Psikolog Klinis: Puasa Bantu Redakan Kecemasan dan Latih Kontrol Diri
NU Online · Ahad, 22 Februari 2026 | 07:45 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana melatih delay of gratification atau kemampuan menunda dorongan. Saat menahan lapar, haus, dan impuls emosional seperti marah atau reaktif, seseorang sedang melatih fungsi eksekutif otak, khususnya area prefrontal cortex yang berperan dalam kontrol diri.
Psikolog Klinis lulusan Magister Universitas Islam Indonesia (UII), Alifa Fadia Ainaya, menjelaskan bahwa secara psikologis puasa memperkuat jalur regulasi antara dorongan dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, individu tidak langsung bereaksi, melainkan belajar memberi jeda sebelum merespons.
“Mekanismenya bekerja melalui proses pembiasaan. Setiap kali seseorang berhasil menahan respons otomatis, terbentuk pengalaman keberhasilan kecil yang meningkatkan self-efficacy,” ujarnya kepada NU Online, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, pengalaman tersebut memperkuat keyakinan bahwa individu mampu mengelola emosi, bukan dikuasai emosi. Puasa juga meningkatkan self-awareness karena seseorang lebih peka terhadap kondisi internal seperti lapar, lelah, sensitif, atau justru lebih tenang.
Kesadaran terhadap sensasi tubuh (interoceptive awareness) membantu mengenali pola emosi dan pikiran. Selain itu, puasa mendorong suasana reflektif dan evaluasi diri, atau metacognition, yakni kemampuan mengamati pikiran sendiri.
Dalam praktik klinis, peningkatan kesadaran diri menjadi kunci perubahan perilaku. Puasa juga melatih regulasi stres dengan membiasakan diri menghadapi ketidaknyamanan secara terkendali. “Individu belajar bahwa ketidaknyamanan bisa ditoleransi,” jelasnya.
Dari sisi spiritual, puasa dan aktivitas keagamaan seperti shalat, zikir, serta refleksi diri berkontribusi pada penurunan kecemasan. Spiritualitas menghadirkan makna dan rasa keterhubungan, sehingga menurunkan persepsi ancaman dan membantu menenangkan sistem saraf.
Naya menambahkan, selama puasa terjadi perubahan hormon seperti kortisol, insulin, serta regulasi neurotransmiter serotonin dan dopamin. Pola makan yang terjaga membantu menjaga stabilitas gula darah dan suasana hati. Sejumlah penelitian juga menunjukkan peningkatan brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dalam kondisi puasa tertentu, meski respons biologis bersifat individual.
Ia menegaskan, puasa akan berdampak positif bagi kesehatan mental jika dijalani dengan kesadaran, didukung tidur cukup dan nutrisi seimbang. “Puasa bukan ajang menekan emosi, tetapi kesempatan melatih regulasi yang lebih adaptif,” tutupnya.
Namun, jika selama puasa seseorang mengalami serangan panik atau kecemasan berat, ia menyarankan memastikan keamanan fisik dan melakukan teknik grounding atau pernapasan diafragma untuk menenangkan sistem saraf secara bertahap.
Terpopuler
1
Prabowo Sebut Ada Kelompok yang Ingin Indonesia Terpecah
2
Kasasi Dikabulkan, MA Batalkan Putusan PTUN Terkait Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran
3
Banjir di Medan Rendam 2.200 Rumah, 7.930 Warga Terdampak
4
Presiden Prabowo: Korupsi dan Penyelewengan adalah Awal Kehancuran Bangsa
5
Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor MURI lewat Karya Buku Tertebal di Indonesia
6
Di Istanbul, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo Serukan Kepedulian terhadap Krisis Lingkungan dan Kemanusiaan
Terkini
Lihat Semua