Buya Arrazy Hasyim: Mendoakan Pemimpin adalah Ajaran Ahlussunnah
NU Online · Selasa, 1 Maret 2022 | 10:15 WIB
Pengasuh Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah Ciputat Jakarta Selatan, Buya Arrazy Hasyim saat mengisi kajian Isra' Mi'raj Tingkat Kenegaraan bertema Teguhkan Semangat Beragama dan Berbangsa, Senin (28/2/2022) malam. (Foto: Humas Kemenag)
Syarif Abdurrahman
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pengasuh Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah Ciputat Jakarta Selatan, Buya Arrazy Hasyim menjelaskan bahwa ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah selalu mendoakan ulama dan pemimpinnya dalam keadaan apa pun.
Hal ini diutarakannya saat mengisi kajian Isra' Mi'raj Tingkat Kenegaraan bertema Teguhkan Semangat Beragama dan Berbangsa yang dilakukan secara daring dan luring, Senin (28/2/2022) malam.
"Semua kitab-kitab Ahlussunnah yang jadi panutan mayoritas umat Islam Indonesia. Di sana dijelaskan kewajiban untuk mendoakan para pemimpin," jelasnya.
Mendoakan pemimpin, kata Buya Arrazy Hasyim tetap dilakukan meskipun pemimpin itu dikabarkan berbuat zalim dan lain sebagainya. Dengan harapan, setelah berdoa ada perubahan ke arah positif dari pemimpin tersebut. "Meskipun dikabarkan pemimpin tersebut dzolim dan tidak disukai. Maka tetap diwajibkan mendoakannya," imbuhnya.
Menurutnya, pendapat ini dipertegas lagi oleh Imam Sya'roni dalam kitab Al-Bahrul Maurud fii Mawatsiiqi wal Uhud.
Di sana dijelaskan bahwa Imam Sya'roni tidak melihat ulama ahli qolbu, ahli ma'rifat, yang biasa dikenal dengan sufi kecuali mereka sedikit sekali ingkar dengan ulama dan umara.
Justru ahli makrifat atau sufi tersebut mendoakan para pemimpin dari dalam hati, dalam kesendirian karena yang dipikirkan kemashlahatan umat, bukan emosi berpolitik semata.
"Semoga pemimpin-pemimpin negeri ini diberikan keselamatan, terimakasih sudah merawat negeri. Semoga Allah terus membersamai," ujar tokoh asal Sumatera Barat ini.
Buya Arrazy mengajak para pemimpin yang ada di Indonesia dan rakyat untuk sama-sama membersihkan diri dari sifat kebencian dan dendam.
Indonesia negara paling saleh. Umat Islamnya paling banyak. Indonesia adalah negara paling banyak membaca tahlil (kalimat laa ilahaillallah) dan yasinnya. Harusnya bertambah kekayaan rohaninya tidak tambah kesombongannya.
"Jika hendak memajukan negeri ini, ingin meningkatkan negeri ini maka mari kita sama-sama membersihkan qolbu ini dari kebencian. Mulai malam ini, tidurlah dalam cinta Allah Swt beserta Rahman dan Rahim-nya," pintanya.
Hal yang hampir sama pernah dicontohkan oleh Rasulullah ketika Jibril menawarkan ke nabi Muhammad Saw untuk menghancurkan orang yang mengganggu dakwahnya.
Namun, Nabi Muhammad menolak. Ia menganggap bahwa kaum tersebut hanya belum paham maksudnya. Arrazy Hasyim berharap semangat ini ada di dalam hati para ulama dan pemimpin negeri ini. Sehingga mampu memperbaiki mana yang rusak dan pecah.
"Nabi Muhammad berdoa terbebas dari kebencian, dendam dan kekesalan dari dalam dada. Semoga orang yang memimpin negeri ini dan rakyatnya dibersihkan hatinya dari kebencian," tandasnya.
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua