Nasional

Eropa Dilanda Cuaca Panas Ekstrem, Apakah Indonesia Mengalami Hal yang Sama? Ini Penjelasan BMKG

NU Online  ·  Rabu, 8 Juli 2026 | 15:00 WIB

Eropa Dilanda Cuaca Panas Ekstrem, Apakah Indonesia Mengalami Hal yang Sama? Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi cuaca panas di Eropa. (Foto: dok istimewa)

Jakarta, NU Online

Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa memunculkan kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan kondisi serupa terjadi di Indonesia. Namun, Pakar Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ari Kurniadi, menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di Indonesia berbeda dengan gelombang panas ekstrem di Eropa.


Menurut Ari, berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata nasional selama semester pertama 2026 memang lebih hangat dibandingkan kondisi normal.


"Saat ini memang banyak berita tentang kondisi panas terutama di Eropa. Untuk Indonesia sendiri berdasarkan data pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata nasional tahun 2026 juga menunjukkan kondisi yang lebih hangat dari normalnya," ujarnya dalam unggahan media sosial BMKG yang dikutip NU Online, Selasa (7/7/2026).


Ia menjelaskan, sejak Januari hingga Juni 2026 seluruh bulan mencatat anomali suhu positif. Bahkan, Juni 2026 menjadi bulan Juni terpanas berdasarkan hasil pengamatan BMKG.


"Sejak Januari hingga Juni 2026, seluruh bulan mengalami anomali positif. Terlebih lagi, Juni 2026 mencatat anomali sebesar 0,7 derajat Celsius dan menjadi Juni terpanas," katanya.


Meski demikian, Ari menegaskan bahwa peningkatan suhu di Indonesia tidak dapat disamakan dengan gelombang panas ekstrem yang terjadi di Eropa.


"Jadi Indonesia memang lebih panas dari biasanya dan yang teramati adalah kenaikan suhu rata-rata nasional, bukan gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di Eropa," tegasnya.


Ia menambahkan, hingga pertengahan 2026 kondisi tersebut masih belum melampaui rekor suhu terpanas yang tercatat pada 2024.


"Jika dibandingkan dengan 2024 sebagai tahun terpanas di Indonesia, kondisi 2026 sekarang ini masih belum melampaui tahun terpanas tersebut," ujarnya.


Berdasarkan data BMKG, rata-rata anomali suhu pada Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 0,45 derajat Celsius. Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2024, anomali suhu tercatat sekitar 0,8 derajat Celsius.


"Artinya, semester pertama 2026 saat ini masih berada di bawah semester pertama tahun terpanas 2024," katanya.


Karena itu, Ari menilai perkembangan suhu udara nasional masih perlu terus dipantau sebelum dapat disimpulkan apakah 2026 akan menjadi tahun terpanas yang baru.


"Jadi, 2026 tetap perlu kita pantau. Namun, sampai pertengahan tahun ini belum dapat kita katakan akan melampaui rekor panas tahun 2024 dan masih perlu menunggu perkembangan tiga sampai empat bulan ke depan," pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang