Jamaah Haji Hanya Melewati Satu Miqat untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah
NU Online · Senin, 27 Juli 2020 | 09:30 WIB
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jamaah yang akan melaksanakan ibadah haji tahun ini hanya melewati satu miqat saja, yaitu Miqat Qarn al-Manazil. (Foto Ilustrasi: Saudi Gazette)
A Muchlishon Rochmat
Penulis
Makkah, NU Online
Jamaah yang akan melaksanakan ibadah haji tahun ini hanya melewati satu miqat saja, yaitu Miqat Qarn al-Manazil. Ini merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah. Miqat adalah istilah yang merujuk kepada batas dari mana seorang jamaah harus mulai berpakaian ihram—memakai dua lembar kain putih tanpa jahitan.
Sebagaimana diketahui, Nabi Muhammad memilih empat miqat (batas) untuk para jamaah yang datang dari seluruh wilayah di dunia guna melakukan ritual haji dan umrah. Sedangkan Khalifah Umar bin Khattab menambahkan satu miqat lagi, sehingga totalnya menjadi lima. Lima miqat itu mewakili ritual pertama ibadah haji.
Qarn al-Manazil, satu-satunya miqat yang akan dilalui oleh para jamaah haji tahun ini, terletak di timur laut Makkah. Qarn al-Manazil merupakan miqat bagi orang-orang Najd dan biasanya menjadi miqat bagi jamaah yang datang dari negara-negara Teluk dan Asia Timur saat ini. Miqat ini mengacu kepada pada gunung kecil yang membentang ke utara dan selatan dengan air mengalir di kedua sisi.
Jamaah yang melaksanakan haji tahun ini dibatasi hanya seribu orang—ada juga yang menyebut 10 ribu- karena adanya pandemi Covid-19. Dilansir laman Arab News, Ahad (26/7), para jamaah diharapkan menuju ke Qarn al-Manazil karena maqat ini merupakan yang terdekat ke Makkah. Di miqat ini terdapat Masjid al-Sail al-Kabir, sebuah salah satu masjid terbesar di wilayah Kerajaan dan dilengkapi dengan fasilitas modern.
Seorang profesor sejarah dan peradaban di Universitas Umm al-Qura di Makkah, Adnan Al-Sharif, mengatakan bahwa Miqat Qarn al-Manazil terkait dengan kehidupan Nabi Muhammad. Selama pengepungan Thaif, Nabi Muhammad melewati tempat itu.
“Menurut beberapa novel sejarah, Nabi melewati 'Qarn' yang berarti Qarn Al-Manazel,” katanya.
Para sejarawan meyakini bahwa sepanjang sejarah Miqat Qarn al-Manazil juga melayani orang-orang yang datang dari arah lainnya. Sultan ke-45 dari Dinasti Mamluk, al-Ghuri, mengatakan, Qarn al-Manazil merupakan miqat bagi rakyat Yaman dan Thaif. Sementara, Qadi Ayyad, seorang sarjana hukum Maliki terkenal di Zaman Keemasan Islam (800-1258), menyebutnya dengan Qarn al-Thaalib dan merupakan miqat rakyat Najd.
Pewarta: Muchlishon
Editor: Fathoni Ahmad
Terpopuler
1
Ngantor Perdana, Gus Kikin Mulai Siapkan Susunan Kepengurusan PBNU 2026-2031
2
Gus Kikin Kunjungi Pojok Gus Dur pada Momen Perdana Ngantor di PBNU
3
Anggota Banser Wafat Selepas Tugas di Muktamar, Ketum GP Ansor Takziah dan Beri Santunan
4
Gus Kikin Sebut NU Dukung Program Pemerintah, Fokus pada Pembangunan Manusia
5
Menakar Kapasitas Al-Albani dalam Ilmu Hadits: Benarkah Layak Disebut Muhaddits?
6
PCNU Jombang Harapkan PBNU Masa Khidmah 2026-2031 Prioritaskan Program Keumatan
Terkini
Lihat Semua