'Aja Takon Mantu, Mak': Catatan Mudik Motor dari Kemang Bogor ke Bumiayu Brebes
NU Online · Rabu, 18 Maret 2026 | 19:00 WIB
Patoni
Penulis
Tulisan di selembar kardus yang ditempel di belakang motor itu sedikit memalingkan perhatian saya di tengah arus mudik yang mulai mengalir ketika saya sampai di daerah Karawang, Jawa Barat. “Aja Takon Mantu, Mak (jangan tanya mantu, Mak),” terbaca jelas di belakang sebuah motor matic yang melaju tak terlalu kencang.
Saya tersenyum sendiri di balik helm hitam yang saya kenakan. Ada kejujuran, mungkin juga kelelahan batin yang diselipkan dalam kalimat sederhana itu mengingat pertanyaan-pertanyaan klasik soal pasangan kerap dihadapi seseorang yang belum menikah saat momen lebaran. Begitu juga pertanyaan soal anak bagi pasangan yang belum dikaruniai momongan. Meskipun tidak semua orang merasa nyaman saat diberondong pertanyaan seperti itu setiap tahunnya.
Keluhan yang seringkali dicatat warganet di media sosial: "siapkan bekal jawaban ketika di kampung bagi para jomblo, pasangan yang belum punya anak, pasangan yang baru punya anak satu, pasangan yang baru punya anak dua, dan seterusnya."
Namun, dari tulisan singkat di sebuah kardus pemudik itu menunjukkan bahwa dari momen itulah saya merasa, perjalanan mudik bukan hanya soal pulang, tetapi juga tentang cerita-cerita kecil yang menemani di sepanjang jalan hingga ketika pemudik sampai di kampung halaman.
Perjalanan saya dimulai dari Kemang, Bogor, menuju Bumiayu, Brebes pada Kamis, 12 Maret 2026. Momen ketika jalanan Pantura belum terlalu ramai pemudik. Beberapa hari sebelum berangkat, saya memastikan motor dalam kondisi prima, oli diganti, rem dicek, lampu dipastikan menyala normal. Tas berisi beberapa helai pakaian anak dan istriku yang cukup saya selipkan di depan, tidak saya ikat di jok, agar memudahkan membuka jok saat hendak mengisi BBM.
Bekal makanan dan minuman tidak pernah menjadi perhatianku selama bertahun-tahun mudik. Tahadduts bin ni'mah, saya memilih tidak memanfaatkan rukhsoh (keringanan untuk tidak berpuasa) sebagai musafir selama perjalanan mudik meskipun menggunakan motor dan bus. Apalagi cuma pakai kereta api yang super nyaman, tentu tak perlu membatalkan puasa. Kebetulan anak dan istriku mudik dengan kereta api, sedangkan saya tidak ada pilihan selain menggunakan motor agar selama di kampung ada kendaraan buat bolak-balik ke sana ke mari.
Sebelumnya, mudik menggunakan motor sama sekali tidak dianjurkan oleh Pemred NU Online, Mas Ivan Aulia Ahsan. Jika belum mendapatkan tiket kereta, dia menyarankan untuk ikut mudik bareng NU yang setiap tahun dilaksanakan LTM dan LAZISNU PBNU demi keamanan dan keselamatan. But, I have no choice.
Singkat cerita, usai makan sahur, tepat pukul 03.00 dini hari, saya memutar kunci kontak dan menyalakan mesin dari rumah saya di Kemang, Bogor. Suara motor memecah sunyi, sementara udara dingin menusuk hingga ke sela-sela jaket yang saya kenakan. Jalanan masih gelap, lampu-lampu jalan menjadi satu-satunya penuntun arah. Dalam kondisi seperti itu, sampai-sampai anak saya yang termasuk Gen Alpha berseloroh kepada ibunya, "Bu, nanti ayah dihadang penjahat nggak ya?"
Baca Juga
Doa Perjalanan Mudik
Di awal perjalanan, jalanan relatif lengang. Hanya beberapa pemotor lain yang melintas, seolah kita berbagi tujuan yang sama tanpa perlu saling mengenal. Ritme perjalanan terasa tenang namun begitu singkat karena saya memicu motor di atas rata-rata karena kondisi jalan sangat mendukung. Singkatnya, saya bisa shalat subuh berjamaah di Tambun Selatan, Bekasi.
Namun, suasana tenang itu berubah ketika saya memasuki jalur Pantura. Jalanan mulai dipenuhi truk-truk besar yang mendominasi lajur. Deru mesin mereka berat, lambat, tetapi memakan ruang yang luas. Saya harus ekstra hati-hati, menjaga jarak, dan memilih momen yang tepat untuk menyalip. Fokus menjadi hal utama, karena sedikit saja lengah bisa berakibat fatal.
Tak hanya padat oleh kendaraan besar, kondisi jalan pun cukup menguji. Beberapa ruas terasa bergelombang, bahkan berlubang cukup dalam. Motor yang saya kendarai beberapa kali terguncang keras, membuat tangan dan bahu terasa tegang. Saya harus memperlambat laju, menghindari lubang, dan tetap menjaga keseimbangan di tengah arus kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Cuaca bagi pemudik pun belakangan tak kalah menantang. Pagi hingga siang hari cerah dengan langit yang bersih, seolah memberi semangat tambahan untuk memacu motor. Namun, sore hari berpotensi bisa mendadak hujan lebat sehingga pemudik motor wajib menyiapkan jas hujan dan sandal jepit sebagai pengganti sepatu untuk sementara.
Memasuki siang yang terik di sepanjang Pantura Subang, Indramayu, dan Cirebon, tubuh mulai memberi sinyal lelah. Punggung terasa pegal, tangan kaku, dan pinggang mulai nyeri akibat duduk terlalu lama. Konsentrasi pun sedikit menurun. Saya sadar, memaksakan diri bukanlah pilihan bijak. Perjalanan ini bukan lomba, dan keselamatan jauh lebih penting daripada kecepatan. Apalagi saat memasuki Kabupaten Cirebon, mata ngantuk berat bikin motor nggak stabil.
Saya pun berhenti di beberapa titik untuk beristirahat. Posko mudik, pom bensin, hingga masjid menjadi tempat singgah yang sangat berarti di sepanjang jalan. Di sana, saya bisa meregangkan tubuh dan kembali mengumpulkan tenaga. Kadang, berbincang singkat dengan sesama pemudik bisa memberi semangat baru untuk melanjutkan perjalanan.
Saat hendak kembali memulai perjalanan, saya sempatkan untuk menengok kondisi motor secara keseluruhan. Benar saja, saya menemukan 6 baut kap bagian belakang mesin copot. Kondisi yang bisa berakibat fatal jika tidak diketahui. Segera saya mencari bengkel. "Kenangapa, mas?" tanya montir dengan logat khas Cirebonan.
"Ini kang, baut pada copot," jawabku. Setelah dia cek dan pasang baut dari bengkelnya, ternyata sudah dol. Baut tidak bisa terpasang dengan kencang. Montir tak mau kehilangan akal, dia memahami betul kondisi kendaraan berpengaruh terhadap keselamatan pemudik. Akhirnya dia akali dengan memasukkan kabel tis berbarengan dengan baut sehingga baut bisa terpasang dengan kencang. "Alhamdulillah, selamet," ucapku membatin karena bisa melanjutkan perjalanan kembali menuju daerah Losari, Brebes, tempat kelahiranku.
Baca Juga
Baca Doa Ini Saat Perjalanan Mudik
Sebelum itu, saat sampai di Gebang, Cirebon, saya sempatkan menelpon bapak. Saya berhenti tepat di seberang kantor Polsek Gebang. "Nggak perlu ngebut-ngebut, berhenti istirahat kalau tangan sudah kesemutan," pesan bapakku. Tangan saya memang sering kesemutan jika memacu motor, apalagi saat perjalanan jauh. Dan dia paham betul meskipun tidak pernah saya kasih tahu bahwa tangan saya sering kesemutan saat menggenggam setir motor.
Perjalanan lanjut ke Bumiayu. Namun sebelum itu, saat di jalur Ketanggungan-Larangan, Brebes, saya teringat untuk membeli bawang merah kering untuk ibu mertuaku di Bantarkawung, Brebes. Jago masak, itulah gambaran singkat mertuaku ketika sudah di dapur.
Singkatnya, saya mampir di sebuah rumah yang menjual bawang merah. Penjualnya sudah cukup sepuh, nenek berusia 65 tahun. "Bawang, mas," ucap dia. "Iya nek," kataku. "Tapi sakiye bawange lagi larang nemen, mas (tapi sekarang bawangnya lagi mahal banget, mas)," ujar dia ngasih tahu sebelum saya mengatakan minat atau sebaliknya. Saya beli dua kilogram. Harga per kilonya Rp 45.000.
Sembari istirahat sebentar, saya sempatkan ngobrol dengan sang nenek. Dia menceritakan riwayatnya sebagai pedagang warung sate dan soto yang kini sudah tidak dijalankannya. Sebab, rumahnya yang tepat di pinggir jalan raya, jalur selatan pemudik, posisinya semakin di bawah jalan karena volume jalan yang semakin meninggi. Saya melihat sendiri dia harus naik dan turun setinggi setengah meter saat menuju teras rumahnya yang kini buat jualan bawang merah. "Dulu kalau musim mudik lebaran begini warung saya ramai, mas. Sekarang mau saya jual aja rumah ini," ucapnya.
Alhamdulillah, ala kulli hal, perjalanan mudik dengan sepeda motor memang menghadirkan pengalaman yang tak tergantikan, kebebasan, kedekatan dengan jalan, minim ongkos, dan cerita-cerita kecil di sepanjang perjalanan. Namun di balik semua itu, ada risiko besar yang tak bisa diabaikan. Jika tidak benar-benar diperlukan, sebaiknya memilih moda transportasi yang lebih aman dan nyaman. Karena pada akhirnya, tujuan utama mudik bukan sekadar sampai, melainkan tiba dengan selamat dan bisa bersilaturahim dengan keluarga di kampung halaman.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Niat Zakat Fitrah Lengkap untuk Diri Sendiri, Keluarga, dan Orang Lain yang Diwakilkan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
6
Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
Terkini
Lihat Semua