Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Penerbangan Turun hingga 400 Meter
NU Online · Jumat, 9 Oktober 2026 | 13:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, sejak Kamis (8/10/2026) pagi hingga sore. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat. Sementara itu, kualitas udara di sejumlah wilayah terpantau dalam kategori berbahaya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Suar Pelita Panjaitan menyampaikan bahwa asap pekat membuat masyarakat tidak nyaman saat beraktivitas.
“Tampak masyarakat kota menggunakan masker ketika berlalu lintas. Namun, ada juga warga yang tidak menggunakannya saat beraktivitas di luar ruang,” ujar Berton di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2,5 di Kota Palembang pada Kamis (8/10/2026) mencapai 356,9, sedangkan pada Jumat (9/10/2026) mencapai 381,1. Kedua angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya.
“Kualitas udara perlu diwaspadai karena sejumlah wilayah terpantau dalam kategori berbahaya,” ujar Berton.
Ia menyampaikan bahwa kabut asap juga berdampak pada operasional penerbangan. Jarak pandang yang terbatas menyebabkan sejumlah penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II mengalami penundaan.
“Sejumlah penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II mengalami penundaan demi alasan keamanan dan keselamatan,” katanya.
Pada Kamis (8/10/2026), jarak pandang di Palembang tercatat sempat menurun hingga 400 meter. Sementara itu, pada Rabu (7/10/2026), tiga penerbangan sipil mengalami gangguan jadwal keberangkatan dan kedatangan akibat kondisi tersebut.
Berton menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan BNPB pada Kamis (8/10/2026), sebanyak 354 titik panas (hotspot) terdeteksi dengan tingkat kepercayaan tinggi. “Sedangkan titik api atau fire spot, sebanyak 92 titik yang masih membakar lahan seluas 390,61 hektare,” imbuhnya.
Dalam kurun waktu 24 jam, hasil pemantauan satelit NOAA20 mendeteksi 49 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. “Jumlah hotspot terbanyak ada di Ogan Komering Ilir dengan 45 titik, sedangkan di Muara Enim empat titik,” katanya.
Berton mengatakan bahwa sebagian besar wilayah Sumatera Selatan berada dalam kategori sangat mudah terbakar. “Berdasarkan tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan pada kategori sangat mudah terbakar,” tuturnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah guna mengurangi paparan asap. “Di samping itu, warga juga diharapkan untuk selalu berhati-hati saat berkendara karena jarak pandang yang kurang,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Alvin Tedjo, Pria Keturunan Indonesia yang Terpilih sebagai Wali Kota Mississauga di Kanada
4
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
5
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
6
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar: Tugas Pengurus Merangkul Semua Elemen, Meningkatkan Kualitas Nahdliyin
Terkini
Lihat Semua