Nasional

Hari Kartini, Sejumlah Perempuan Sampaikan Harapan hingga Soroti Tantangan Dunia Kerja

NU Online  ·  Selasa, 21 April 2026 | 22:00 WIB

Hari Kartini, Sejumlah Perempuan Sampaikan Harapan hingga Soroti Tantangan Dunia Kerja

Atik, pegawai BUMN, saat ditemui NU Online di Monas, pada peringatan Hari Kartini, 21 April 2026. (Foto: NU Online/Ilham)

Jakarta, NU Online

Sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang dan profesi menyampaikan harapannya dalam Peringatan Hari Kartini, di kawasan Monumen Nasional (Monas), pada Selasa (21/4/2026).


Salah satu pengunjung Monas yang ditemui NU Online, Atik (46), seorang perempuan pegawai BUMN yang ditemui NU Online, memaknai Peringatan Hari Kartini dengan mencontoh semangat atau menjadikan RA Kartini sebagai motivasi baginya di lingkungan kerja.


Menurutnya, menjadi perempuan bukanlah hal mudah. Meskipun sudah berusaha dan hampir berhasil, terkadang harus mundur. Namun, hal itu bukan alasan untuk berhenti, melainkan tetap maju dan mencoba lagi.


"Nilai-nilai yang dapat diambil seperti moto beliau, habis gelap, terbitlah terang. Jangan menyerah kalau belum mencoba. Kadang kita sudah mencoba di tengah jalan, tapi gagal. Padahal harusnya maju melangkah, mudah-mudahan ke depannya ada perubahan," ujarnya.


Atik berharap, perempuan Indonesia mendapat lebih banyak kesempatan kerja. Menurutnya, kemampuan perempuan tidak kalah dari laki-laki dan bahkan bisa melakukan banyak hal sekaligus. Ia pun berpesan agar generasi muda tetap kuat dan tidak mudah menyerah, seperti semangat RA Kartini.

Sementara itu, Suster Bonifasia, Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC) menyebut bahwa RA Kartini menjadi sosok teladan yang berani berpendapat.


“Kartini menginspirasi untuk menjadi perempuan yang berani dalam menyuarakan hak dan kewajiban kita sebagai perempuan,” ujarnya.


Ia menilai kepribadian yang mandiri, bijaksana,
dan selalu memberikan yang terbaik terlebih bagi diri sendiri, keluarga, komunitas, serta untuk bangsa dan negara, tidak terlepas dari motivasi Kartini.


Menurutnya, setiap perempuan bisa menjadi “Kartini” di zamannya. Sebuah pengingat bahwa perempuan bisa berperan dengan kemampuan yang dimiliki sekarang.


Ia juga mengatakan perempuan masih sering dipandang sebelah mata dan dianggap lebih lemah dari laki-laki. Tapi, perempuan tetap bisa jadi kuat, tangguh, dan kreatif, seperti semangat RA Kartini.


Sejalan dengan itu, pengunjung lain asal Lampung, Widya (29), menyampaikan bahwa RA Kartini adalah tokoh perempuan Indonesia yang memperjuangkan hak terkhusus pendidikan. Ia menekankan arti kemandirian bagi perempuan dan berbagai tantangan yang mungkin dihadapi.


"Jadi perempuan harus mandiri, terlebih tidak semua beruntung atau faktor ekonomi, kemudian itu yang menjadikan kita tidak sekedar hanya memperingati hari Kartini dengan berkebaya saja," ujarnya.


Ia menambahkan, untuk tidak lupa akan identitas sebagai perempuan Indonesia dan bisa saja dengan berkebaya, sudah sepatutnya untuk melestarikan budaya pula. Lebih lanjut ia menyebut, tantangan hari ini ialah minimnya literasi.


"Jika hari ini perempuan tidak mau membaca, Kartini tidak akan membersamai kita. Setidaknya punya semangat dalam belajar, hari ini sudah merdeka, kita punya ruang pendidikan yang men-support, untuk mendapat pendidikan tinggi di Indonesia," tambahnya.


Ia berharap, tumbuh Kartini-Kartini muda yang berani, semangat berkarya, dan tentunya untuk kembali mendapatkan hak-hak perempuan ke depannya.


Kontributor: Nisfatul Laila

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang