Nasional

Gejolak Harga Pangan Ramadhan 2026 Dinilai Berkaitan dengan Produksi dan Nasib Petani

NU Online  ·  Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:00 WIB

Gejolak Harga Pangan Ramadhan 2026 Dinilai Berkaitan dengan Produksi dan Nasib Petani

Petani memanem padi di sawah (Foto: SPI)

Jakarta, NU Online
Gejolak harga pangan yang kerap terjadi setiap bulan Ramadhan dinilai tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan pasar atau distribusi. Kondisi produksi nasional serta kesejahteraan petani juga menjadi faktor penting yang memengaruhi stabilitas harga pangan di Indonesia.

 

Hal itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk Gejolak Harga Pangan Ramadhan 2026 dan Kondisi Produksi Nasional yang diselenggarakan Serikat Petani Indonesia (SPI), Sabtu (14/3/2026).).


Diskusi ini menghadirkan Pengamat Ekonomi Politik Pangan Khudori; Sekretaris Lembaga Riset Internasional Pembangunan Sosial, Ekonomi, dan Kawasan IPB University, Prof Widyastutik, serta Kepala Badan Pengkajian, Penerapan Agroekologi, dan Perbenihan Pusat SPI, Kusnan.

 

Ketua Umum SPI Henry Saragih menegaskan bahwa kenaikan harga pangan menjelang Ramadhan hampir selalu terjadi setiap tahun. Namun menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat dilihat hanya dari sisi distribusi atau mekanisme pasar.


“Setiap menjelang Ramadhan, kita hampir selalu melihat gejolak harga pangan. Namun persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari sisi pasar atau distribusi saja, melainkan juga dari kondisi produksi dan situasi petani di lapangan,” ujar Henry Saragih.

 

Henry menilai, kebijakan pangan nasional perlu lebih berpihak kepada petani sebagai produsen utama pangan. Jika kesejahteraan petani tidak menjadi perhatian utama, maka hal itu berpotensi melemahkan kedaulatan pangan nasional.

 

Sementara itu, pengamat ekonomi politik Khudori menjelaskan bahwa kenaikan harga pangan selama bulan Ramadhan sebenarnya merupakan fenomena yang cukup wajar karena meningkatnya konsumsi masyarakat.

 

“Dari pengalaman dua puluh tahun terakhir, inflasi pada Ramadhan hampir selalu terjadi karena konsumsi meningkat. Karena itu, kebijakan stabilisasi pangan harus benar-benar memperhatikan aspek produksi, distribusi, dan cadangan pangan secara menyeluruh,” ucapnya.

 

Menurut Khudori, data resmi memang menunjukkan sejumlah komoditas pangan dalam kondisi surplus, seperti beras, jagung, bawang merah, cabai, telur, hingga gula pasir. Namun demikian, berbagai faktor risiko tetap perlu diantisipasi.

 

Ia menegaskan bahwa stabilitas harga pangan tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi juga pada kelancaran distribusi serta kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang