Teater Ubruk dari Banten Angkat Isu Sampah Plastik di Festival Internasional Pakistan
NU Online · Jumat, 30 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Jakarta, NU Online
Kelompok teater asal Cilegon, Banten, Sanggar Ubruk Seniki, tampil dalam 3rd Punjab Maas International Theatre Festival di Alhamra Arts Center, Lahore, Pakistan, pada Kamis (29/10/2026). Mereka membawakan pertunjukan yang mengangkat persoalan sampah plastik dan pencemaran sungai.
Baca Juga
Kiai Wahid Hasyim, Gus Dur, dan Teater
Penampilan tujuh anggota sanggar tersebut mendapat sambutan meriah dari penonton. Ratusan warga Lahore yang memenuhi gedung pertunjukan beberapa kali memberikan tepuk tangan. Sejumlah warga Indonesia yang tinggal di Pakistan serta peserta festival dari Kazakhstan, Norwegia, dan Prancis turut menyaksikan pertunjukan itu.
Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Islamabad, Rahmat Hindiarta, menilai pementasan Ubruk Seniki mampu menyampaikan pesan lingkungan tanpa terkesan menggurui penonton.
Menurut Rahmat, pertunjukan tersebut juga merepresentasikan karakter masyarakat Indonesia melalui pendekatan seni yang komunikatif dan menghibur. Ia menyaksikan langsung pementasan itu bersama penonton lainnya sebagai perwakilan KBRI Islamabad.
Kehadiran Sanggar Ubruk Seniki dalam festival teater internasional tersebut menjadi ruang bagi seniman muda Indonesia untuk memperkenalkan seni tradisi dari Banten sekaligus menyuarakan persoalan lingkungan melalui pertunjukan lintas budaya.
"Penampilan personel Ubruk Seniki mencerminkan keprbadian masyarakat Indonesia. Sukses menyampaikan pesan penting tanpa menghakimi. Kali ini bahkan sangat menghibur," terangnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Jumat (30/10/2026).
Dalam pementasan bertajuk “Kintir”, para penampil yang terdiri dari Mahmud, Bahroni, Aman, Dedi, Adi Kurniadi, Inda, dan Suci menggambarkan dampak pencemaran sampah terhadap Sungai Cibanten. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya itu kini menghadapi persoalan sampah dan kerusakan ekosistem.
Bahroni menjelaskan bahwa istilah kintir merujuk pada sampah dan sisa material yang terbawa arus sungai. Sampah tersebut, menurut dia, pada akhirnya dapat merusak lingkungan sekaligus mengganggu kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai.
“Kintir menggambarkan sampah dan residu yang dihanyutkan di sungai hingga merusak ekosistem dan kehidupan masyarakat,” ujar Bahroni.
Direktur festival, Aamir Nawaz, mengapresiasi cara kelompok teater asal Banten tersebut menyampaikan persoalan lingkungan melalui pertunjukan yang menghibur. Ia menilai mereka berhasil mengangkat isu sampah plastik yang telah menjadi perhatian dunia tanpa menghilangkan unsur hiburan dalam pementasan.
“Tim Ubruk Banten sukses mengangkat isu serius sampah plastik yang sudah lama menjadi perhatian global dengan tetap menghibur. Good job” ucap Nawaz.
Apresiasi juga datang dari penonton asal Indonesia yang telah lama menetap di Lahore. Agustina menyebut pertunjukan tersebut sebagai penampilan yang membanggakan bagi masyarakat Indonesia.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
NU Online Institute Buka Seleksi Beasiswa Kuliah di Malaysia bagi Santri, Ini Syarat dan Jadwalnya
3
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
4
Lula Menangkan Pilpres Brasil, Cetak Sejarah dengan Empat Kali Masa Jabatan
5
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
6
Alvin Tedjo, Pria Keturunan Indonesia yang Terpilih sebagai Wali Kota Mississauga di Kanada
Terkini
Lihat Semua