BRIN Sebut Ekosistem Padang Lamun Terancam, Pesisir dan Iklim Global Terpapar Risiko
NU Online Ā· Selasa, 3 Maret 2026 | 16:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Peneliti Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bayu Prayudha, mengungkapkan bahwa ekosistem padang lamun selama ini kerap luput dari perhatian. Padahal, perannya sangat vital dalam menjaga wilayah pesisir dan menahan laju krisis iklim.
Dalam webinar Menjaga Dalam Senyap: Padang Lamun, Sang Pelindung Pesisir dan Pengendali Iklim GlobalĀ pada Senin (2/3/2026), Bayu menyebutkan bahwa luasan lamun di Indonesia pada 2025 tersisa sekitar 660.156,35 hektare atau sekitar 80 persen dari kondisi sebelumnya.
āPadang lamun bukan tumbuhan laut biasa, melainkan fondasi penting bagi keberlanjutan ekosistem pesisir dan ketahanan pangan, baik di laut maupun di darat,ā ujarnya.
Senada, Peneliti Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Nurul Dhewani, menegaskan bahwa padang lamun merupakan habitat penting yang semakin terpinggirkan.
āPadang lamun menyediakan berbagai jasa ekosistem yang menopang kehidupan manusia, mulai dari perlindungan garis pantai hingga penyediaan sumber daya perikanan,ā katanya.
Ia menjelaskan bahwa lamun memberikan jasa penyedia (provisioning services), jasa pengaturan (regulating services), jasa budaya (cultural services), hingga jasa pendukung (supporting services). Salah satunya adalah kemampuannya membantu menyerap karbon dioksida, sehingga berkontribusi terhadap pengendalian perubahan iklim.
Namun demikian, ekosistem lamun menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia, seperti reklamasi, polusi, penangkapan ikan destruktif, pengerukan, sedimentasi, hingga penambangan pasir.
āDitambah lagi dengan perubahan iklim global yang meningkatkan suhu laut, abrasi, dan kenaikan muka air laut,ā tuturnya.
Menurut Nurul, kerusakan lamun tidak hanya berdampak pada hilangnya biodiversitas, tetapi juga mengancam ekonomi masyarakat pesisir.
āEkosistem lamun memiliki keterkaitan erat dengan perikanan dan ketahanan pangan, baik bagi hewan maupun manusia, serta sejalan dengan komitmen Convention on Biological Diversity (CBD),ā ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan yang terintegrasi, antara lain melalui pembentukan kawasan konservasi lamun, restorasi habitat, peningkatan kesadaran masyarakat lokal, serta penguatan regulasi dan kebijakan perlindungan ekosistem pesisir.
āKolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar ekosistem ini tidak semakin tergerus. Tanpa langkah konkret dan konsisten, hilangnya padang lamun akan menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan pesisir Indonesia sekaligus memperburuk krisis iklim global,ā pungkasnya.
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Banjir Berulang di Ketanggungan Brebes, Warga Desak Pemerintah Lakukan Normalisasi Sungai
5
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
6
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
Terkini
Lihat Semua