Nasional

Dua Dai Penggerak 3T Susuri Jalan Pengabdian dari Tegal ke Lubuk Linggau

NU Online  ·  Selasa, 22 September 2026 | 15:00 WIB

Dua Dai Penggerak 3T Susuri Jalan Pengabdian dari Tegal ke Lubuk Linggau

Dua dai Penggerak 3T, Ridho Sholahudin dan Muhammad Riski Assaifi tiba di Lubuk Linggau, akhir Agustus 2026 (NU Online Institute)

Lubuk Linggau, NU Online

Perjalanan menuju daerah penugasan menjadi pengalaman tersendiri bagi dua dai Penggerak 3T, Ridho Sholahudin dan Muhammad Riski Assaifi. Keduanya adalah utusan NU Online Institute yang bertugas sejak akhir Agustus 2026.

 

Berangkat dari lingkungan pesantren di Jawa, keduanya menempuh perjalanan darat menuju Lubuk Linggau, Sumatra Selatan, untuk menjalankan amanah dakwah dan pengabdian di tengah keterbatasan.

 

Bagi Ridho Sholahudin, penugasan tersebut sekaligus menjadi pengalaman pertamanya meninggalkan Pulau Jawa dalam perjalanan jarak jauh. Santri Pondok Pesantren Darussalam Kalibakung, Tegal, itu mengaku harus keluar dari zona nyaman untuk menjalankan tugas pengabdian.

 

“Untuk saya pribadi, ini pengalaman pertama kali saya keluar dari zona nyaman, yakni Jawa. Selama ini dari kecil sampai sekarang saya hanya pergi atau berkeliling masih di Pulau Jawa,” ungkap Ridho kepada NU Online, Sabtu (19/9/2026).

 

Perjalanan menuju Sumatra ditempuh melalui jalur darat menggunakan bus dan dilanjutkan dengan penyeberangan Selat Sunda. Perjalanan yang diperkirakan sekitar satu hari satu malam itu berlangsung lebih lama akibat sejumlah kendala di perjalanan.

 

Kemacetan dan antrean pengisian bahan bakar menjadi salah satu penyebab perjalanan molor. Ridho menyebut antrean bahan bakar bahkan berlangsung sekitar lima jam.

 

Menurut pengalamannya, perjalanan tersebut akhirnya memakan waktu sekitar dua hari dua malam. Sementara Riski dalam catatan perjalanannya menyebut rombongan menempuh perjalanan selama tiga hari dua malam.

 

“Perjalanan darat tidak pernah sekadar tentang perpindahan dari satu titik ke titik lain; ia adalah kawah candradimuka bagi seorang santri perantauan,” kata Riski terkait perjalanannya.

 

Rombongan juga sempat tertahan cukup lama di Bandar Lampung. Riski mencatat sekitar enam jam dihabiskan untuk mengantre pengisian solar di salah satu SPBU.

 

Bagi Riski, keterlambatan, kelelahan, dan ketidakpastian selama perjalanan menjadi bagian dari proses menempa diri sebelum memasuki medan pengabdian.

 

Disambut Hangat di Pesantren

Setelah menempuh perjalanan panjang, Ridho dan Riski akhirnya tiba di lokasi penugasan. Keduanya disambut pengasuh pondok pesantren, KH Ahmadi Syam.

 

Kedatangan mereka dilanjutkan dengan acara taaruf atau perkenalan. Puluhan santri menyambut keduanya dengan lantunan rebana dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum.

 

Menurut Ridho, sambutan tersebut menjadi energi tersendiri setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Namun, setelah melihat langsung kondisi pesantren dan lingkungan sekitar, keduanya menyadari tantangan pengabdian yang sebenarnya baru dimulai.

 

Pondok pesantren tempat keduanya bertugas berada cukup jauh dari permukiman masyarakat. Pesantren yang baru berdiri sekitar dua tahun itu masih menghadapi keterbatasan fasilitas.

 

Dari papan nama pondok, perjalanan menuju pesantren masih harus ditempuh sekitar dua kilometer. Sebagian jalan menuju lokasi berupa jalan berbatu dan terdapat sejumlah bagian yang mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menjadi gambaran awal medan pengabdian yang harus mereka jalani.

 

Ketersediaan Air Jadi Tantangan Awal

Salah satu persoalan yang langsung mereka hadapi adalah keterbatasan ketersediaan air bersih. Wilayah tersebut tengah mengalami musim kemarau panjang yang berdampak terhadap kondisi sumber air. Bagi pesantren yang dihuni para santri, ketersediaan air menjadi kebutuhan mendasar untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

 

Persoalan air tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus dihadapi bersama selama masa pengabdian.

 

Meski menghadapi keterbatasan fasilitas dan medan yang tidak mudah, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat keduanya. Kehadiran Ridho dan Riski di pesantren bukan sekadar untuk mengajar, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang sedang membangun dan mengembangkan lingkungan pendidikan.

 

Bagi keduanya, perjalanan panjang dari Jawa menuju Lubuk Linggau menjadi bagian awal dari proses pengabdian. Tantangan perjalanan dan keterbatasan di lokasi justru menjadi pengalaman yang menempa kesiapan mereka dalam menjalankan amanah sebagai dai penggerak 3T.

 

Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T  merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.     

 

Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.

 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang