Gus Mus Ingatkan Umat Islam agar Keluar dari Sifat yang Bertentangan dengan Kehambaan
NU Online · Ahad, 1 Maret 2026 | 23:45 WIB
Gus Mus dalam Pengajian Ramadhan mengulas Kitab Al-Hikam yang ditayangkan Youtube NU Online. (Foto: tangkapan layar)
Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan umat Islam agar dapat keluar dari sifat-sifat kemanusiaan yang bertentangan dengan hakikat kehambaan kepada Allah.
Gus Mus mengutip petuah sufi besar Ibnu Athaillah bahwa manusia diciptakan untuk menghamba dan beribadah kepada Allah. Ia menegaskan bahwa jin dan manusia memang diciptakan semata-mata untuk tujuan tersebut.
“Di hadapan Allah, kita ini hamba. Itu hakikat kita,” ujar Gus Mus dalam Pengajian Ramadhan yang membahas Kitab Al-Hikam ditayangkan Youtube NU Online, diakses Ahad (1/3/2026).
Manusia di antara malaikat dan setan
Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu menjelaskan, manusia adalah makhluk istimewa karena diberi akal dan hati.
Gus Mus menjelaskan, malaikat tidak memiliki nafsu buruk dan selalu taat. Sebaliknya, setan tidak memiliki sisi baik. Sementara manusia memiliki potensi keduanya.
“Manusia bisa seperti malaikat, bisa juga seperti setan. Tergantung bagaimana ia menggunakan akal dan hatinya,” jelasnya.
Baca Juga
Gus Mus Jelaskan Ciri-ciri Wali
Jika potensi kebaikan diabaikan, kata Gus Mus, manusia bisa terjerumus dan dekat dengan sifat-sifat setan.
Dua dimensi manusia
Lebih jauh, Gus Mus menerangkan bahwa manusia memiliki dua dimensi sekaligus: sebagai hamba dan sebagai khalifah di bumi.
Di satu sisi, manusia diberi amanah sebagai pengelola dan pemimpin di muka bumi. Namun di sisi lain, ia tetaplah hamba yang wajib tunduk dan menyembah Allah.
Persoalan muncul ketika sifat kekhalifahan—keinginan berkuasa, merasa lebih unggul, ingin menang sendiri, dan sombong—menjadi dominan. Sifat-sifat tersebut justru bertentangan dengan ubudiyah yang menuntut kerendahan hati, kekhusyukan, dan kepasrahan.
“Kadang kita lebih ingat bahwa kita khalifah, tapi lupa bahwa kita hamba,” tuturnya.
Kembali kepada jati diri sebagai hamba
Gus Mus mengutip nasihat Ibnu Athaillah agar manusia keluar dari sifat-sifat basyariah yang bertentangan dengan ubudiyah. Menurutnya, hal itu merupakan ajakan untuk kembali kepada jati diri.
Sifat sombong, ambisi berlebihan untuk berkuasa, dan keinginan mengalahkan orang lain harus ditinggalkan. Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah menyambut perintah Allah dan tidak menentangnya.
Ia menambahkan, banyak kemaksiatan terjadi karena manusia lupa pada kehambaannya. Kesadaran sebagai hamba akan menuntun seseorang pada ketaatan dan kedekatan dengan Allah.
“Kalau kita benar-benar sadar sebagai hamba Allah, kita akan lebih mudah taat dan lebih dekat kepada-Nya. Itulah yang diinginkan orang-orang beriman,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
PBNU Terima Kunjungan BTN dan BSN, Bahas Akses KPR Subsidi bagi Warga NU
Terkini
Lihat Semua