Di Era Digital dan AI, Prof Quraish Shihab Tekankan Pentingnya Veifikasi Informasi
NU Online · Rabu, 4 Maret 2026 | 16:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) dan derasnya arus informasi media sosial, masyarakat modern dihadapkan pada tantangan moral yang kian kompleks. Batas antara kebenaran dan kebohongan semakin kabur, sementara penyebaran informasi berlangsung begitu cepat.
Pakar Tafsir Al-Qur'an, Prof Muhammad Quraish Shihab, menekankan pentingnya menjaga akhlak dalam memfilter informasi demi merawat kohesi sosial dan kesehatan mental. Menurutnya, Islam telah memberikan panduan preventif melalui jalan tabayun atau verifikasi.
“Al-Qur'an memerintahkan kita melakukan check and recheck kalau yang menyampaikan itu orang durhaka atau fasik. Kalau orang baik-baik yang menyampaikan, tidak wajib karena ia sudah menyeleksi informasinya sendiri,” ujarnya dalam pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Bijak Menanggapi Informasi di kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an, Senin.
Ia mengingatkan, di era digital, teknologi memungkinkan pemalsuan figur publik, termasuk melalui manipulasi suara dan gambar.
“Sekarang orang baik-baik juga dipalsukan. Ada ceramah saya, padahal saya tidak bicara begitu. Lihatlah orangnya, lihat sumbernya,” katanya.
Prof Quraish juga menyoroti kecenderungan masyarakat mengonsumsi konten yang tidak substansial. Ia mengutip hadis tentang tiga hal yang dibenci Allah SWT, salah satunya qiila wa qaal, sekadar pembicaraan tanpa kejelasan dan manfaat. “Untuk apa membuka berita-berita yang tidak ada artinya?” ujarnya.
Ia menambahkan, penyebaran informasi yang bermotif ekonomi dan politik kerap memicu hoaks. Bahkan, menyampaikan keburukan seseorang yang benar sekalipun tidak dibenarkan jika tujuannya mempermalukan atau termasuk ghibah.
“Keburukan tidak boleh disampaikan kepada orang lain walaupun benar, jika disampaikan tanpa kehadiran yang bersangkutan karena ia tidak bisa membela diri,” tuturnya.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga aib sesama. “Siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi aibnya,” katanya.
Lebih jauh, Prof Quraish menekankan peran orang tua sebagai benteng bagi anak-anak dalam menghadapi dunia digital. Memberikan akses gawai tanpa kontrol diibaratkannya seperti melepas anak ke pasar tanpa pendampingan.
“Pelihara diri kamu dan keluarga kamu dari terjerumus dalam neraka. Pembatasan penggunaan handphone pada anak perlu dipertimbangkan karena dampak buruknya, mulai dari gangguan psikologis hingga adiksi,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Kunjungi Dubes Iran, Ketum PBNU Sampaikan Solidaritas dan Dukungan Moral
2
DPR Akan Bahas dan Kawal Proses Hukum Kasus Dugaan Pelecehan oleh Juri Tahfidz TV
3
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
4
Pemerintah Akan Pangkas MBG Jadi 5 Hari, Begini Penjelasan Kepala BGN
5
Israel Tutup Masjid Al-Aqsa, Larang Warga Palestina Shalat Jumat
6
Komnas HAM Desak Penyelidikan Transparan Usai Kabais Mundur Buntut Anggotanya Terlibat Penyiraman Air Keras
Terkini
Lihat Semua