Catatan Dai Penggerak 3T dari Singkut, Jambi: Ketika Ilmu Masih Mencari Jalannya
NU Online · Sabtu, 12 September 2026 | 12:00 WIB
Seorang santri Kelas VII duduk di hadapan saya ketika saya memintanya membaca makna salah satu hadits dari 101 Hadits Budi Luhur. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, jawaban yang kemudian ia sampaikan justru membuat saya terdiam.
Di usianya yang sudah memasuki jenjang SMP, ia mengaku belum bisa membaca dengan baik.
Ketika saya bertanya mengapa, jawabannya singkat, “Waktu SD nggak terlalu diperhatikan, Mbak.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi, entah mengapa, cukup lama tinggal di pikiran saya.
Pengalaman tersebut saya alami ketika menjalankan tugas sebagai Dai Penggerak NU bersama Rif'atus Syamsiyah di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Singkut, Jambi. Berada di tengah masyarakat dan pesantren membuat saya kembali memahami bahwa dakwah tidak selalu dimulai dengan menyampaikan apa yang kita kuasai.
Kadang, dakwah justru dimulai dari kesediaan untuk melihat lebih dekat apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang-orang yang kita temui.
***
Ketika pertama kali datang ke Nurul Jadid akhir Agustus 2026, saya dan Rifa membawa bekal pengalaman, keilmuan, serta beberapa rencana. Kami membayangkan tugas kami adalah mengisi ruang-ruang dakwah yang tersedia: mengajar, mendampingi santri, dan menjalankan berbagai program yang dapat kami lakukan.
Namun, semakin lama berada di sana, semakin saya menyadari bahwa kebutuhan dakwah tidak selalu sesederhana program yang telah disiapkan.
Sebelum bertemu santri Kelas VII itu, saya juga bertemu dengan seorang anak Kelas III SD yang belum bisa membaca dengan baik. Ada perbedaan situasi di antara keduanya. Waktu belajar santri SMP cukup sulit kami temui, sementara anak Kelas III SD masih memungkinkan untuk didampingi secara langsung karena kami tinggal bersamanya.
Saya dan Rifa kemudian mencoba membersamai proses belajarnya.
Tidak ada metode yang rumit. Kami hanya duduk bersamanya, menemani proses mengenali bacaan, dan memberikan perhatian yang mungkin selama ini belum cukup ia dapatkan.
Dari proses sederhana itu, saya kembali diingatkan bahwa dalam pendidikan, kehadiran seseorang untuk membersamai proses belajar bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Pengalaman di Singkut juga membuat saya melihat persoalan pendidikan dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini, ketika berbicara tentang keterbatasan pendidikan, perhatian sering tertuju pada wilayah yang secara geografis jauh dari pusat-pusat pendidikan, termasuk Indonesia Timur.
Namun, berada di Singkut membuat saya menyadari bahwa persoalan serupa ternyata juga dapat ditemukan di Indonesia bagian barat.
Di tengah pengalaman itu, saya kembali mengingat pesan Abah ketika kami sowan dan menyampaikan beberapa mata pelajaran yang dapat kami ajarkan.
Saya dan Rifa sempat berpikir bahwa kami perlu mengajar sesuai dengan bidang yang benar-benar menjadi keahlian kami. Namun, Abah memberikan pandangan yang sederhana.
“Tidak terlalu penting keahliannya. Apa pun ilmu yang kita punya, maka sampaikan.”
Kalimat tersebut terasa semakin dalam setelah saya melihat sendiri kebutuhan di pesantren. Ternyata, kebutuhan terhadap ilmu tidak selalu berbentuk kebutuhan terhadap seseorang yang ahli dalam bidang tertentu.
Ada anak yang mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk duduk di sampingnya dan membantunya membaca.
Selama berada di Nurul Jadid, saya juga mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin mudah terlewat. Buku tulis, buku pelajaran, dan kitab terkadang diletakkan sembarangan.
Bagi saya dan Rifa, persoalannya bukan semata-mata tentang kerapian. Buku dan kitab adalah wasilah ilmu. Ia menjadi salah satu jalan yang menghubungkan seorang santri dengan pengetahuan yang sedang ia tempuh.
Karena itu, ketika melihat buku dan kitab diperlakukan tanpa perhatian, saya kembali bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan dakwah memang sesederhana itu—hadir, melihat, mendengarkan, lalu melakukan apa yang memang dibutuhkan.
Di Nurul Jadid, saya belajar bahwa dakwah tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari sebuah percakapan, dari menemani seorang anak belajar membaca, atau dari mengingatkan bagaimana seharusnya memperlakukan buku dan kitab.
Sebab, ilmu tidak hanya membutuhkan orang yang menyampaikannya. Ilmu juga membutuhkan seseorang yang bersedia hadir dan membersamai orang lain untuk menemukannya.
Putri Milenia Gusdian, Dai Penggerak 3T dengan penugasan ke , Singkut, Jambi.
Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.
Terpopuler
1
KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
2
Khutbah Jumat: Beberapa Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Kematian
3
Khutbah Jumat: Hati Merasa Jauh dari Allah, Apa yang Harus Dilakukan?
4
Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri
5
Khutbah Jumat: Musim Kemarau dan Anjuran Hemat Air dalam Islam
6
4 Gunung Berapi Indonesia Meletus Dini Hari hingga Pagi Ini
Terkini
Lihat Semua