Gus Ulil Paparkan Empat Filter Spiritual Agar Harta Tak Jadi Musibah
NU Online · Jumat, 27 Februari 2026 | 20:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Gus Ulil Abshar Abdalla, menyampaikan empat filter spiritual agar harta tidak berubah menjadi musibah atau “racun” bagi pemiliknya. Hal itu ia sampaikan dalam pengajian Ramadan kitab Ihya’ Ulumiddin yang ditayangkan melalui kanal YouTube Ghazalia College, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, di era modern banyak orang menumpuk kekayaan tanpa kendali spiritual. Padahal, tanpa kesadaran batin, harta justru dapat mencelakakan.
“Dunia ini harus disikapi dengan hati-hati. Tanpa kesadaran spiritual, harta akan memakan pemiliknya sendiri,” ujarnya.
Ia mengibaratkan harta seperti ular. Di tangan pawang yang ahli, bisa ular dapat diolah menjadi obat (tiryaq). Namun bagi yang lengah, bisa tersebut justru membinasakan.
“Harta itu seperti ular. Di tangan orang yang paham, ia menjadi manfaat. Tapi bagi yang lalai, ia bisa membunuh dari arah yang tidak disadari,” tegasnya.
Gus Ulil kemudian memaparkan empat filter agar harta tetap menjadi berkah.
Pertama, memahami tujuan hakiki harta. Menurutnya, harta bukan tujuan akhir kehidupan, melainkan sarana untuk menopang kebutuhan agar manusia dapat beribadah dengan tenang.
“Kesalahan mendasar manusia adalah menjadikan harta sebagai tujuan akhir, padahal ia hanya sarana,” jelasnya.
Kedua, audit ketat sumber pendapatan. Ia menekankan pentingnya memastikan legalitas dan moralitas sumber penghasilan (dakhl). Harta yang berasal dari eksploitasi, pemerasan, gratifikasi, atau suap (riswah) harus dihindari karena dapat mengotori hati.
“Harta yang meragukan harus dijauhi. Kekuasaan sering kali membuat orang rentan pada harta kotor,” ujarnya.
Ketiga, ukuran yang proporsional. Gus Ulil mengingatkan pentingnya berpegang pada konsep qadrul hajah atau kadar kebutuhan pokok. Kebutuhan dasar manusia meliputi pangan, sandang, dan papan, dengan tingkatan minimal hingga tinggi.
“Kita ini pejalan menuju akhirat. Bawaan yang terlalu banyak hanya akan merepotkan. Jadilah mukhiffan, orang yang ringan beban hartanya agar perjalanan lancar,” tuturnya.
Keempat, menjaga marwah (muru’ah). Ia menegaskan bahwa cara mencari harta tidak boleh merendahkan martabat, seperti meminta-minta secara menghinakan diri atau menerima gratifikasi yang menyerupai suap.
Menurutnya, jika kebutuhan pokok telah terpenuhi, kelebihan harta sebaiknya dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama.
“Jika kebutuhan pokok sudah terpenuhi, sisa harta itu ibarat air di sungai besar. Tidak perlu pelit, karena itu bisa menjadi kemanfaatan bagi banyak orang,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua