BMKG Siapkan Modifikasi Cuaca jika Polusi Udara Jakarta Memburuk
NU Online · Rabu, 29 Juli 2026 | 17:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah antisipatif apabila kualitas udara di Jakarta memburuk akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Langkah ini disiapkan di tengah potensi meningkatnya konsentrasi polutan ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan operasi modifikasi cuaca akan dilakukan secara situasional dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang dipantau secara real time.
Menurutnya, operasi tersebut tidak dapat dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.
"Secara situasional melihat kondisi yang ada di Jakarta. Kalau tanpa awan, kita tidak bisa melakukan modifikasi cuaca," ujar Teuku di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, hingga kini BMKG bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta terus melakukan pemantauan atmosfer secara berkelanjutan sekaligus menyiapkan infrastruktur pendukung operasi modifikasi cuaca.
Teuku mengatakan kualitas udara Jakarta umumnya mulai menurun setelah dua hingga tiga minggu tanpa hujan. Kondisi tersebut menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di atmosfer sehingga berpotensi memperburuk kualitas udara yang dihirup masyarakat.
"Biasanya jika Jakarta mengalami dua hingga tiga minggu tanpa hujan, kualitas udaranya juga menurun," ujarnya.
Ia menambahkan, operasi modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu alternatif untuk memicu hujan sehingga membantu menurunkan konsentrasi polutan. Namun, efektivitas langkah tersebut tetap bergantung pada kondisi alam yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
"Jadi ketika periode tanpa hujan sudah cukup panjang, operasi modifikasi cuaca dapat dilakukan dengan catatan masih tersedia awan yang memungkinkan untuk disemai sehingga dapat membantu membuat kondisi Jakarta lebih sejuk," katanya.
Teuku juga menyampaikan bahwa sejumlah gedung tinggi di Jakarta telah dipasangi ground-based generator. Peralatan tersebut akan digunakan ketika terdapat awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan.
"Di Jakarta kami juga memasang ground-based generator. Ketika terdapat awan yang berpotensi menghasilkan hujan, alat tersebut akan digunakan untuk melepaskan bahan semai sehingga dapat memicu terjadinya hujan," tuturnya.
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua