria Keturunan Indonesia yang Terpilih sebagai Wali Kota Mississauga di Kanada
Terkini
Lihat Semua