Nasional

Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Dokter NU Imbau Masyarakat Waspadai Heatstroke

NU Online  ·  Selasa, 4 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Dokter NU Imbau Masyarakat Waspadai Heatstroke

Ilustrasi panas. (Foto: Magnific)

Jakarta, NU Online

 

Puncak musim kemarau 2026 yang diperkirakan terjadi pada Agustus dan Septermber mulai memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah normal dan sekitar 61 persen zona musim memasuki puncak kemarau pada Agustus.

 

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Muhammad S Niam mengingatkan bahwa cuaca panas dan kemarau yang kering dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama jika masyarakat tidak memperhatikan kebutuhan cairan tubuh.

 

“Cuaca panas dan kemarau yang kering memang dapat memberikan kontribusi besar terhadap meningkatnya keluhan kesehatan masyarakat,” ujarnya kepada NU Online, Selasa (4/8/2026).

 

Niam mengatakan pada kondisi panas yang berlangsung lama, tubuh akan terus berupaya mempertahankan suhu normal dengan meningkatkan pengeluaran panas melalui keringat. Namun, kondisi tersebut dapat menjadi berbahaya ketika cairan yang hilang tidak segera digantikan.

 

“Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, seseorang dapat mengalami dehidrasi, lemas, pusing, sakit kepala, kram, bahkan heat exhaustion atau heatstroke,” katanya.

 

Ia menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara demam akibat penyakit dan peningkatan suhu tubuh karena paparan panas berlebihan.

 

“Demam sejati biasanya merupakan respons tubuh terhadap infeksi atau proses penyakit lainnya, sedangkan cuaca panas lebih sering menyebabkan peningkatan suhu tubuh atau hyperthermia, yang mekanismenya berbeda dari demam akibat infeksi,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Niam menyampaikan bahwa tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pengatur suhu yang sangat baik.

 

“Ketika lingkungan menjadi panas, pembuluh darah kulit melebar dan tubuh meningkatkan produksi keringat untuk membuang panas,” terangnya.

 

Ia menambahkan, masalah akan muncul ketika panas yang masuk ke tubuh lebih besar dibandingkan kemampuan tubuh untuk membuangnya. “Apalagi jika seseorang banyak berkeringat tetapi tidak mengganti cairan yang hilang,” katanya.

 

Akibatnya, volume cairan tubuh menurun sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan sirkulasi darah.

 

“Tekanan darah dapat turun, dan aliran darah ke organ-organ penting dapat terganggu. Ginjal juga mendapat beban yang lebih berat,” ujar Niam.

 

“Inilah yang menyebabkan munculnya keluhan seperti haus, lemas, pusing, sakit kepala, kram, mual, hingga gangguan kesadaran,” sambungnya.

 

Menurut Niam, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih berat apabila tidak segera ditangani.

 

“Jika proses ini berlanjut, tubuh kehilangan kemampuan mempertahankan suhu normal. Kondisinya dapat berkembang dari heat cramps, menjadi heat exhaustion, dan pada kondisi berat menjadi heatstroke,” ungkapnya.

 

Ia menegaskan bahwa heatstroke merupakan kondisi darurat medis. “Heatstroke merupakan kegawatdaruratan medis karena suhu tubuh yang sangat tinggi disertai gangguan sistem saraf pusat dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ, termasuk otak, ginjal, hati, dan sistem kardiovaskular,” jelasnya.

 

Niam mengimbau masyarakat tidak menyepelekan cuaca panas yang dapat menimbulkan penyakit heatstroke, demam, hingga dehidrasi.

 

“Saya mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh cuaca panas dan kemarau yang berkepanjangan,” tegasnya.

 

Ia juga mengingatkan warga untuk mengurangi aktivitas fisik berat saat matahari terik, menggunakan pakaian yang nyaman, serta segera beristirahat ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

 

“Jangan menganggap semua kenaikan suhu tubuh sebagai demam biasa dan jangan menganggap semua keluhan lemas sebagai akibat kurang tidur atau kecapekan. Bila terdapat penurunan kesadaran, kebingungan, kejang, sesak berat, atau kondisi tubuh sangat panas setelah terpapar cuaca ekstrem, segera cari pertolongan medis,” ucapnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang