Nasional

Jaga Konsistensi di Tengah Pasang Surutnya Iman dengan Konsep Wasatiah dalam Beribadah

NU Online  ·  Rabu, 25 Februari 2026 | 11:00 WIB

Jaga Konsistensi di Tengah Pasang Surutnya Iman dengan Konsep Wasatiah dalam Beribadah

Pakar Tafsir Prof M Quraish Shihab. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube Pusat Studi Quran)

Jakarta, NU Online

Pakar Tafsir Prof M Quraish Shihab mengatakan bahwa fenomena naik turunnya semangat beribadah merupakan hal manusiawi yang dialami oleh setiap individu, termasuk para ulama.


Prof Quraish menjabarkan faktor penyebab yang memengaruhi semangat ibadah antara lain adalah kepribadian, keluarga, lingkungan masyarakat, hingga tingkat pengetahuan seseorang terhadap kitab suci.


Menurutnya, iman seseorang tidak pernah berada pada titik statis. Ia mengibaratkan perjalanan iman seperti sebuah grafik yang memiliki sepuluh tingkatan.


“Kita harus tahu bagaimana cara kita naik. Jangan sampai kita tidak sadar, lalu akhirnya jatuh ke tingkat yang paling bawah. Ketahuilah faktor-faktor yang mendorong kita ke atas dan apa yang menarik kita ke bawah,” ujarnya dalam Pengajian Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an yang bertanjuk Naik Turun Semangat Beribadah dalam kanal Youtube Pusat Studi Al-Qur’an pada Selasa (24/2/2026).


Prof Quraish mencontohkan bagaimana lingkungan sangat memengaruhi perilaku beragama, seperti semangat beribadah saat berada di Makkah yang cenderung lebih tinggi dibandingkan saat kembali ke lingkungan rumah sehari-hari.


“Orang kalau pergi ke Makkah, itu shalat Subuhnya, sebelum Subuh sudah ke masjid, tidak telat, terus baca ayatnya panjang-panjang. Tapi kalau sudah di sini (rumah) sudah berubah. Kenapa itu? Karena lingkungan yang mempengaruhinya,” tuturnya.


Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) tersebut menekankan bahwa satu konsep yang harus ditekankan untuk menjaga stabilitas ibadah adalah wasathiyyah atau moderasi.


Merujuk pada Al-Qur’an Surah Hud ayat 112, dia menjelaskan bahwa perintah untuk konsisten (istiqamah) harus dijalankan tanpa melampaui batas.


“Beribadah secara berlebihan hingga memaksakan diri justru berisiko memicu kelelahan mental yang dapat berujung pada penghentian aktivitas ibadah secara total,” katanya.


Prof Quraish mengibaratkan konsistensi beragama seperti latihan fisik. Lebih baik melakukan hal kecil secara rutin daripada melakukan hal besar namun hanya sekali.


“Jangan melampaui batas dalam berlebihan, tapi jangan pula meninggalkan. Beragama itu seperti latihan fisik, pembiasaan itulah yang akan memudahkan segalanya,” ucapnya.


Prof Quraish berpesan agar setiap individu tidak memaksakan diri secara berlebihan hingga mengecam diri sendiri jika gagal memenuhi target tertentu.


Dia menambahkan, mulailah bersahabat dengan diri sendiri seperti berdoa setelah bangun tidur dan melakukan shalat Subuh tanpa harus memaksakan wirid yang sangat panjang jika sedang lelah.


“Pembiasaan itulah yang meningkatkan kualitas, karena jika sudah terbiasa, semuanya akan terasa mudah. Namun satu yang diingatkan, jangan paksakan diri. Bersahabatlah dengan diri Anda,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang