Laporan MSF: Israel Terus Mencekik Gaza dan Melanjutkan Genosida terhadap Rakyat Palestina
NU Online · Jumat, 9 Oktober 2026 | 07:30 WIB
Jenewa, NU Online
Organisasi kemanusiaan internasional Médecins Sans Frontières (MSF) memperingatkan bahwa Israel terus mempersempit ruang hidup warga Palestina di Jalur Gaza melalui kekerasan, blokade pasokan kebutuhan pokok, serta penghancuran layanan kesehatan dan infrastruktur vital.
Dalam pernyataannya pada Senin (5/10/2026) lalu, MSF menyebut kondisi kehidupan warga Gaza semakin memburuk. Organisasi tersebut menilai ruang yang dapat dihuni warga terus menyusut, sementara kebutuhan dasar untuk bertahan hidup dihancurkan secara sistematis.
“Israel secara bertahap mencekik Gaza, Palestina, dan melanjutkan genosidanya. Ruang tempat warga dapat hidup semakin menghilang, sementara kondisi yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup dihancurkan secara sistematis melalui kekerasan yang berlanjut, blokade yang disengaja terhadap pasokan penting, serta penghancuran layanan kesehatan dan infrastruktur vital,” demikian pernyataan MSF dilansir kantor berita Palestina WAFA.
MSF menjelaskan, dalam setahun terakhir, pergerakan warga Gaza semakin dibatasi dengan penetapan Garis Kuning (Yellow Line) oleh Israel. Garis tersebut awalnya disebut sebagai posisi penarikan militer sementara pada tahap pertama dan menjadi bagian penting dalam mempertahankan gencatan senjata.
Namun, menurut MSF, garis itu kini diperkuat dengan posisi militer, tanggul tanah, dan penghancuran bangunan yang terus berlangsung. Garis tersebut juga terus bergeser ke arah barat sehingga memaksa warga bertahan di wilayah yang semakin sempit.
MSF menyebut pasukan Israel kini menguasai sekitar 65 persen wilayah Gaza dan menggunakan Garis Kuning sebagai batas wilayah tersebut.
Pergeseran garis itu juga meningkatkan ancaman terhadap warga yang tinggal di sekitarnya. Ketidakjelasan penandaan batas membuat warga berisiko ditembak pasukan Israel ketika mendekatinya. Tim MSF mengaku masih merawat warga yang mengalami luka tembak di sekitar kawasan tersebut.
Kondisi itu turut menghambat penyaluran bantuan. MSF menyatakan operasional pengiriman air menggunakan truk harus dihentikan ketika terjadi penembakan di dekat komunitas yang tinggal di sekitar Garis Kuning.
“Garis Kuning tidak bisa diperlakukan sekadar sebagai garis di peta,” kata Kepala Respons Darurat MSF di Gaza, Amande Bazerolle.
“Garis itu telah menjadi mekanisme pengepungan dan pembersihan etnis, sekaligus memutus akses masyarakat terhadap infrastruktur, layanan kesehatan, air, dan kebutuhan penting lainnya yang mereka perlukan untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Ribuan Warga Mengalami Trauma dan Penyakit
MSF menegaskan, kekerasan tidak hanya terjadi di sekitar Garis Kuning. Pada Juni dan Juli 2026 saja, tim organisasi tersebut menangani lebih dari 1.200 kasus trauma akibat kekerasan di seluruh Gaza, termasuk luka ledakan, luka bakar, luka tembak, dan cedera akibat penganiayaan fisik.
Selama tiga tahun terakhir, tim MSF telah menangani lebih dari 200.000 kasus trauma, termasuk cedera akibat kekerasan fisik yang disengaja. Sementara itu, menurut data yang dikutip MSF, serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 orang, termasuk lebih dari 20.000 anak-anak.
MSF menyatakan, keluarga Palestina yang terpaksa tinggal di wilayah semakin terbatas menghadapi kondisi padat dan tidak layak huni. Mereka juga kesulitan mendapatkan air bersih, sanitasi, tempat berlindung, dan layanan kesehatan yang memadai. Situasi tersebut turut mendorong penyebaran penyakit.
Sepanjang 2026, tim MSF telah menangani lebih dari 11.000 kasus penyakit kulit, termasuk skabies atau kudis. Pada Juni dan Juli, mereka juga menangani lebih dari 1.500 kasus cacar air.
Pada Agustus 2026, MSF mendistribusikan sekitar 2,1 juta liter air minum per hari. Namun, organisasi itu menegaskan jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan warga Gaza di tengah berbagai pembatasan.
“Sebagian besar warga hanya memiliki kurang dari enam liter air untuk kebutuhan rumah tangga per hari dan akses terbatas terhadap perlengkapan kebersihan dasar, seperti sabun dan deterjen,” kata Manajer Aktivitas Medis MSF di Gaza, Murad Asaliyya.
Ia menjelaskan, tim medis menangani berbagai penyakit, antara lain gastroenteritis atau peradangan saluran pencernaan, infeksi saluran pernapasan akut, gangguan kulit, hepatitis, infeksi kulit akibat bakteri, skabies, dan kutu.
Di sisi lain, MSF menghadapi kekurangan pasokan medis yang parah. Asaliyya menyebut bahkan krim yang dibutuhkan untuk mengobati skabies pun dibatasi oleh otoritas Israel.
Sistem Kesehatan Gaza Semakin Terpuruk
MSF menyatakan akses terhadap layanan kesehatan di Gaza memburuk secara drastis selama tiga tahun terakhir. Rumah sakit semakin sering kehabisan pasokan dasar, sementara pasien kesulitan memperoleh obat-obatan dan perawatan yang dibutuhkan.
Pembatasan pasokan penting, termasuk oli mesin dan suku cadang, juga melumpuhkan infrastruktur yang diperlukan untuk menjalankan rumah sakit, ambulans, dan sistem penyediaan air. Sejumlah generator dilaporkan mulai rusak, sedangkan operasi distribusi air menggunakan truk terpaksa dikurangi.
Menurut MSF, kehancuran sistem kesehatan Gaza dan kerusakan lebih dari 80 persen bangunan di wilayah tersebut akan menimbulkan dampak jangka panjang. Dampak fisik dan mental akibat kekerasan serta pengungsian berulang juga akan menghambat pemulihan warga selama bertahun-tahun.
“Penghancuran sistem kesehatan Gaza dan kerusakan terhadap lebih dari 80 persen seluruh bangunan di wilayah tersebut, disertai dampak fisik dan mental seumur hidup akibat kekerasan dan pengungsian berulang, akan melampaui situasi saat ini dan menghambat pemulihan yang berarti selama bertahun-tahun mendatang,” demikian pernyataan MSF.
Kekerasan Meluas ke Tepi Barat
MSF juga menyoroti memburuknya situasi kemanusiaan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak 2023. Organisasi itu mencatat peningkatan serangan oleh pemukim Israel, operasi militer, penggerebekan rumah, kamp pengungsian, dan lahan pertanian, serta perluasan permukiman ilegal, penggusuran, penghancuran rumah, dan pembatasan pergerakan.
Menurut MSF, eskalasi tersebut semakin cepat, terutama sepanjang 2026. Pasien di klinik-klinik MSF melaporkan rumah mereka dihancurkan pasukan Israel, serangan oleh pemukim, hingga pencurian ternak.
Organisasi tersebut menilai kebijakan kekerasan, intimidasi, dan pengusiran paksa terhadap warga Palestina tidak hanya terjadi di Gaza, tetapi juga memperparah keterpecahan wilayah Palestina.
“Diperlukan beberapa generasi untuk memulihkan kerusakan yang telah terjadi selama tiga tahun terakhir, bahkan selama beberapa dekade sebelumnya. Sementara itu, konsekuensi menyakitkan dari genosida yang terus dilakukan Israel masih dirasakan setiap hari,” kata Bazerolle.
Ia menambahkan, penghancuran, pengungsian, dan perampasan kebutuhan dasar telah dinormalisasi, sementara Israel dinilai menjalankan praktik-praktik tersebut tanpa pertanggungjawaban.
“Pemerintah harus bertindak sekarang untuk memastikan Israel menghentikan penghancuran dan pembunuhan, mencegah pembersihan etnis, serta berhenti merampas sarana yang dibutuhkan warga Palestina untuk bertahan hidup,” tegasnya.
Terpopuler
1
Sembilan Hakim MK Diadukan ke MKMK karena Tunjukkan Ijazah Gibran ke Pemohon
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Innalillahi, Ketua PWNU Jawa Tengah 2003-2013 KH Muhammad Adnan Wafat
4
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
5
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
6
UU Satu Data Indonesia Disahkan, Transfer Data ke Luar Negeri Wajib Persetujuan DPR
Terkini
Lihat Semua