Gus Mus Ingatkan Inti Ajaran Tasawuf adalah Meneliti Cacat Diri, Bukan Mencari Hal Ghaib
NU Online · Ahad, 1 Maret 2026 | 20:00 WIB
Gus Mus dalam Pengajian Ramadhan mengulas Kitab Al-Hikam yang ditayangkan Youtube NU Online. (Foto: tangkapan layar)
Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan bahwa inti dari ajaran tasawuf adalah untuk meneliti dan memperbaiki cacat batin diri sendiri, bukan mengejar pengalaman-pengalaman ghaib.
Ia mengutip untaian hikmah Ibnu Athaillah, “Tasawufmu dalam mencari apa yang tersembunyi dan ghaib, itu lebih baik diarahkan untuk mencari cacat-cacat yang tersembunyi dalam dirimu sendiri.”
Menurutnya, tasawuf sering dipahami secara keliru sebagai upaya mengintip hal-hal ghaib. Gus Mus menggambarkan secara sederhana, tasawuf seperti orang yang berjinjit-jinjit ingin melihat sesuatu yang jauh—ingin mengetahui roh, ingin menyaksikan perkara yang tak tampak oleh mata awam.
“Seolah-olah orang ingin nginjen-nginjen, mengintip sesuatu yang jauh di sana,” ujar Gus Mus dalam pengajian Ramadhan yang membahas Kitab Al-Hikam, dan ditayangkan Youtube NU Online, diakses Ahad (1/3/2026).
Gus Mus mengingatkan bahwa yang lebih utama dari pengalaman tasawuf justru adalah meneliti ke dalam diri sendiri. Cacat-cacat batin yang tersembunyi: iri hati, mudah marah, gemar mencaci, dan berbagai penyakit hati lainnya. Itulah yang seharusnya menjadi fokus utama dalam perjalanan spiritual.
Ia menjelaskan, tidak sedikit orang yang memasuki jalan tarekat dengan harapan mendapatkan pengalaman musyahadah atau penyaksian spiritual atas hal-hal ghaib.
Mereka menempuh berbagai metode, memperbanyak wirid, puasa, dan latihan-latihan tertentu agar tersingkap sesuatu yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan.
“Menurut Ibnu Athaillah, itu bukan prioritas. Yang lebih penting adalah memeriksa diri sendiri: hatimu sudah bersih atau belum? Masih ada cacat apa saja? Itu yang harus dicari dan diperbaiki terus-menerus,” tegasnya.
Allah tidak pernah tertutup
Gus Mus juga mengutip pernyataan Ibnu Athaillah lainnya: “Al-Haqq (Allah Yang Mahabenar) itu tidaklah tertutup. Yang tertutup hanyalah engkau dari-Nya.”
Ia menjelaskan, Allah tidak pernah tertutup oleh apa pun. Jika seseorang merasa tidak dapat melihat kebenaran, bukan berarti Allah yang tertutup, melainkan dirinya sendiri yang terhalang.
“Kalau Allah bisa ditutupi sesuatu, berarti ada yang lebih kuat dari Allah. Itu mustahil. Semua yang ada adalah ciptaan-Nya. Tidak mungkin ciptaan menutupi Sang Pencipta,” terang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.
Jika Allah memiliki penutup atau batas, lanjut Gus Mus, maka itu berarti wujud-Nya terbatas. Padahal sesuatu yang membatasi berarti lebih berkuasa daripada yang dibatasi. Sementara Allah adalah Al-Qahir, Yang Maha Perkasa dan Maha Menguasai segala sesuatu.
“Siapa yang bisa membatasi Allah? Presiden, raja, siapa pun, semuanya tunduk pada kehendak Allah,” katanya.
Terpopuler
1
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
2
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
5
Kultum Ramadhan: Keutamaan Tarawih dan Witir
6
Khutbah Jumat: 4 Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Ibadah
Terkini
Lihat Semua