Nasional

Diam Lebih Selamat daripada Mencela, Gus Ulil Soroti Etika Lisan di Era Digital

NU Online  ·  Ahad, 1 Maret 2026 | 23:30 WIB

Diam Lebih Selamat daripada Mencela, Gus Ulil Soroti Etika Lisan di Era Digital

Gus Ulil Abshar Abdalla dalam pengajian Ramadhan yang ditayangkan di Kanal Youtube Ghazalia College. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online

Pengasuh Ghazalia College KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menyoroti etika lisan di era digital. Ia menjelaskan, keretakan sosial sering kali bukan disebabkan kurangnya kebenaran, melainkan dorongan untuk saling mencela dan terjebak dalam prasangka buruk (suuzan).


Gus Ulil menegaskan bahwa prasangka baik atau husnuzan bukan sekadar anjuran moral, melainkan fondasi sosial yang menentukan keberlangsungan kehidupan bersama.


Ia mengkritik fenomena takfir atau sikap mudah mengkafirkan dan mencela sesama Muslim yang berbeda pandangan politik maupun mazhab.


“Kesalahanmu dalam berbaik sangka kepada sesama Muslim itu jauh lebih selamat di mata Allah daripada kebenaranmu dalam mencela mereka,” ujarnya dalam pengajian Ramadhan Kitab Al-Iqtishad fi al-I’tiqad karya Imam Al-Ghazali yang ditayangkan melalui akun Youtube Ghazalia College, diakses NU Online, pada Ahad (1/3/2026).


Ia mengatakan bahwa dalam situasi sosial yang rentan konflik, sikap diam dan menahan diri justru lebih membawa keselamatan ketimbang merasa benar lalu menjatuhkan orang lain. Analogi ekstrem mengenai etika lisan yang kerap terlupakan oleh masyarakat saat ini.


“Kalau Anda diam dan tidak melaknat iblis atau Abu Jahal sepanjang hidup, itu tidak akan membahayakanmu. Tapi mencela seorang Muslim, walaupun Anda merasa benar, itu sangat berbahaya," jelas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.


Ia menilai perilaku destruktif di media sosial menunjukkan kecenderungan sebagian individu yang merasa bangga ketika berhasil mengungkap aib atau kesalahan orang lain. Padahal, kebiasaan tersebut secara perlahan meruntuhkan fondasi kepercayaan (trust) dalam masyarakat.


Gus Ulil menekankan bahwa stabilitas sebuah bangsa bertumpu pada kemauan warganya untuk saling percaya, bukan saling curiga. Ketika pintu kecurigaan dibuka tanpa kendali, maka tatanan peradaban terancam runtuh.


“Kita harus menjaga harmoni sosial. Begitu sumber-sumber kecurigaan dibuka, kesatuan masyarakat tersebut akan terancam. Tanpa ketertiban dunia yang damai, kita tidak bisa membangun peradaban, bahkan tidak bisa beribadah dengan tenang,” katanya.


Gus Ulil juga mengingatkan agar generasi sekarang tidak mudah menjadi hakim atas masa lalu atau terhadap orang lain hanya berdasarkan penilaian lahiriah. Sikap tersebut, menurutnya, justru memperlebar jurang perpecahan.


“Urusan keutamaan seseorang itu perkara gaib. Akal kita punya keterbatasan. Menilai orang hanya dari bungkus luar atau amal zahir itu tidak cukup, karena ada rahasia hati yang hanya diketahui Allah,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang