Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21
NU Online · Rabu, 30 September 2015 | 03:00 WIB
Makkah, NU Online
Komite Hijaz adalah sebuah kepanitiaan kecil yang dibentuk umat islam di Indonesia medio 1924-1925 bertepatan dengan berkuasanya Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, atas Hijaz (Makkah dan Madinah). Salah satu latar belakang kelahirannya adalah kebijakan anti pluralitas madzhab dan pemusnahan situs-situs peradaban Islam oleh Ibnu Saud. Komite Hijaz yang diketuai KH. Abdul Wahab Hasbullah menjadi embrio berdirinya Nahdlatul Ulama.<>
Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi mengingatkan kembali cerita itu. Menurutnya, Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri memiliki visi dan cita-cita internasional. “Sesungguhnya NU lahir dengan perspektif dan cita-cita yang luar biasa. Perspektif global ini tidak boleh surut,” tuturnya.
Kiai Masdar berbicara dalam acara Silaturrahim PCINU Sedunia yang digelar di Rubat Jawa an-Nawawy, Distrik Misfalah, Kota Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi. Utusan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) datang antara lain dari Belanda, Hongkong, Jepang, Lebanon, Malaysia, Maroko, Mesir, Pakistan, Sudan, Tunisia, Yaman, dan Aljazair.
“Saat ini kita bisa merasakan bagaimana haji sebagai laku napak tilas spiritual sudah hilang, rumah Rasulullah (bersama Sayyidah Khadijah-red) sudah tidak ada, petilasan-petilasan bersejarah juga sudah hilang. Ini tantangan komite hijaz abad 21 saya kira, bagaimana menjaga haji sebagai proses penulusuran sejarah spritual umat Islam,” tutur santri KH Ali Maksum Krapyak ini, Senin (21/9).
Dalam kesempatna yang sama, ia juga juga menekankan pentingnya berjamaah. Menurutnya, jamaah bukan sekadar kumpul, melainkan kumpulan manusia yang teroganisasi seperti halnya jamaah shalat, ada imam dan ada makmum.
“Jamaah dalam konteks hablum minannas ya organisasi dan Indonesia sudah ideal, di mana organisasi-organisasi keagamaan tumbuh subur, tinggal bagaimana duduk bersama merespon isu lokal maupun isu internasional,” ujar Kiai Masdar.
Abdul Wahid Maktub, Staf Ahli Menristek Dikti RI, yang juga hadir dalam forum tersebut mengingatkan pentingnya merespon perubahan zaman. Ia mengatakan, dunia ini terus berubah karena itu bagian dari sunnatullah. Menjadi problem jika zaman berubah begitu cepat tetapi manusianya tidak berubah.
Wahid Maktub menekankan pentingnya kecepatan, kecermatan dan ketepatan dalam membaca keadaan zaman. Menurutnya NU harus mampu menjawab tantangan zaman dan harus semangat dan cepat berubah sebagaimana semangat jihad yang pernah digelorakan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. (Ridho Hasan/Mahbib)
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
5
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
6
Rupiah Terus Melemah, Anggota DPR Minta Gubernur BI Mundur dari Jabatan
Terkini
Lihat Semua