Gus Mus: Tarekat adalah Jalan Menuju Allah, Bukan Sekadar Ritual
NU Online · Jumat, 27 Februari 2026 | 09:00 WIB
Gus Mus saat mengampu Pengajian Ramadhan mengulas Kitab Al-Hikam yang disiarkan melalui Kanal Youtube NU Online. (Foto: tangkapan layar)
Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menegaskan bahwa tarekat dalam tradisi tasawuf bukanlah sekadar rangkaian ritual lahiriah, melainkan metode spiritual untuk benar-benar sampai kepada Allah.
Menurutnya, orang yang memasuki tarekat sesungguhnya sedang menempuh jalan menuju cita-cita tertinggi, yakni kedekatan dengan Allah. Metodenya beragam, ada yang memperbanyak zikir dengan jumlah tertentu dan terus ditingkatkan.
“Ada pula yang menempuh bimbingan seorang mursyid yang menuntun perjalanan rohani muridnya,” kata Gus Mus dalam Pengajian Ramadhan ditayangkan Youtube NU Online, diakses pada Kamis (26/2/2026).
Niat dan rahasia batin
Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa niat merupakan bagian dari rahasia batin (sarair) yang tidak diketahui siapa pun selain Allah. Lafal nawaitu sebelum shalat atau puasa, jelasnya, bukanlah niat itu sendiri, melainkan sarana untuk membantu hati menghadirkan niat.
“Niat itu tempatnya di dalam hati. Lafal hanya membantu supaya hati mantap,” jelasnya.
Karena itu, orang-orang tasawuf sangat menjaga rahasia batin tersebut. Ilmu batin harus berjalan seiring dengan tuntunan lahiriah (syariat). Jika tidak, seseorang bisa terjebak pada kebatinan semata tanpa pegangan yang benar.
Ia juga menyinggung soal keikhlasan. Menurutnya, keikhlasan tidak perlu diumumkan.
“Mengatakan ‘saya ikhlas’ itu baru ucapan. Ikhlas itu di dalam hati dan hanya Allah yang mengetahui,” ungkapnya dalam pengajian yang mengulas Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah itu.
Gus Mus menerangkan bahwa dalam tradisi sufistik dikenal istilah syahadah, yakni penyaksian atas sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.
“Apa yang disimpan dalam rahasia hati memang tidak tampak sekarang, tetapi nanti akan terlihat dalam kenyataan lahiriah,” ujarnya.
Mencari petunjuk dengan Allah
Gus Mus menjelaskan perbedaan mendasar antara mencari petunjuk dengan Allah dan mencari petunjuk atas Allah.
Orang yang mencari petunjuk dengan Allah adalah menjadikan Allah sebagai sandaran dalam memahami segala sesuatu. Orang tersebut mengenal kebenaran yang hakiki dan menetapkan segala perkara berdasarkan kesadaran akan kehadiran Allah.
Sebaliknya, orang yang mencari petunjuk atas Allah seakan menjadikan Allah sebagai objek pembuktian. Orang tersebut masih membutuhkan dalil untuk membuktikan keberadaan-Nya, yang menunjukkan bahwa ia belum sampai pada pengenalan sejati.
“Ada perbedaan besar antara orang yang menjadikan Allah sebagai sumber petunjuk dan orang yang masih mencari-cari bukti untuk menemukan Allah,” ungkapnya.
Menurut Gus Mus, jika Allah benar-benar dianggap gaib dalam arti tidak hadir, lalu bagaimana mungkin segala sesuatu dapat menunjukkan kepada-Nya?
Tipe yang pertama, kata Gus Mus, telah sampai pada kesadaran akan kehadiran Allah. Adapun tipe yang kedua masih berada dalam proses pencarian.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua