Digitalisasi UMKM, Upaya Strategis Bangkitkan Peluang Usaha Selama Pandemi
NU Online · Selasa, 8 Maret 2022 | 16:30 WIB
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pandemi Covid-19 yang berlangsung selama dua tahun telah berdampak banyak di sektor kehidupan, terutama di sektor perekonomian nasional, salah satunya pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Padahal UMKM merupakan pilar utama dalam perekonomian Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Lembaga Advokasi Bisnis Nusantara (LABNU), Rizky Wijayanti saat mengisi seminar “Pendampingan Bisnis UMKM: Peningkatan Sumber daya Manusia Pengelola UMKM” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Nahdlatul Ulama (Unusia), baru-baru ini.
Tantangan di sektor perekonomian, sambungnya, datang bukan hanya berasal dari faktor internal, melainkan juga eksternal. Faktor internal meliputi transformasi kebijakan-kebijakan pemerintah tentang pemulihan perekonomian akibat pandemi Covid 19.
“Faktor eksternal meliputi perubahan kebijakan fiskal moneter di negara negara maju, kebijakan proteksionisme perdagangan global, adanya perdagangan bebas,” terang Rizky.
Kendati demikian, ia meyakini bahwa terdapat beberapa peluang yang bisa dikembangkan pelaku UMKM untuk tetap bertahan di masa pandemi yakni dengan melakukan digitalisasi dan mengubah bisnis yang dikelola sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Dalam kondisi pandemi seperti ini, para pelaku UMKM harus mampu merespon perubahan-perubahan perilaku dan pola konsumen. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah diterapkan oleh pemerintah selama masa pandemi Covid-19 harusnya dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan penjualan secara online,” tegas Rizky.
Empat strategi pertahankan usaha di tengah pandemi
Peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penyuluhan Ekonomi Sosial (LP3S) ini mengatakan bahwa setidaknya terdapat empat strategi yang dapat dilakukan pelaku UMKM untuk dapat mempertahankan bisnisnya. Berikut empat strategi tersebut:
Pertama, melakukan penjualan melalui e-commerce.
Kedua, melakukan pemasaran produk dengan memanfaatkan teknologi digital (digital marketing).
Ketiga, melakukan perbaikan kualitas produk dan kualitas serta jenis layanan.
Keempat, melakukan pemasaran hubungan pelanggan (customer relationship marketing).
Lebih lanjut, Rizky mengungkapkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM RI yang menyampaikan bahwa jumlah UMKM saat ini mencapai 64,2 juta yang berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 61,07 persen atau senilai Rp8,5 triliun rupiah.
Data tersebut menunjukkan bahwa UMKM mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada, serta dapat menghimpun sampai 60,42 persen dari total investasi di Indonesia.
Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Aiz Luthfi
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
PBNU Terima Kunjungan BTN dan BSN, Bahas Akses KPR Subsidi bagi Warga NU
Terkini
Lihat Semua