Influenza A Menyerang Anak, Waspadai Risiko Komplikasi
NU Online · Sabtu, 26 September 2026 | 15:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Peningkatan kasus Influenza A yang menyerang anak-anak menjadi perhatian masyarakat. Kondisi ini perlu diwaspadai karena infeksi saluran pernapasan (ISPA) tersebut tidak selalu berhenti sebagai gejala ringan dan dapat berkembang menjadi komplikasi.
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang diperbarui pada 12 September 2026 menunjukkan proporsi positif influenza mencapai 38 persen pada pekan ke-35, meningkat dari 22 persen pada pekan sebelumnya.
Dari 175 spesimen yang diperiksa, sebanyak 66 spesimen dinyatakan positif influenza. Mayoritas kasus yang ditemukan merupakan Influenza A(H1N1)pdm09. Sementara itu, sebanyak 33 persen kasus terdeteksi pada anak usia 0 hingga 4 tahun.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr Priyo Budi Purwono, mengatakan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain perubahan cuaca dan interaksi antarmanusia.
Ia menjelaskan bahwa Influenza A merupakan tipe virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan atas dan bawah. Penularannya dapat terjadi melalui percikan air liur (droplet) ketika seseorang batuk atau bersin maupun melalui benda yang terkontaminasi virus.
“Anak-anak lebih rentan karena mereka belum sepenuhnya memahami pembatasan dalam berinteraksi, termasuk kebiasaan menjaga higiene seperti menutup mulut ketika batuk atau bersin. Selain itu, sistem imunitas anak masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terinfeksi,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Sabtu (26/9/2026).
Dia menyampaikan bahwa gejala Influenza A umumnya muncul setelah masa inkubasi sekitar satu hingga tujuh hari. Gejala awal berupa demam, nyeri tubuh, pilek, nyeri menelan, serta batuk. Namun, gejala tersebut sulit dibedakan secara klinis dengan infeksi saluran pernapasan lainnya sehingga tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala.
Sebagian besar kasus Influenza A, lanjut Priyo, berada pada tingkat ringan hingga sedang. Namun, orang tua perlu memperhatikan kondisi anak, terutama ketika terjadi penurunan nafsu makan yang dapat mengganggu asupan nutrisi dan daya tahan tubuh.
“Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru. Jika peradangan semakin berat ditandai dengan sesak napas, bunyi napas tambahan dan menyebabkan hipoksemia. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak hingga kegagalan napas,” ujarnya.
Dia menyampaikan bahwa pemeriksaan lebih lanjut dapat dilakukan melalui pemeriksaan usap (swab) hidung atau tenggorokan serta pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen dada sesuai indikasi medis.
Untuk mengurangi risiko penularan, Priyo menekankan pentingnya menjaga kebersihan, mengurangi interaksi ketika sedang sakit, berolahraga, beristirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta menerima vaksin influenza.
Baca Juga
Doa Khitan dan Keselamatan Anak
“Tidak perlu panik. Kita bisa belajar dari pengalaman pandemi sebelumnya dengan menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Jika kondisi semakin parah, berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang sesuai,” tuturnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Syukur Batin dan Syukur Lahir: Mengakui Nikmat dan Menggunakannya untuk Taat
2
Khutbah Jumat: Isi Hati dengan Maaf, Bukan dengan Dendam
3
Khutbah Jumat: 2 Sikap Hidup yang Menjadi Ladang Kebaikan
4
Ketua Umum PBNU Terima PP IPNU-IPPNU, Kongres November Diminta Respons Tantangan Era AI
5
Hasil Muktamar Ke-35 NU Segera Disosialisasikan ke PWNU dan PCNU
6
Khutbah Jumat: 3 Cara Menggunakan Harta yang Baik Menurut Imam Al-Ghazali
Terkini
Lihat Semua