Alissa Wahid: Pesantren Punya Peran Strategis dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri
NU Online · Senin, 20 Juli 2026 | 17:00 WIB
Alissa Wahid dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang digelar PBNU melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026). (Foto: NU Online/Suci Amaliyah)
Suci Amaliyah
Kontributor
Cirebon, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Kesejahteraan Masyarakat, Alissa Wahid, menegaskan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi tidak boleh dipahami hanya sebagai pembahasan mengenai seksualitas atau perilaku seksual.
Menurutnya, kesehatan reproduksi mencakup berbagai persoalan penting yang berkaitan dengan kualitas hidup, mulai dari stunting, anemia, hingga tingginya angka kematian ibu dan bayi.
"Soal stunting, angka kematian ibu dan bayi, juga anemia, itu semua bagian dari kesehatan reproduksi. Jadi, tidak terfokus hanya pada persoalan perilaku seksual saja," ujar Alissa dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri yang digelar PBNU melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026).
Menurut Alissa, masih banyak penolakan terhadap pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren karena materi tersebut dianggap identik dengan pembahasan mengenai perilaku seksual. Padahal, anggapan itu tidak tepat.
Ia menjelaskan, anggapan pertama yang sering muncul adalah bahwa pendidikan kesehatan reproduksi akan memperkenalkan perilaku seksual kepada santri. Sementara itu, anggapan kedua menyebut materi tersebut sebenarnya telah diajarkan melalui kitab-kitab fiqih.
Padahal, menurut Alissa, pembahasan dalam fikih lebih banyak berkaitan dengan aspek hukum, seperti haid, nifas, dan proses reproduksi perempuan. Sementara itu, isu kesehatan seperti anemia, pencegahan stunting, kesehatan ibu, maupun kaitannya dengan kualitas generasi yang akan lahir belum banyak dibahas sebagai bagian dari pendidikan kesehatan reproduksi.
Karena itu, ia menilai pesantren memiliki posisi yang sangat strategis untuk menghadirkan pendidikan kesehatan reproduksi secara lebih komprehensif. Pasalnya, pesantren tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga pengasuhan.
"Pesantren menggantikan peran orang tua. Anak diserahkan secara utuh kepada pesantren sehingga fungsi pendidikan dan pengasuhan berjalan bersamaan," katanya.
Menurut Alissa, peran tersebut memberikan kesempatan besar bagi pesantren untuk membentuk pengetahuan, karakter, dan perilaku hidup sehat para santri sejak dini.
"Jika aspek kesehatan reproduksi tidak diajarkan secara utuh, santri berpotensi menyelesaikan pendidikan tanpa memahami persoalan-persoalan penting yang berkaitan dengan kesehatan dirinya maupun keluarganya di masa depan," jelasnya.
Pesantren, lanjut Alissa, memiliki peran yang sangat strategis dalam mempersiapkan generasi yang mampu membangun kehidupan keluarga yang sehat pada masa depan.
"Karena itu, pendidikan kesehatan reproduksi harus dipahami secara utuh, bukan hanya dipersempit menjadi persoalan seksualitas," pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Alvin Tedjo, Pria Keturunan Indonesia yang Terpilih sebagai Wali Kota Mississauga di Kanada
4
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
5
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
6
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar: Tugas Pengurus Merangkul Semua Elemen, Meningkatkan Kualitas Nahdliyin
Terkini
Lihat Semua