Guru Minim Ikuti Bimtek, Beban Kerja Overload dan Pelatihan Justru Menambah Tugas
NU Online Ā· Rabu, 26 November 2025 | 10:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti rendahnya partisipasi guru dalam pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek). Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengungkapkan bahwa faktor utama yang membuat guru enggan mengikuti bimtek bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena beban kerja yang sudah terlalu berat.
āRiset kami di tahun 2024, kami melihat beban kerjanya sudah terlalu tinggi. Kalau beban kerjanya sudah terlalu tinggi, bahkan overload, dia tidak akan konsentrasi untuk memahami pelatihan. Itu yang menjadi faktor utama guru minim yang ikut bimtek,ā ujar Iman kepada NU Online, Selasa (25/11/2025).
Baca Juga
11 Adab Guru Menurut Imam Al-Ghazali
Menurutnya, meskipun guru hadir dalam pelatihan, pikiran mereka sering kali terpecah oleh tugas-tugas lain. āAduh gimana ini menilai siswa belum beres, aduh belum laporan dan lain-lain,ā ucapnya.
Iman menjelaskan bahwa pelatihan yang seharusnya membantu justru sering memperburuk keadaan.
āSeringkali pelatihan itu sangat taktis. Ngomong sedikit, tau-tau RTL (Rencana Tindak Lanjut) disuruh dikasih tugas. Jadi, pelatihan itu malah menambah beban. Ini bukannya membuat guru paham, tapi malah menambah tugas baru,ā kritiknya.
Menurutnya, pelatihan idealnya menyediakan waktu untuk praktik, refleksi, dan penyelesaian tugas selama sesi berlangsung, bukan menambah pekerjaan administrasi baru yang harus dikumpulkan kemudian.
āBahkan guru yang ingin belajar pun tidak bisa belajar. Karena tadi dia tidak punya lagi kapasitas untuk memahami pelatihan,ā katanya.
P2G mengusulkan tiga hal yang perlu dilakukan pemerintah dalam memperbaiki sistem bimtek. Pertama, pelatihan perlu dihitung sebagai bagian dari beban kerja guru dalam konteks peningkatan kapasitas diri. Kedua, pemerintah dan sekolah harus memangkas beban administrasi yang selama ini mengganggu pembelajaran dan pelaksanaan pelatihan.
āBeri guru ruang untuk dia berfikir dan memahami secara mendalam. Lalu juga beri dia waktu untuk menerapkannya di sekolah,ā ujar Iman.
Baca Juga
Nasihat Ulama untuk Memuliakan Guru
Ketiga, memberikan ruang ekspresi dan sikap kritis bagi guru. Menurutnya, ada paradoks dalam sistem pendidikan saat ini.
āDi kurikulumnya kita ingin siswa kritis tapi gurunya tidak boleh kritis. Tapi kalau guru yang mengkritisi kebijakan sering kali justru dianggap mengganggu. Jangan ada guru yang kritis malah dijauhi atau diberikan hukuman. Bukannya kebijakannya yang didiskusikan tetapi malah gurunya yang dipanggil. Ini kan problem,ā tuturnya.
Iman menyampaikan bahwa melalui pelatihan atau bimtek menjadi proses perbaikan bagi guru. Karenanya, evaluasi dan koreksi tidak boleh membuat guru, sekolah, maupun dinas pendidikan tersinggung.
āSemua pihak harus membenah dirinya supaya (pelatihan atau bimtek) menjadi lebih baik,ā ucapnya.
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
3
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
4
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
5
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
6
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
Terkini
Lihat Semua