Nasional

Gus Kikin Ungkap Teladan KH Hasyim Asy’ari Kuasai dan Amalkan Ilmu Agama

NU Online  ·  Selasa, 6 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Gus Kikin Ungkap Teladan KH Hasyim Asy’ari Kuasai dan Amalkan Ilmu Agama

Ketum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz (Foto: instagram abdulhakimmahfudz)

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mengungkapkan keteladanan Hadratusyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari dalam menguasai sekaligus mengamalkan ilmu agama di tengah masyarakat.

 

Gus Kikin menyampaikannya saat membuka International Conference on Hadith Studies (MUTUN 2026) dan Annual Meeting ASILHA di Ma'had Aly Hasyim Asy'ari, Jombang, Jawa Timur, Senin (5/10/2026).

 

"Cerita mengenai Tebuireng, pondok yang didirikan oleh Hadratusyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari tahun 1899. Beliau bekal keilmuannya sangat mendalam," katanya.

 

Gus Kikin mengatakan Hadratusyekh memiliki penguasaan keilmuan agama yang luas. Menurutnya, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng tersebut tidak hanya menguasai Al-Qur'an, hadis, fikih, dan berbagai cabang ilmu agama, tetapi juga menerapkan ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat.

 

"Saya rasa penguasaan yang sangat luar biasa. Beliau tidak hanya menguasai, tetapi juga mengamalkannya," jelasnya.

 

Ia mencontohkan kiprah Hadratusyekh ketika kembali dari Makkah dan mendirikan Tebuireng. Di tengah kondisi Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan Belanda, Hadratusyekh disebut tidak hanya berfokus pada pendidikan pesantren, tetapi juga aktif membantu masyarakat meningkatkan kehidupan ekonomi melalui pertanian.

 

"Beliau ajarkan bagaimana bercocok tanam yang baik, meningkatkan ekonomi masyarakat, kemudian beliau ajarkan ilmu-ilmu agama dan kemudian mendirikan majelis taklim, kemudian pindah lagi ke tempat lain dan begitu seterusnya. Saya menemukan banyak sekali jejak-jejak seperti itu," jelasnya.

 

Gus Kikin menilai pola dakwah tersebut menunjukkan bahwa ilmu agama yang dimiliki Hadratusyekh selalu diikuti dengan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu tradisi yang masih ditemukan hingga kini, katanya, adalah pengajian kitab-kitab yang dahulu juga diajarkan oleh Kiai Hasyim.

 

"Kemudian ada satu orang yang menjawab, ini dulu yang memulai adalah Hadratusyekh. Jadi, sampai sekarang masih ada. Saya menyimpulkan, sampai di Bandung akhirnya kesimpulan bahwa beliau terus bergerak dan itu dilakukan setiap hari Selasa," jelasnya.

 

Ia juga menyebut adanya tradisi di Tebuireng yang mengosongkan kegiatan mengaji setiap Selasa. Menurut Gus Kikin, tradisi tersebut berkaitan dengan kebiasaan Hadratusyekh menggunakan hari Selasa untuk terjun dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

 

Menurutnya, keteladanan tersebut masih bisa dipraktikkan hingga saat ini. Melalui cara itu, kata Gus Kikin, ilmu dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan masyarakat dan membantu menyatukan berbagai kelompok di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

 

"Dan saat itulah yang dibutuhkan bangsa Indonesia, menyatukan bangsa ini yang terpecah-pecah, yang sendiri-sendiri merupakan kluster-kluster masyarakat akhirnya satu dengan yang lain tersambungkan dengan ilmu. Ilmu yang diajarkan Hadratusyekh," terangnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang