Nasional

AS Tarik Pasukan dari Irak Setelah Lebih dari Dua Dekade

NU Online  ·  Kamis, 1 Oktober 2026 | 22:45 WIB

AS Tarik Pasukan dari Irak Setelah Lebih dari Dua Dekade

Potret tentara di Irak.(Foto:

Jakarta, NU Online

Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menyelesaikan penarikan seluruh pasukan militernya dari Irak setelah lebih dari 20 tahun, Rabu (30/9/2026) waktu setempat.


Melansir DW News, pada Rabu (30/9/2026), Amerika Serikat menyelesaikan penarikan 2.500 tentara dari wilayah Irak sesuai perjanjian pada tahun 2024.


Penarikan tersebut menandai berakhirnya misi militer internasional di bawah skema Operation Inherent Resolve yang dipimpin AS melawan kelompok Negara Islam atau ISIS selama 12 tahun. Hal tersebut sekaligus mengakhiri kehadiran tentara AS di Irak selama lebih dari dua dekade. Setelah invasi AS pada 2003, pasukan AS menarik diri pada 2011 dan kembali lagi pada 2014 untuk memerangi ISIS.


Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi mengatakan bahwa bagi pemerintah Irak di Baghdad, 30 September 2026 menandai berakhirnya sebuah era.  "1 Oktober akan menjadi hari baru dalam perjalanan negara Irak, dengan negara yang bebas dari kehadiran militer asing dan terwujudnya kedaulatan nasional penuh atas wilayahnya," ujar al-Zaidi dalam sebuah pernyataan, dikutip NU Online dari DW News, Kamis (1/19/2026).


Kendati demikian, penarikan militer AS tersebut masih dinilai menyisakan dinamika keamanan baru seiring belum usainya ancaman dari kelompok-kelompok milisi di kawasan tersebut.


Pada Juli, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan telah bertemu dengan PM Irak al-Zaidi. Ia menegaskan bahwa penyesuaian hubungan pertahanan kedua negara tetap membutuhkan jaminan keamanan kawasan.


​"Membangun hubungan pertahanan bilateral AS-Irak yang normal membutuhkan lingkungan yang aman dan bebas dari tekanan teroris," kata Hegseth dalam pernyataan resmi usai pertemuan yang dikutip NU Online dari DW.


Sementara itu, Al Jazeera melaporkan bahwa Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi mengatakan bahwa hubungan bersama AS bergeser ke hubungan bilateral ekonomi dan keamanan yang lebih lazim. Al-Zaidi juga mengajak pihak regional dan asing untuk berinvestasi di Irak. 


Menurut laporan tersebut, pasukan pemerintah Irak juga menyatakan bahwa pihaknya mampu menangani ancaman keamanan tanpa kehadiran militer AS. Pengunduran pasukan tersebut juga disambut oleh kelompok penentang kehadiran militer AS. Salah satu komandan Perlawanan Islam di Irak, kelompok payung milisi pro-Iran, Abu Mojtaba al-Yasiri. Ia menyebut bahwa momen penarikan pasukan tersebut sebagai bentuk kekalahan pendudukan asing.


"Ini kemenangan bersejarah bagi kelompok Perlawanan Islam Irak dan warga Irak yang terhormat, dan kekalahan telak bagi proyek Amerika," ujar al-Yasiri sebagaimana dikutip NU Online dari Al Jazeera.


Sebagai bentuk perayaan atas pengosongan pangkalan militer asing, Pemerintah Irak menetapkan empat hari peringatan "Hari Kedaulatan Nasional" yang dimulai sejak 30 September 2026.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang