Akademisi UGM Nilai Industri Padat Karya Belum Cukup Tampung Pencari Kerja
NU Online · Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Keterbatasan lapangan kerja di Indonesia menjadi tantangan di tengah bertambahnya jumlah pencari kerja setiap tahun. Jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja, sementara penganggur, pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dan masyarakat yang mencari pekerjaan baru juga membutuhkan kesempatan kerja. Kondisi ini diperberat oleh otomatisasi dan perlambatan industrialisasi.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof R Agus Sartono, menilai persoalan penyerapan tenaga kerja tidak dapat dilepaskan dari ketimpangan antara besarnya pasokan tenaga kerja dan pertumbuhan industri. Pasar kerja harus menampung lulusan perguruan tinggi, lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan pendidikan, serta pencari kerja yang belum memperoleh pekerjaan.
“Kondisi tersebut turut meningkatkan persaingan di pasar kerja. Sebagian lulusan perguruan tinggi bahkan harus bersaing untuk memperoleh pekerjaan yang sebelumnya dapat diisi oleh lulusan sekolah menengah,” katanya dalam keterangan yang diterima NU Online, Selasa (20/10/2026).
Menurut Agus, persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan meningkatkan jumlah lulusan berpendidikan tinggi. Pertumbuhan kesempatan kerja juga harus menjadi perhatian agar penambahan jumlah tenaga kerja diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja.
Otomatisasi dan Perlambatan Industrialisasi
Agus menjelaskan bahwa otomatisasi menjadi salah satu faktor yang mempersempit kesempatan kerja. Pemanfaatan teknologi memang membantu perusahaan bekerja lebih efisien, tetapi pada saat yang sama mengurangi kebutuhan tenaga manusia untuk sejumlah pekerjaan.
“Memang teknologi juga membuka ruang untuk perusahaan, tapi berapa banyak orang yang digantikan dengan mesin?” ujarnya.
Ia mencontohkan perubahan dalam layanan pelanggan dan sektor perbankan. Pekerjaan yang sebelumnya mengandalkan interaksi langsung dengan tenaga manusia kini semakin banyak dialihkan ke mesin dan layanan daring.
“Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan tenaga kerja,” ujarnya.
Selain otomatisasi, Agus menyoroti perlambatan industrialisasi yang membatasi kemampuan perekonomian dalam menyediakan lapangan kerja.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar untuk mengimbangi banyaknya pencari kerja yang memasuki pasar setiap tahun.
“Namun, sejumlah sektor yang memiliki kapasitas penyerapan tenaga kerja besar menghadapi tantangan untuk berkembang,” katanya.
Ia mencontohkan industri tekstil yang harus bersaing dengan produk impor. Agus juga menyoroti dilema industri rokok yang menghadapi kampanye pengendalian konsumsi, meskipun sektor tersebut turut menyediakan pekerjaan bagi banyak orang.
“Jadi, industri-industri yang menyerap tenaga kerja cukup besar ini tidak cukup tumbuh untuk menampung sumber daya manusia yang besar,” ucapnya.
Agus menegaskan bahwa pertumbuhan industri perlu diarahkan agar tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka kesempatan kerja secara luas. Hal ini penting untuk mengimbangi pertambahan jumlah pencari kerja dan mencegah persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat.
“Apabila pertumbuhan industri tidak mampu mengimbangi pertambahan pencari kerja, persaingan untuk memperoleh pekerjaan akan semakin ketat,” tegasnya.
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
4
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
5
BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober
6
PWNU Jakarta Jadwalkan Pembukaan Konferwil XXI di Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur
Terkini
Lihat Semua